Bab 32 Sendiri

5 2 0
                                        

Jangan lupa vote dan komen
Happy reading.

___

"Puas lo ngelihat gue kayak gini?" Matteo menatap Jay penuh amarah.

Aditama menahan langkah kakinya, Aditama ingin melontarkan kalimat, namun Casie mencegahnya.

"Udah ya jangan berantem, Teo nanti mama bantu cari Mogy ya." Casie mengusap lengan Matteo.

"Puas lo dibelain sama dipuji sama papa terus?" Matteo tentu saja iri dengan Jay.

"Matteo yang sopan sama abangmu!" Aditama menatap Matteo sambil memelototkan matanya.

"Tuh lihat, lo dibelain lagi." Matteo terkekeh dengan perasaan yang kacau.

"Teo! Jangan kurang ajar kamu, Jay bela-belain sekolah seangkatan sama kamu supaya bisa ngawasin dan ngajarin kamu!"

Jay menatap Aditama. "Pa..."

"Lo ngasihani gue Jay? Udah ngerasa paling pinter, paling bisa diandelin? Udah ngerasa jadi kakak yang baik?" Matteo menatap Jay dengan tajam.

"Gue gak bermaksud gitu."

"Kenapa dimata lo seakan-akan gue gak bisa apa-apa? Gue juga pengen bisa jadi lebih baik dari lo! Tapi gue selalu dipandang sebelah mata." Dada Matteo terasa sesak.

"Gue cuma mau lo bisa jadi yang terbaik, gue mau lo jadi orang yang berhasil." Jay menatap Matteo dengan serius.

"Dengan cara seperti ini? Lo pikir dengan semua yang lo lakuin bisa bikin gue lebih baik? Lo salah! Gue justru dibanding-bandingin sama lo!" Setelah mengatakan itu Matteo meninggalkan rumah.

"Matteo!"

Matteo mengabaikan panggilan dari keluarganya, Matteo hanya ingin segera menemukan Mogy.

Rasa sesak di dadanya sudah tidak bisa dia tahan, air matanya jatuh dengan sendirinya.

"Sialan, cengeng banget gue." Matteo mengusap air matanya menyusuri jalan untuk mencari Mogy.

Mogy sudah lama menemaninya, wajar jika Matteo sangat menyayangi Mogy.

"Kenapa papa tega buang Mogy?" Jay bertanya dengan Aditama.

"Biar adikmu bisa fokus sekolah." Aditama mengambil bekalnya, namun ketika baru saja dia pegang, bekalnya sudah direbut oleh Casie.

"Mama males buatin papa bekal lagi, papa gak punya hati buang Mogy." Casie membawa bekalnya dan menuju ke kamar.

"Jangan segitunya sama Matteo pa." Jay ikut keluar rumah menyusul Matteo.

Matteo bertanya kepada tetangganya tentang keberadaan Mogy, namun tetangganya sama sekali tidak tahu.

Davi dan Celio merasa gelisah, Davi terus menerus menghubungi Matteo namun tidak ada jawaban.

"Gimana Din? Udah ada kabar tentang Mamat?" Celio menatap Davi.

Davi menggeleng. "Belum Cep, Jay juga gak ngejawab telpon gue."

"Bolos yuk Din."

Ucapan Celio sontak dihadiahi oleh pelototan Davi.

"Lo gak lihat yang ngajar bu Dena, lo mau ngerjain 10 lembar soal matematika?" Davi berkata dengan memelankan suaranya.

"Terus gimana Din? Gue khawatir sama Mamat." Celio ikut berbisik.

"Davi! Celio! Jangan berisik di pelajaran ibu! Kalian mau ibu suruh kerjain soal 10 butir?" Bu Dena memelototi Davi dan Celio.

Sontak Davi dan Celio menggeleng bersamaan. "Gak mau bu."

"Awas ya kalau masih berisik."

Davi berbisik lirih. "Nanti kita cari abis pelajaran bu Dena."

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Nov 03, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

MATTEO [ON GOING]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang