Happy reading
.
.
.
Adrian bangun dari duduknya dan menatap wajah Veli erat. Wajah yang dulu ceria sekarang terlihat rapuh dan tidak bernyawa
"Vel ... abang kangen kamu " ucap Adrian pelan lalu mencium kening Veli
Adrian mundur lalu mengucapkan terima kasih kepada Mama Windi, ia merasa lebih lega karena bisa melihat Veli lebih dekat.
"Kalian tadi ketemu Nasya sama Ibunya?" tanya Zifa memancing obrolan
Adrian melirik Zifa tapi Zifa tidak peduli dan tetap menunggu respon teman-teman yang lain.
"Liat kok dan tau ga tadi si Nasya megang tangan Devan!" seru Rehan yang membuat Keira melototkan matanya
"WHAT!!!" teriak Keira
Keira langsung menarik tangan Devan dan membawanya ke kamar mandi, mencuci tangan kekasih hatinya dengan sabun sampai 7 kali.
Kelakuan Keira membuat Devan tertawa kecil karena gemas, kenapa dia baru sadar sih kalo tunangannya ini kekasih hatinya sangat lucu.
"Kamu seharusnya habis di sentuh ama dia langsung cuci tangan 7 kali!" ucap Keira terus menggosok tangan Devan
"Kamu kira dia anjing? Sampai sentuhan dia najis?" tanya Devan yang langsung di jawab tegas Keira
"IYA!"
Devan tertawa lebar dan kali ini Devan menutup pintu kamar mandi menggunakan kaki panjangnya karena tangannya masih di cuci oleh Keira.
"Kenapa di tutup?" tanya Keira memberhentikan aktivitasnya
"Kamu mau mereka ngeliat aku nyium kamu?" tanya Devan yang membuat wajah Keira memerah
"A-apaan sih!" seru Keira menarik tangannya dan mundur
Devan terkekeh kecil, ia mengambil tisu yang ada di dekat wastafel mengelap tangannya seraya berjalan mendekati Keira.
"Ini di rumah sakit ndra" ucap Keira sedikit gugup
"Yang bilang ini di apart kamu siapa?" tanya Devan yang membuat jantung Keira berdegup kencang
Keira tidak bisa mundur lagi karena punggungnya sekarang sudah menabrak dinding. Devan berdiri tepat di hadapan Keira jarak antara mereka hanya beberapa inci
Keira memejamkan matanya karena malu tapi tindakan Devan membuatnya terkejut. Devan mengelap tangan Keira menggunakan tisu lalu berbisik " ciumannya di apart aja ya?"
Keira mendorong Devan lalu pergi meninggalkan Devan di kamar mandi. Devan? Ia tertawa puas melihat wajah Keira yang malu.
"Hayo ngapain sampe tutup pintu? Ini di rumah sakit loh Kei" goda Clara saat melihat wajah temannya yang memerah
"Yang bilang di pasar siapa?!" jawab Keira kesal lalu duduk di sebelah Zifa
"Ngapa muka lo? Kaga di kasih jatah?" tanya Zifa yang semakin membuat Keira jengkel.
Keira mengambil bantal dan menggigitnya kuat, jika menggigit Zifa mungkin vas di sebelah Bara sudah melayang ke kepalanya.
Devan keluar dari kamar mandi, ia melihat Keira sebentar sebelum kembali duduk di tempatnya. Rehan yang sedari tadi kepo menyenggol tangan Devan
"Lo apain anak orang?" tanya Rehan penasaran
"Ga gue apa-apain, kalo gue apa-apain udah bunting kali" jawab Devan sambil terkekeh yang mana langsung mendapat lemparan bantal di wajahnya
Siapa yang melempar? Tentu saja Keira.
"HAHAHAHAHA" tawa Rehan, Adrian, Clara dan Zifa
Mama Windi hanya tertawa kecil sedangkan bara? Yah dia selalu berdiam diri. Dia sedari tadi hanya bermain ponsel dan sesekali melirik Veli.
***
"Kami pulang ya tan, jaga diri tante dan hati tante" ucap Rehan lalu pergi bersama yang lain menyisakan Mama Windi sendiri di ruangan Veli.
"Kelakuan mereka ada-ada aja ya vel ... " gumam Mama Windi menatap sendu Veli
Sudah berapa hari ia habiskan menunggu putrinya sadar, apakah dulu ia membuat kesalahan? Jika iya kenapa putrinya yang di hukum?
"Vel cepat bangun ya ... Mama ga kuat, Mama butuh kamu" ucap Mama Windi terduduk lemas di sofa
Hatinya pilu dengan semua keadaan putrinya, ia terhibur dengan adanya teman Veli tapi sekarang? Semuanya sepi dan hampa.
Detik, menit hingga jam hanya terdengar suara monitor yang terus berbunyi menambah kesan pilu di dalam ruangan.
"Vel ... Mama pulang dulu yaa, cuma sebentar kok " ucap Mama Windi mencium kening Veli lalu pergi
Tidak berselang lama setelah Mama Windi pergi seseorang masuk ke dalam ruangan se akan telah lama menunggu orang yang berada di dalam pergi.
"Veli... "
Mengelus pipi Veli pelan lalu mencium pipi tersebut dengan penuh kasih sayang. Orang itu menarik kursi dan duduk di samping Veli
"Kenapa lo sekarang lemah ... kemana Veli dulu yang kocak dan penuh energi itu? Vel, lo gamau buat desain baju lagi?"
Orang itu terus mengajak Veli bicara walau tanpa balasan, ia terus mengocah panjang lebar tanpa berharap Veli bisa mendengarnya.
"Gue di kacangin nih?" kekeh orang itu lalu mengambil tangan Veli dan menciumnya
"Gue bodoh Vel, ngebiarin Dante saudara gue buat terus ada di samping lo" ucap orang itu dengan kekehan kecil
"Eh lo denger gue ya?" ucap pria itu setelah merasakan tangan Veli yang bergerak
Ia tersenyum bahagia lalu mencium tangan Veli beberapa kali " Vel nanti setelah lo sadar, gue bakal muncul di hadapan lo, bukan sebagai teman lo. Tapi gue bakal muncul sebagai Rendi.."
"Rendi Vanska Xavier" lanjut pria itu lalu bangun dan mencium kening Veli
"Udah yaa nanti Mama kamu keburu datang, kalo lo kangen gue ... lo bangun oke, betah banget koma" celetuk Rendi dengan kekehan
Rendi mundur kebelakang tanpa berbalik seakan tidak ingin melewatkan setiap detik tanpa melihat wajah Veli.
Rendi menutup pintu ruangan Veli, melihat ke arah kanan dan kiri sebelum memakai kaca mata dan topi yang sempat ia buka. Berjalan santai pergi keluar rumah sakit.
Berhari-hari telah berlalu dan sudah hampir dua minggu Veli terbaring di bankar bagai tidak mau bangun.
"Apa yang menahanmu? Apa kamu tidak rindu pada Mama?" tanya Mama Windi mencium tangan Veli
"Apa kita bawa Veli ke luar negeri aja ma?" tanya Papa Al meragukan kemampuan dokter di rumah sakit
Mama Windi menoleh ke arah Papa Al lalu ke arah Ernald yang mengangguk setuju. Mama Windi hanya bisa menghela nafas lalu melihat ke arah Veli yang belum ada perubahan.
"Kenapa sampai bingung sih ma, Felix dan Kakek juga pasti setuju ... lagian mau sampai kapan Veli kita terus tidur begini?" ucap Ernald yang ada benarnya
"Tapi mama gamau ngambil resiko jika Veli kenapa-kenapa di jalan sebelum sampai ke luar negeri? Kalian tahu kan musuh Veli dan keluarga kita itu banyak?" ucap Mama Windi yang membuat Papa Al dan Ernald
"Kita tunggu sebentar lagi ya, jangan buru-buru keluar negeri ... kalo seminggu lagi Veli belum bangun baru kita pergi rujuk ke rumah sakit lain"
Next?
KAMU SEDANG MEMBACA
Protagonis < Figuran
RomansaKisah Kinan putri yang bertransmigrasi ke tubuh Velice Anindya G. Tokoh Figuran di Novel 24 jam Always You.
