bab 42

365 12 1
                                        

Happy Reading
.
.
.

"Siapa sebenarnya yang melakukan hal ini pada Oliv"

Mama Windi memijat pelan pelipisnya seraya melihat kondisi Oliv yang mengalami dehidrasi.

"Ernald gatau ma, pas ernald kesini dia udah begitu... tapi ya ma, orang kayak dia pasti banyak musuhnya" ucap Ernald seraya mengangguk-anggukkan kepalanya

"Kamu yakin banget sih kak, atau jangan-jangan kamu yang buat Oliv kayak gini... kan kamu ga suka sama dia?" tanya Mama Windi memiring kan kepalanya

"Dih apasih ma, aku juga milih-milih kali... ngapain aku ikat cwek kurus kayak dia. Lagian tanpa di ikat, Ernald bisa bikin pingsan ni cewek dengan senyuman manis " jawab Ernald tidak terima

"Jadi maksud kamu? Oliv langsung pingsan tanpa perlu kamu apa-apain gitu?"

"Iya!"

Mama Windi membuang nafas gusar dan lelah, dia sangat-sangat lelah. Kenapa semua anaknya memiliki sifat seperti suaminya. Sangat percaya diri.

"Lupakan, mama malas ngomong sama kamu" ucap Mama Windi pelan

Ernald menaikkan bahunya tidak peduli "ya sudahh, Ernald mau lanjut ngerjain skripsi"

Mama Windi tidak membalas ucapan Ernald, ia sibuk melihat bekas ikatan tangan di pergelangan tangan dan kaki Oliv yang sudah ia beri salep.

"Apartmen Veli ada cctvnya ga kak?" tanya Mama Windi menoleh dan tidak mendapati Ernald di tempatnya

"ERNALD!"

"APAA!"

"KAMU DIMANA!"

"DI DAPUR"

Mama Windi menghela nafas, ia bangun untuk menyusul putranya tapi suara Oliv menghentikannya.

"T-tante"

Mama Windi kembali duduk dan memeriksa detak jantung Oliv. "Ada yang sakit?" tanyanya seraya terus memeriksa

"Gaada Tante, cuma... O-oliv haus" jawab Oliv pelan

Mama Windi berhenti, dia menatap Oliv sebentar lalu menyimpan stetoskopnya "sebentar ya,"

Mama Windi bangun lalu pergi ke dapur mengambil air minum. Disana mama Windi dapat melihat Ernald sedang fokus memasak.

"Emang ada bahan makanan?" tanya Mama Windi yang membuat Ernald terkejut

Ernald dengan cepat berbalik dan mengelus dadanya "Mama kebiasaan jalan gaada suaranya..."

"Kulkas Veli penuh bahan makanan, mama" jawab Ernald membuka-kan kulkas dua pintu milik Veli

Mama Windi menyipitkan matanya keheranan, sebab Veli tidak pernah pulang ke apartmennya lalu bagaimana kulkas itu terisi sayur dan bahan makanan yang terlihat masih segar.

"Aneh" ucap Mama Windi pelan lalu pergi kembali ke Oliv

"Apanya yang aneh coba? Pasti Veli yang ngisinya do–"

Ucapan Ernald berhenti setelah dia melihat daun sayur kangkung yang sedang dia potong masih berwarna hijau segar.

"EMANG ANEH BJIR!"

Teriak Ernald lalu menutup mulutnya, dia melepas pisau yang dia pegang lalu memeriksa kembali kulkas Veli.

"Baru, baru, baru, baru, baru" ucap Ernald melihat-lihat bahan masakan di dalam kulkas.

Ernald menggelengkan kepalanya beberapa kali " fiks, Veli beli bahan masakan yang pake pengawet"

Ia menutup pintu kulkas, lalu membuang semua sayuran yang sudah dia potong-potong.

"Pesen online aja lah, nanti kami keracunan, kalo makan pakai bahan punya veli" ucapnya sedikit bergidik

Kembali ke Oliv dan mama Windi, Oliv sudah kembali pulih hanya pergelangan tangan dan kakinya yang masih terasa sakit.

"Kamu kenapa bisa begini? Ada yang mengikutimu saat kemari?" tanya Mama Windi menatap Oliv.

Tatapan yang meminta jawaban yang meyakinkan dan tanpa kebohongan.

"Gue cerita soal Rendi gak ya? Tapi kalo gue cerita... mereka kira-kira bakalan percaya atau justru menyudutkan?" batin Oliv bimbang

"Iya tante, ada yang ngikutin Oliv... dia pakai topeng dan ngambil ponsel dan uang terus ngiket Oliv di kursi" jawab Oliv tersenyum kecil berharap Mama Windi percaya.

Mama Windi diam sebentar lalu mengangguk mengerti "baiklah, nanti tante akan ke security dan meminta bukti cctv, agar penjahat itu di tangkap"

"Tante! Itu ga perlu..." ucap Oliv menggenggam tangan mama Windi erat

Mama Windi menatap raut wajah Oliv yang panik lalu tersenyum kecil "kalo hal ini membahayakan putri saya bagaimana?"

Oliv menelam ludah gugup lalu menarik tangannya "e-engga akan tante... Oliv janji, Veli ga bakalan terluka" ucap Oliv dengan gugup

Mama Windi diam, dia tidak membalas ucapan Oliv. Dia hanya terus menatap wajah Oliv, mengamati setiap perubahan ekspresi Oliv.

"M-maaf tante, Oliv bohong... tapi ini masalah Oliv jadi Oliv yang bakal menyelesaikannya" ucap Oliv menundukkan kepalanya

"Veli terluka lagi, lo bakal hilang di dunia ini"

Mama Windi dan Oliv menoleh ke arah pintu dan di sana Ernald sudah menatap tajam Oliv.

"Ga akan kak, Aku janj–"

"Gue bukan kakak lo!" potong Ernald saat mendengar Oliv memanggilnya kakak

Oliv diam, ia menundukkan kepalanya dan memilin tangan karena takut dan gugup.

"Sudah kak, jangan buat keributan di sini... ada apa kemari?" tanya Mama Windi menengahi

Ernald memutar matanya malas "aku mau nyuruh mama sama... cwek itu makan" ucapnya sedikit malas saat menyebut 'cewek itu'

Mama Windi mengangguk lalu mengelus pelan tangan Oliv "ayo makan, masalah tadi ga usah di bahas lagi" ajaknya pada Oliv

Oliv mengangguk kecil lalu dengan bantuan Mama Windi mereka berjalan bersama ke meja makan.

"Ernald pesan di resto bukan masak sendiri jadi... Lo" menunjuk ke arah Oliv "ga usah ke pedean, kalo gue mau repot-repot masak demi lo"

Jika kalian bertanya-tanya kenapa Mama Windi tidak memarahi Ernald karena bersikap kasar pada Oliv, maka jawabannya adalah 'Mama Windi bersikap netral, dia juga mengerti jika Ernald masih belum memaafkan Oliv'

Tidak ada percakapan di meja makan itu, mereka makan dengan tenang. Hanya saja sesekali Ernald memandang kesal ke arah Oliv.

"Tante dan Ernald pulang dulu, kamu istirahat dan obat sama salep ada di laci kamar kamu..." ucap Mama Windi mengelus tangan Oliv pelan lalu pergi bersama Ernald

Oliv menatap pintu apartmen yang sudah tertutup rapat. Rasa hampa kembali menyerangnya dan luka di wajahnya kini terasa panas.

"Bahkan untuk merasa senang saja, luka lamaku malah terasa sakit" ucap Oliv pelan lalu duduk di ruang tamu

Ia menatap foto keluarga Graham di acara kelulusan Felix yang di cetak sangat besar di dinding Apartmen Veli.

"Gue senang liat keadaan lo sekarang, sorry, baru sekarang gue senang liat kebahagian lo..." ucap Oliv pelan dan tersenyum tulus

Oliv memejamkan mata, menyandarkan kepalanya di sofa seraya menjernihkan pikiran tentang Rendi yang akan menghancurkan hidupnya.

Ia menghela nafas lalu membuka matanya pelan. Hidupnya sudah sangat kacau tapi kini akan sangat kacau.

"Vel, gue harap lo bakal tetap mau temenan sama gue... gue cuma punya elo" ucap Oliv menekuk lututnya dan menyandarkan kepalanya di atas kedua lututnya

Protagonis < FiguranTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang