bab 39

1.5K 40 0
                                        

Happy Reading
.
.
.

"Permisi" ucap Oliv masuk ke dalam ruangan Veli

Hening, suara Oliv bagai terbawa angin dan menghilang. Oliv melihat Veli, Veli yang sama yang sudah 2 minggu tertidur di bankar. Oliv mendekat lalu duduk di kursi sebelah Veli

"Lo lagi ngapain disana ci?" tanya Oliv pelan lalu mengenggam tangan Veli

"Leci ..."

"Vel, denger? Gue manggil lo Leci lagi!" antusias Oliv lalu kembali diam

"Dulu kita deket banget kayak prangko terus gue buat kesalahan fatal sampai lo sakit dan sekarang, gue malah buat lo sakit lagi ..." ucap Oliv menatap wajah damai Veli

Oliv menyentuh wajah Veli mengelusnya pelan dan tanpa sadar air mata jatuh di pipinya. Oliv menangis

"Kenapa lo mempertaruhkan nyawa lo buat gue? Gue ada kebaikan apa sama lo ci? Gaada" ucap Oliv sendu dan terisak

"Gue gatau kalo lo bisa nangis?" ucap seseorang di pintu yang mengejutkan Oliv

Oliv menoleh karena terkejut lalu menyeka air matanya dengan tangan. Oliv bangun menghampiri pria itu lalu menamparnya

Suara tamparan yang keras hingga menggema di ruangan. Kevan memegang pipinya yang panas karena tamparan Oliv lalu menatap Oliv

"Lo ngapain nampar gue? Gue ada salah sama lo?" tanya Kevan yang membuat Oliv naik pitam

"Lo kemarin mau bunuh gue kan? Tapi gagal karena Veli nyelametin gue, iya kan?!" tanya Oliv menarik kerah baju Kevan

Kevan terkekeh kecil " lo gila? Lo punya bukti apa kalo gue yang nabrak Veli?" jawab dan tanya Kevan

"Najis denger omongan lo, gue hafal mobil lo dan plat lo!" jawab Oliv yang membuat Kevan kembali tertawa kecil

"Terus lo mau apa? Ngadu? Tapi ga bakalan ada yang percaya liv, karena apa? Ya karena lo adalah orang yang paling benci Veli!" ucap Kevan maju dan melihat Veli

"Veli... andai aja lo ga bikin Nasya sedih, lo bakalan hidup tenang" ucap Kevan lalu melepas Ventilator yang Veli pakai.

Tubuh Veli menegang dengan nafas yang tersengkal-sengkal karena kehabisan nafas. Di balik itu Kevan terkekeh kecil senang.

"Gila lo!"

Oliv mendorong Kevan hingga terjatuh lalu memasangkan Ventilator itu kembali ke Veli. Ia mengecek keadaan Veli lalu menatap Kevan tajam.

"Lo orang gila yang di butain cinta! Nasya kasih lo apa sampe lo nurut gini? Keperawanannya?" tanya Oliv yang membuat suasana semakin panas

"Oliv!!" ucap Kevan keras dan menggema

"Wah ternyata bener, lo birahi apa gimana? Sampe mau-maunya sama cewek yang gatau pas lo pake masih perawan apa en-"

Belum selesai Oliv bicara, Kevan sudah menampar wajah Oliv keras hingga sudut bibirnya berdarah "jaga mulut lo sebelum lo gue bikin mati!"

Kevan pergi meninggalkan ruangan, membiarkan Oliv yang menangis karena rasa sakit tamparan Kevan.

Oliv terjatuh ke lantai lalu menggenggan tangan Veli menangis "ci, gue gatau harus gimana lagi... gue takut..."

"Kemarin sebelum lo kecelakaan gue mau ngasih tau kebusukan mereka tapi ci... lo malah liat wajah gue" ucap Oliv tertahan

"Gue malu ci... gue malu" lanjut Oliv terisak

Isakan tangis yang tertahan karena rasa sakit yang begitu dalam, Oliv diam sebentar mengatur nafasnya yang ter engah-engah

"Dulu gue mau buat lo hancur tapi lihat ci? Gue sekarang yang hancur... semuanya hancur bahkan..."

"Bahkan keluarga gue mereka ga nerima gue lagi"

Oliv berhenti bicara, ia menangis pilu dan terisak mengeluarkan semua rasa sakit yang ia pendam selama ini.

Keluarga, karir dan pasangan meninggalkannya tapi bisakah ia, Chelseea Olivia Bagaskara mengharapkan kasih sayang sahabatnya lagi?

Ruangan sunyi itu sekarang di isi isak tangis dari seseorang yang kehilangan arah dan cinta. Oliv terus menangis, dadanya sesak tapi apa yang bisa ia lakukan?

Namun tangisan Oliv berhenti sesaat setelah ia merasakan bahwa tangannya di genggam oleh Veli. Oliv bangun lalu matanya menatap mata Veli.

Mata yang kini hidup tidak menutup.

"Veli!" teriak Oliv lalu menekan tombol untuk memanggil dokter

"Ci lo udah sadar, haha gue seneng banget" ucap Oliv menyeka air matanya lalu mencium tangan Veli berkali-kali

"Diem jangan ngomong oke" ucap Oliv setelah melihat Veli yang berusaha berbicara

Dokter datang dengan suster serta Mama Windi di belakangnya yang masih mengenakan seragam dokter.

"Veli sudah sadar?" tanya Mama Windi menghampiri Oliv dan melihat Veli

Mama Windi memeluk Oliv karena senang sedangkan Oliv, ia terkejut sampai tidak mampu membalas pelukan mama Windi.

Veli yang melihat Oliv tersenyum kecil dan membiarkan Dokter memeriksanya. Dokter memeriksa denyut jantung dan nadi Veli lalu mata dan lain-lain.

Dokter melepaskan alat-alat yang di tubuh Veli, Ventilator dan lain-lain di bantu suster. Sekarang Veli sudah seperti pasien biasa tanpa alat untuk membantunya hidup.

"Syukurlah bu, anak anda sudah keluar dari koma dan masa kritisnya" ucap Dokter itu tersenyum lalu pamit pergi

Mama Windi menggandeng tangan Oliv untuk mendekat ke arah Veli.

"Sayang, mama kangen sama kamu" ucap Mama windi lalu memeluk Veli pelan dan mencium keningnya

"Veli juga kangen sama mama" balas Veli pelan

Mama Windi menyeka air matanya lalu menjewer pelan telinga Veli "kamu selalu aja bikin mama khawatir, besok kamu mama kurung aja di rumah"

Veli cemberut dan saat ingin bicara, mama Windi sudah menaruh jari telunjuknya di bibirnya, mengisyaratkan untuk diam.

Oliv tertawa kecil lalu matanya bertemu mata Veli, Veli tersenyum ke arah Oliv dan tangannya bergerak menyuruh Oliv mendekat.

"Oliv, Veli mau ngobrol kayaknya sama kamu... tante tinggal ya masih ada pasien sebentar lagi juga Paman Al sama Ernald datang" ucap Mama Windi lalu pergi dengan buru-buru

"Mama kamu sibuk ya tapi masih nomor satukan kamu" ucap Oliv menatap pintu yang tertutup lalu kembali menatap Veli

"Pantes kamu bahagia" lanjut Oliv dengan senyuman sendu

"Lo kenapa tadi nangis?" tanya Veli pelan

Oliv duduk di kursi lalu menggenggam tangan Veli "gapapa vel, gue cuma sedih karena lo ga bangun-bangun itu aja" jawab Oliv yang tampaknya tidak membuat Veli puas

"Lo bohong" ucap Veli

"Gue ga bohong ci, serius deh" balas Oliv dengan tersenyum lebar

"Bibir lo kenapa?" tanya Veli yang membuat Oliv terkejut

Oliv mengalihkan pandangan lalu menyentuh sudut bibirnya lalu tersenyum kecil "tadi kesandung terus kena sudut bibir deh"

Veli menyeringitkan alisnya tidak puas dengan jawaban Oliv, ia menghela nafas pelan "boleh minta tolong ambilin aku minum?" tanyanya yang di angguki Oliv

Oliv mengambilkan Veli air lalu membantunya Minum.

Next?

Protagonis < FiguranTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang