Siang itu, bel pulang sekolah menggema, melepas kerumunan siswa yang berhamburan keluar gerbang.
Di antara lautan siswa, Iel melangkah seorang diri, wajahnya datar tapi sorot matanya menyimpan letih. Di kejauhan, sosok yang tak asing akhirnya menampakkan diri-Regan. Kehadirannya bagai bayangan yang selama ini menunggu di tikungan, muncul di saat Iel nyaris kehilangan arah.
Regan menyeret hingga membawa keduanya sampai ke halaman belakang sekolah, ia mendorong bahu Iel kasar, membuat tubuh yang lebih kecil itu terhuyung. "Jangan banyak gaya, bocah. Lo pikir bisa kabur semudah itu?"
Iel mendongak, wajahnya penuh amarah tapi ketakutan menahan lidahnya.
Tak disangka, dari arah berlawanan, Suara langkah kaki yang mantap terdengar-Danes datang dengan wajahnya yang keras menahan bara. "Urusan lo sama gue, Regan."
Regan menoleh, terkekeh pendek.
"Wah, wah... Akhirnya umpan gue ke makan."
Tanpa perlu menimpali omong kosong Regan. Danes maju dengan cepat, tangannya meluncur, menghantam rahang Regan dengan kepalan keras. Suara benturan tulang menggema. Regan terhuyung, menerima sengatan ngilu yang tajam. Ia bangkit dengan tawa getir, membalas dengan tendangan ke arah perut Danes. Danes mundur satu langkah, menahan sakit, tapi matanya tak goyah memperlihatkan dendam.
Pertarungan liar pecah. Tinju keduanya beradu, tubuh saling banting, debu tanah berhamburan di kaki mereka. Iel terjepit tak jauh disituasi rumit itu, tubuh ya gemetar menatap dua sosok yang sama-sama berwatak api.
____
Lampu-lampu hangat di restoran memantul di kaca jendela, menciptakan bayangan lembut di atas meja yang mereka duduki. Adma menyisir rambutnya ke belakang sambil menatap menu sebentar, kemudian menoleh ke Bian yang duduk di seberangnya. Bian memainkan pegangan botol tumblr nya, sesekali melirik ke luar jendela, pikirannya tampak melayang jauh.
Tepat di jam pulang sekolah, Bian sudah menemukan presensi Adma berdiri di lobby sekolahnya. Masih lengkap dengan seragam, Adma mengajak Bian untuk menghabiskan waktu sore di restoran yang biasanya keluarga mereka kunjungi. Ini bentuk rasa bersalah Adma karena beberapa hari terakhir menghindar dari semua orang, termasuk adiknya ini.
"Bian, bentar lagi kan tahun baru," Adma memulai setelah pelayan melenggang pergi untuk memproses pesanan mereka. nada suara Adma ringan tapi ada sesuatu yang terselip, sedikit rasa ingin coba kembali dekat. "Lo udah kepikiran mau ngapain? Liburan, atau cuma di rumah aja?"
Bian melirik Adma sebelum buru-buru mengalihkan pandangan dari netra gelap itu, jari-jarinya memainkan mengetuk kecil botol tumblr, seolah mencari kata yang pas. "Kayanya aku ngerasa cukup rayain bareng kalian aja di rumah Kasa," ucapnya, terdengar lirih tapi hangat.
"Nggak perlu repot, makan malam bersama sebelum jam pergantian tahun terus kita nonton kembang api-Oh! Begadang nonton series lagi kayak waktu itu menarik juga. Asal sama kalian udah cukup kok." Lanjut Bian.
Adma tak sekalipun melepas pandang dari Bian, senyum tipis terbit, menangkap makna ucapan Bian, di balik jawaban sederhana itu, ada sedikit kesepian yang ia sembunyikan.
"Kalau harapan buat tahun depan, apa?" Adma dengan cepat mengalihkan, senyum dengan lesung pipi itu terlihat hangat untuk di tatap. Bian diam, menerawang jauh ke masa depan.
"Sehat, dan bareng penghuni rumah Kasa selalu sampai seterusnya." Adma terkekeh sebentar,
"Kok ayah bunda ga diselipin?"
KAMU SEDANG MEMBACA
OBLIVION
Fiksi PenggemarTujuh kepala yang tinggal di dalam satu atap, saudara satu kakek tapi asing satu sama lain. Bagaimana mau hidup bersama jika terus saling tidak peduli? Rumah perlahan-lahan menjadi sesuatu yang memuakkan hanya dalam tiga bulan. Ingin pulang tapi ti...
