Kepingan [28]

196 24 15
                                        

Esa terbangun dari tidur ketika mendengar suara disekitarnya. Tak lama ia bangkit untuk duduk, meregangkan otot-otot tubuhnya yang kaku karena meringkuk di sofa. Ternyata itu suara perawat yang sedang berbicara dengan Aray mengenai kondisinya pagi ini.

Belum sempat Esa menguping, rupanya perawat tersebut sudah selesai menjelaskan dan pamit untuk pergi. Esa berniat beranjak dari sofa dan duduk di kursi sebelah ranjang rumah sakit Aray, namun dering ponselnya terdengar membuat Esa mengurungkan niatnya. Panggilan dari Adma yang ke sebelas kali. Esa mengernyit heran, lalu Aray menimpali.

"Dari tadi ponsel lo bunyi, gue jadi kebangun. Siapa sih?"

"Adma, bentar ya." Esa ingin izin untuk pergi keluar kamar tapi Aray lebih dulu mencegah dan meminta Esa untuk menerima panggilan itu dihadapannya.

Esa menurut, "Halo?" Deru napas kasar terdengar dari seberang sana. "Adma, Kenapa?" Nada khawatir terdengar dibalik tanya yang Esa lempar.

"Kak, Bian gak ada di kamarnya. Danes, Iel, semuanya.. gue gak nemuin mereka dimana-mana. Gue sendirian di rumah Kasa.." di ujung kalimatnya, isak Adma terdengar.

"Gak ada gimana?" Esa melepas ponsel dari telinganya untuk melihat jam di layar ponsel lalu kembali menempelkannya. Pukul 6 lewat lima belas menit.
"Mungkin mereka udah berangkat ke sekolah-"

"Engga! Gue udah cari mereka dari setengah enam. Kak, mereka ga beneran pergi dari rumah Kasa, kan?" Suara Adma terdengar gelisah setengah mati, getarnya tidak dapat disembunyikan.

"Adma, tenang dulu. Barang mereka ada yang hilang? Seragam sekolah-"

"Iya! Isi lemari baju mereka kelihatan berkurang! Seragam.. seragam mereka juga gaada, kemana? Mereka kemana, kak?"

Esa melihat sekilas wajah Aray dihadapannya yang tampak ingin tahu sekaligus khawatir. "Adma, tenang ya? Gue pulang sekarang. Gue telepon Anilas buat pulang juga."

"Udah kak! Gue udah coba telepon bang Anilas, tapi ga diangkat. Bahkan berdering aja engga, bang Anilas hilang, gak ada kabar!"

Esa tertegun, lidahnya kelu. Anilas menghilang, tidak ada kabar. Tadi malam Esa masih bersamanya, berbicara dengannya, menatap perasaan terluka Anilas tanpa mencoba untuk membantu menguranginya. Suara panik Adma di seberang sana tiba-tiba saja seperti menjauh, Esa tak fokus, panggilan Aray menggema namun Esa seakan larut dalam pikirannya.

Esa merasa sangat kecil di dalam ruang rawat Aray, pening merambat cepat dikepalannya. Aray bangkit menjadi duduk tegang dari posisi setengah berbaringnya, dengan cepat mengambil alih ponsel Esa-melupakan rasa ngilu tajam dari jahitan luka tusuknya kemarin sore.

"Adma, ini Aray. Ada apa?"

"Danes sama Iel kabur dari rumah, Bian juga ikut sama mereka, bang Anilas gak ada kabar!" Napas Aray rasanya seperti terhenti di tengah kerongkongan. Matanya tak lepas melihat reaksi shock Esa.

"Oke oke, pertama tenangin diri lo dulu ya, nanti Esa kabarin lagi. Adma.. jangan bilang soal ini ke siapapun, termasuk orang tua kita, ya?" Panggilan selesai begitu Adma menyetujui pinta Aray.

Aray menaruh ponsel Esa begitu saja diatas kasur, lalu mencoba mengembalikan kesadaran Esa yang masih tak bergeming dengan memegang kedua pundaknya.

"Esa! Tarik dan keluarin napas lo pelan-pelan, oke?" Esa mencoba melakukan perintah Aray, dadanya naik-turun terburu-buru dan berubah stabil.

Fokus mata Esa mulai menatap kembali Aray yang khawatir, "Kita cari bareng-bareng mereka, tapi lo harus tenang ya?" Esa mengangguk patah-patah.

"Esa.. dengerin gue. Kali ini lo bisa tebus segala penyesalan yang mungkin lo tutupi dari kita semua, dengan cara bantu gue cari mereka dan selesain masalah kita satu persatu. Gue percaya sama lo, lo percaya kan sama gue?"

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jul 05 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

OBLIVIONCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang