Happy Reading
.
.
.
Veli sudah boleh pulang, kondisinya sudah membaik walau masih tampak bekas jahitan di kening dan beberapa di kaki dan tangan.
"Ayo kak, cepetan"
Veli dengan malas dan jengkel menatap Ernald yang masih memasukkan buku dengan pelan ke koper
"Kak, ayo dong... papa udah nungguin itu di mobil" ajak Veli lagi membaringkan tubuhnya di sofa
"Buku itu jendela dunia, gimana bisa kakak masukin buku sembarangan... kalo dunia kakak jelek gimana?" balas dan tanya Ernald
Veli memutar matanya malas "kayaknya cuma kakak deh yang gila buku di antara saudara yang lain"
Ernald tidak menjawab ucapan Veli, dia sibuk mengelus-elus bukunya lalu menyimpannya perlahan. Dan itu semakin membuat Veli kesal.
"Ah! Terserah kakak deh, aku duluan" ucap Veli lalu bangun dan menyeret kopernya keluar
Ernald kaget dengan kepergian Veli, dia dengan cepat memasukkan buku-buku miliknya seraya mengucapkan kata maaf.
Gila emang.
"Gaada satu pun di novel ini yang normal, kenapa coba gue selalu dalam lingkup orang gila" oceh Veli sepanjang lorong rumah sakit
"Ini juga, kenapa gue kagak mati-mati... udah koma beberapa kali, di tabrak juga udah... masih aja hidup"
"Jangan-jangan" Veli berhenti di jalan "gue punya sembilan nyawa?" tanyanya pelan lalu terkekeh kecil
"Sejenis kucing dong"
Veli berhenti terkekeh lalu menoleh ke asal suara, mata hijaunya membulat lebar.
"Rendi!"
Veli melepas kopernya lalu memeluk Rendi dengan sangat erat "gue kangen banget sama lo,"
Rendi membalas pelukan Veli tidak kalah erat, dia mengelus rambut Veli pelan lalu menatap ke depan.
Ia tersenyum smirk dan mengelus kepala Veli, memamerkan pada seseorang di depan sana bahwa Veli miliknya.
Veli menarik diri lalu tersenyum lebar, Rendi membalas senyuman Veli dan menatap mata Veli dengan tatapan kagum.
Mereka saling bertatapan hingga panggilan seseorang membuat Veli sadar.
"Leci!"
Veli mengedipkan matanya lalu berbalik. Veli tersenyum lebar lalu menyuruh Oliv menghampirinya.
Oliv berjalan ke arah Veli dan berdiri di sebelahnya, menatap Rendi dengan tatapan tajam.
Veli menoleh ke arah Oliv dan Rendi secara bergantian. Oliv yang menatap tidak suka dan Rendi yang mengalihkan pandangan tidak peduli.
"Kalian berantem?" tanya Veli bingung
Oliv menggelengkan kepalanya "engga, kami ga berantem... yakan Rend" ucapnya merangkul lengan Rendi
Rendi menatap jijik pada Oliv lalu tersenyum terpaksa pada Veli.
"i-iya kita ga berantem" ucap Rendi di tahan dan menatap Oliv tajam
"Dek, ayo pulang" ajak Ernald dari belakang dan menarik Veli dengan kuat
"Kak, apasih... lepasin" tolak Veli tapi dia justru semakin di tarik oleh Ernald
Rendi mendorong Oliv hingga Oliv terhuyung hampir jatuh, tapi untungnya Oliv bisa mempertahankan keseimbangannya.
Rendi mendecih kecil lalu menepis-nepis lengan bajunya "baju gue jadi kotor gara-gara lo" ucapnya kesal lalu pergi melewati Oliv
Veli masuk ke dalam mobil dan membanting pintunya dengan keras, yang membuat Papa Al terkejut.
"Kenapa kamu?" tanya Papa Al menatap heran Veli
Veli mengatur nafasnya yang memburu lalu menunjuk ke arah Ernald yang duduk di kursi belakang.
"Dia pa, Veli lagi ngobrol sama temen Veli, tapi dia malah narik Veli kayak narik kambing. Udah paling lama beresin barang-barang punya dia sendiri, terus seenak jidat dia narik-narik Veli kayak hewan. Pokoknya kesal, kesal, kesal." jawab Veli menekuk wajahnya
Tanpa menoleh Papa Al mengawasi Ernald lewat kaca kecil di mobil, tatapannya tajam dan mengintimidasi.
Ernald di kursi belakang ingin membela dirinya sendiri tapi melihat tatapan Papanya membuat ia mengurungkan niat.
"Kakak minta maaf" ucap Ernald menggenggam tangan Veli
Veli menepis tangan Ernald lalu membuang muka, menatap jendela kaca mobil di sebelahnya dan ia melihat Rendi yang masih berdiri di depan pintu masuk rumah sakit.
"Kok dia belum pulang" gumam Veli yang di dengar Ernald
Ernald mengikuti arah pandang Veli dan melihat pria yang sangat dia kenal.
Papa Al menoleh ke belakang dan merasa suasana sudah tenang barulah ia melajukan mobil, pulang ke rumah.
Sepanjang perjalanan, mereka hanya diam tidak ada percapakan apapun. Veli sibuk melihat ke luar, Papa Al menyetir dan Ernald membaca buku.
"Sudah di keluarkan semua barang-barangnya?" tanya Papa Al
Mereka sudah sampai di mansion, Ernald baru saja selesai mengeluarkan koper-koper dan Veli? Dia sudah masuk ke dalam terlebih dahulu.
"Assalamualaikum" ucap Veli lalu menghirup aroma Mansion yang sangat dia rindukan.
Veli duduk di sofa ruang tamu, melihat-lihat sekitar seraya menunggu Ernald masuk.
"Assalamualaikum"
"Wa'alaikumsalam"
Ernald masuk dengan dua koper di tangannya. Veli bangun dan mengambil koper miliknya.
"Makasih kak" ucap Veli lalu menaiki tangga ke kamarnya yang berada di lantai atas
"Mau kakak bantu?" tanya Ernald yang membuat Veli berhenti.
Veli menatap anak tangga yang masih banyak di atas, ia bisa pingsan sesampainya di kamar jika memaksa membawa sendiri, pikirnya.
"Boleh" Veli menganggukkan kepalanya lalu turun kembali
Dengan susah payah, Veli akhirnya sampai di bawah. Dia mengatur nafasnya perlahan lalu menyerahkan kopernya pada Ernald.
Ernald tersenyum kecil lalu menyeret koper ke bawah tangga yang ternyata terdapat lift di sana.
Veli menganga terkejut, sejak kapan ini terpasang pikirnya.
"K-kok ada lift?" gumam Veli tanpa mengalihkan pandangannya dari lift di depannya
Ernald terkekeh kecil melihat reaksi Veli, ia masuk ke dalam dan berdehem kecil menyuruh Veli juga ikut masuk.
Veli mengedipkan matanya beberapa kali lalu masuk ke dalam lift, berdiri bersebelahan dengan Ernald.
"Kak, kapan di pasangnya... kok aku ga tau" tanya Veli
"Pas kamu di rumah sakit" jawab Ernald menatap Veli
"Kamu tau kan moto keluarga kita adalah kesehatan, makanya rumah ini ga ada lift sama sekali... agar apa? Agar kita tidak menjadi malas. Tapi salah satu anggota keluarga kita jadi anggota VIP rumah sakit jadinya terpaksa deh buat lift" tambah Ernald seraya memasang wajah sedih
Veli sedari awal saat Ernald mengatakan moto keluarga ini dia sudah mendatarkan wajahnya. Dia sudah menduga jika kakaknya ini akan mengolok-oloknya.
"Tapi kakak senang juga kan, ada lift?" tanya Veli tidak terima
Ernald mengidikkan bahunya lalu kembali menatap depan. Veli mengepalkan tangannya lalu menjambak rambut Ernald.
"AAAAAA VELI SAKIT!"
Ernald mencoba melepaskan diri tapi tarikan di rambutnya justru semakin kuat.
Pintu lift terbuka dan mereka sampai di lantai 3, Veli melepaskan tangannya lalu mengambil Koper miliknya.
Sebelum dia masuk ke dalam kamarnya, Veli mengangkat jari tengahnya dan menutup pintu kamar dengan sangat keras.
"Sial" ucap Ernald memegang kepalanya yang berdenyut nyeri
KAMU SEDANG MEMBACA
Protagonis < Figuran
RomansaKisah Kinan putri yang bertransmigrasi ke tubuh Velice Anindya G. Tokoh Figuran di Novel 24 jam Always You.
