Bab 12 Konflik

58 43 6
                                        

Jangan lupa vote dan komen
Happy reading.

___

"Udah Din." Celio menarik Davi agar Davi mau duduk kembali, namun Davi menghempaskan tangan Celio.

Davi menatap Celio tajam. "Lo diem dulu! Gue ngomong gini biar Mamat sadar, biar dia gak bego-bego banget, dia kalau diomongin baik-baik gak bakal didenger."

Celio menarik kerah Davi. "Tapi gak gini caranya bego! Kontrol emosi lo anjing! Lo mau kita berantem cuma gara-gara hal ini?"

Davi menghempaskan tangan Celio. "Terus gimana biar si bego itu sadar kalau selama ini Jingga gak suka sama dia? Gimana lo bisa jawab gak!"

Matteo berteriak. "STOP!"

Matteo kemudian mendekat dan menatap Davi dengan datar. "Tau apa lo tentang perasaan gue? Terus kenapa kalau orang-orang gak suka sama gue? Gue emang bego ngejar-ngejar Jingga dari dulu, lo juga gak kalah begonya sama gue, lo juga ngejar-ngejar Jesi." Matteo menunjuk dada Davi.

Davi terkekeh. "Gue sama lo beda, gue sama Jesi sama-sama saling tertarik, tapi lo? Rasa suka lo cuma sepihak doang, emang lo pikir dari dulu Jingga gak tau kalau lo suka sama dia? Pikir dong Mat, perempuan tuh makhluk paling peka, lo harusnya bisa mikir kalau dia gak mau sama lo."

BUG!

Jay segera berlari menahan Matteo, Celio juga berdiri didepan Davi sebagai tameng untuk memisahkan keduanya.

Davi memegangi pipinya yang dipukul oleh Matteo. "Apa-apaan lo brengsek! Gue ngomong gini gara-gara gue peduli sama lo anjing! Gue ngomong kayak gini karena lo temen gue! Harusnya lo sadar dan jauhin Jingga brengsek, sialan lo Mat." Davi meninggalkan rooftop dengan wajah marahnya.

Celio menatap Matteo dengan kecewa. "Lo harusnya jangan kayak gitu sama dia Mat, biar pun dia kayak gitu dia peduli sama lo, dia bela-belain bangun pagi buat nyelidikin tentang ucapan lo kemarin di kantin, lo harusnya bisa lebih bijak Mat." Celio ikut meninggalkan rooftop untuk mengejar Davi.

"ARGHH!!" Matteo mengacak-acak rambutnya, Matteo kembali duduk dan menundukkan kepalanya.

Jay duduk disebelah Matteo. "Lo gak boleh pukul sahabat lo, nanti kalau lo udah mendingan lo minta maaf sama Davi."

"Lo belain dia juga?" Matteo menatap Jay sekilas.

"Dia cuma gak pengen lo kenapa-kenapa, dia cuma pengen ngelindungin perasaan lo, sebagai sahabat pasti mereka berusaha buat nasihatin lo, jadi nanti kalau lo udah ngerasa lebih baik lo harus minta maaf sama Davi, lo gak boleh sia-siain sahabat kayak mereka." Jay menepuk-nepuk punggung Matteo, setelah itu Jay meninggalkan Matteo sendiri.

"Giliran ngomong bijak aja langsung panjang lebar." Gumam Matteo.

Celio berhasil mengejar Davi, napasnya tidak beraturan. "Lo cepet banget jalannya, gue sampai ngos-ngosan ngejar lo."

"Temen lo noh kasih tau, gue ngomong baik-baik malah ditonjok." Davi berjalan dengan langkah lebar, saat menghadap ke depan dirinya melihat Jingga dan Violet.

Davi segera menghadang Jingga, sebelum Davi mengucapkan sesuatu, Celio lebih dahulu menyeret Davi agar menjauh dari Jingga.

"Dasar cowok aneh." Violet menatap Davi dan Celio yang menjauh.

"Lo mending jauh-jauh sama mereka, lo juga harusnya gak usah deket-deket sama Matteo." Violet menggandeng tangan Jingga.

"Gue gak deket kok."

Kini berganti Jay yang menghadap Violet dan Jingga.

Violet mendengus. "Kenapa sih? Gak lo gak temen lo sama aja anehnya, lo ngapain didepan kita?"

MATTEO [ON GOING]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang