Happy reading
.
.
.
"Papa... Veli kapan boleh pulang?"
Papa Al mengelus pelan kepala Veli lalu menggelengkan kepala "papa gatau, tapi kayaknya kamu di sini aja deh... kamu kan sakit-sakitan terus jadi mending tinggal aja sekalian di rumah sakit"
Veli membulatkan matanya lalu menepis kuat tangan Papa Al "Veli malas sama papa, sana pergi"
"Oh, berani nyuruh-nyuruh papanya pergi? Oke, papa bakal pergi"
"Jangan meminta papa kembali, karena luka di hati masih belum terobati" lanjut Papa Al menaruh lengannya di dahi
"PAPAA IH, GELIII" teriak Veli
Papa Al tertawa senang karena berhasil mengerjai putrinya tapi perasaan sedih melihat Veli kembali berbaring di rumah sakit masih membuat hatinya sakit.
"Ih papa jangan ketawa terus, ini rumah sakit." ucap Veli menatap tajam Papanya
Papa Al berhenti tertawa, ia dengan gemas menarik kedua pipi Veli... bagaimana tidak, putrinya ini sangat menggemaskan.
"Bagaimana bisa, putri papa semenggemaskan ini," ucap Papa Al masih terus menarik dan mengunyel-unyel pipi Veli
"Papa udah, sakit pipi veli!"
Veli berusaha melepaskan tangan papanya tapi kekuatannya kalah banyak dari Papa Al. Pipinya sekarang sangat sakit dan terasa panas.
"PAPA!"
Papa Al berhenti, dia menarik tangannya lalu dengan kaku berbalik ke belakang.
"Mama, k-kok udah datang... k-kapan sampainya" tanya Papa Al berbasa basi
Veli mengulum bibirnya menahan tawa, dia bisa melihat wajah Papa Al yang ketakutan dan wajah kesal mamanya.
"Mama habis dari mana, kok bareng kak Ernald?" tanya Veli saat melihat kakaknya ada di belakang mama Windi
"Gue habis dari Apartmen lo bareng mama liat Oliv" jawab Ernald yang langsung dicubit Mama Windi
Ernald menatap tidak terima pada Mamanya tapi setelah itu ia sadar apa yang ia ucapkan adalah salah.
"Maaf" ucapnya tanpa suara
"Ngapain liat-in Oliv? Dia baik-baik aja kan?" tanya Veli khawatir
Papa Al menatap putrinya karena khawatir pada Oliv. Ada rasa tidak terima karena Veli masih memperhatikan orang yang sudah menyakitinya berkali-kali.
"Jangan bahas Oliv, di sini" ujar Papa Al menatap Veli datar
"Kenapa? Oliv itu teman Veli" balas Veli tidak terima
"Kamu ngelawan sama Papa?"
Veli memalingkan muka, dan kembali membaringkan kepalanya di kasur. Mama Windi dan Ernald saling pandang lalu menatap Papa Al yang sedang dalam mode serius.
Keputusannya tidak bisa di ubah dan tawa yang baru saja terdengar kini lenyap begitu saja, digantikan hening yang menekan dada.
"Mama kembali ke ruangan mama dulu, Ayo pa... temenin Mama" ajak Mama Windi menarik tangan Papa Al
Papa Al mengikuti istrinya dengan tenang. Sedangkan Ernald dengan pelan menarik kursi dan duduk di sebelah ranjang Veli.
"Kamu marah sama Papa?"
"Kesel?
"Jengkel?
"Benci?"
Veli membuang nafas lalu berbalik menatap Ernald "aku ga marah, kesel, jengkel atau benci sama papa"
"Terus?" tanya Ernald
"Aku cuma ga suka kalo papa benci sama Oliv, Dia emang salah kak, tapi aku yakin dia sekarang udah berubah" jawab Veli menatap Ernald dengan serius
"Alur novel udah melenceng jauh kak, gue gamau nyawa gue jadi taruhannya" ucap Veli dalam hati
Ernald menghela nafas dan tidak mengatakan apapun. Bicara sekarang dengan Veli hanya akan membuat suasana panas.
"Mau makan apa? Biar kakak pesenin" tanya Ernald mengalihkan pembicaraan
Veli diam sebentar lalu menjawab dengan pelan"ga laper"
Ernald mendatarkan wajahnya lalu menghela nafas "mau pesen minum aja? Alpukat kocok? Matcha? Atau strawbery?" tanya Ernald lagi
Veli melirik ke arah Ernald lagi lalu membuang muka, Ia kembali membelakangi Ernald.
"Ya sudah, kalo mau apa-apa bilang kakak"
Setelah mengatakan itu, Ernald keluar dari kamar Veli. Dia pergi ke taman rumah sakit menenangkan pikirannya.
Jika tidak mengingat kondisi Veli, dia sudah beradu mulut dengan adik kecilnya itu. Di tambah masalah Dante, Ernald yakin mereka akan bertengkar hebat.
"Mama yakin kalo si Oliv itu sudah berubah?" tanya Papa Al
"Mama yakin, tapi ada baiknya kita juga tetap mengawasinya pa... Mama gamau Veli terluka lagi" jawab Mama Windi duduk di kursi dokter miliknya
Sekarang Mereka sedang berbicara di ruangan Mama Windi, yaitu Ruangan Dokter spesialis jantung.
Papa Al menatap wajah penuh kekhawatiran istrinya. Mereka sama, tidak mau Veli terluka tapi Veli justru menantang mautnya sendiri.
"Papa sudah dapat informasi tentang orang yang menabrak Veli kemarin"
Mama Windi menoleh dengan cepat ke arah Papa Al, dia bangun lalu menggenggam erat tangan Papa Al.
"Siapa? Siapa pa?!" tanya Mama Windi tidak sabar
"Penerus Company WL, Kevan Wiliam Putra" jawab Papa Al menahan amarah
Rahangnya mengeras, matanya menatap tajam penuh murka "berani sekali, orang kecil seperti dia mencoba menyakiti putriku"
"Tapi pa..." Mama Windi menatap wajah suaminya dengan serius "dia ga mungkin sendirian..." lanjutnya yang di angguki papa Al
"Dia memang tidak sendirian, dia bersama Keluarga Wijaya" ucap Papa Al membuang nafas dengan kasar
Mama Windi mundur ke belakang dan menutup mulutnya tidak percaya, bagaimana bisa? Sedangkan baru beberapa hari yang lalu Keluarga Wijaya mengunjungi Veli.
"Veli salah apa sama mereka pa? Dia ga pernah mengusik keluarga i–"
"Nasya" potong Papa Al
"Veli mengusik Nasya, itu yang aku dengar dari pembantu di rumah Wijaya" lanjut Papa Al
"Maksudnya?" tanya Mama Windi tidak mengerti
"Persaingan kecil, mereka berdua sering adu mulut sampai Nasya menangis. Sangat kekanak-kanakan memang untuk di katakan 'Veli mengusiknya' "
"Tapi keluarga tetaplah keluarga, mereka mendukung Nasya penuh dan terus menyebut Veli hama" lanjut Papa Al mengepalkan tangannya kuat
"Putriku hama?" Mama Windi menutup mulutnya dan terkekeh kecil "akan ku tunjukan, apa itu hama yang sebenarnya!" lanjutnya mengambil pisau bedah dan menusuknya ke meja
Suasana di ruangan itu sangat tegang, penuh amarah dan kebencian. Hingga ketukan pintu di luar membuat suasana sedikit membaik.
"Dokter, anda di panggil pemeriksaan pasien di kamar 305"
KAMU SEDANG MEMBACA
Protagonis < Figuran
DragosteKisah Kinan putri yang bertransmigrasi ke tubuh Velice Anindya G. Tokoh Figuran di Novel 24 jam Always You.
