Sudah setahun lebih ya🤔
Maaf yaaa🥺🙏🏻
Ayo marahin aja aku🥺
Tapi
Habis itu, lanjut baca yuk, aku membawa kelanjutannya🤭
Kangen lolipopku🥺
🍭🍭🍭
Hari itu mendung, langit tampak abu-abu seperti ruang dada Chan yang belakangan makin sempit.
Chan masih tak mengerti tentang perasaannya saat ini, semuanya sudah lepas kendali. Ia mencoba terlihat biasa saja, tapi semakin ia berusaha keras untuk baik-baik saja justru ia semakin sulit untuk nyenyak dalak tidurnya.
Entah kenapa, sore kali ini kakinya membawa Chan ke studio Jihoon.
Dengan langkah tertatih, ia membuka pintu studio itu. Tidak mengirim pesan, tidak memberi kabar, hanya datang...
Boleh kan?
"Kak Ji?" panggilnya sambil mendorong pintu perlahan.
Tak ada sahutan. Tapi ada suara.
Tawa.
Tawa seorang pria.
Suara itu... suara Jihoon. Tapi bukan tertuju padanya. Chan menahan napas saat mengintip dari celah pintu ruang dalam. Dan di sana, Jihoon sedang duduk di sofa kecil, bersama seseorang yang amat ia kenali.
Mingyu.
Tidak ada pelukan. Tidak ada ciuman. Seperti yang pernah ia lihat sebelumnya.
Tapi senyuman Jihoon untuk Mingyu lebih tulus dari yang pernah Chan dapatkan selama ini. Tawa mereka lepas. Mata mereka saling menatap dengan nyaman. Dan di antara dua cangkir kopi yang masih hangat, Chan tahu...
Perasaan Jihoon padanya tak pernah benar-benar dimiliki.
Bukankah ... dulu Chan pernah menebak bahwa mungkin saja perasaan Jihoon untuknya hanya sebuah pelampiasan?
Dan semua itu, terbukti kan?
Ah, ternyata ... ungkapan bahwa orang lama tetaplah pemenangnya itu benar ya?
Langkah Chan memutar. Tangannya bergetar saat hendak menutup pintu, tapi bunyi engsel yang berdecit membuat Jihoon menoleh.
"Chan?!"
Jihoon berdiri reflek, menghampiri. Mingyu terdiam, tak bergerak dari tempat duduknya.
Chan tidak berkata apa-apa. Tidak marah. Tidak bertanya. Tidak ada air mata. Lagi pula untuk apa ia menangis? Bukannya Chan memang tak punya perasaan apapun pada Jihoon?
Hanya ekspresi kosong yang Chan berikan. Seperti seseorang yang baru saja membuang sisa harapan terakhir.
"Chan, dengerin gue dulu! Ini gak kayak yang lo pikirin!" Jihoon mengejar, memegang pergelangan tangannya.
Chan menarik tangannya cepat. "Lepas Kak, ga baik ninggalin tamu lo duduk sendirian gitu."
"Please... please, gue bisa jelasin semuanya!"
"Lo tuh, selalu bisa jelasin segalanya kak, selalu ... selalu ada penjelasan dari lo."
Suaranya tenang, datar, tapi menusuk seperti pisau tanpa gagang.
"Cuma kali ini ... gue gak mau denger, tadinya cuma mau mampir bentar."
Chan menatapnya sebentar. Singkat. Tapi pandangan itu lebih menyakitkan dari bentakan apa pun. Jihoon diam. Karena ia tahu, tidak ada lagi ruang yang bisa diisi dengan alasan.
Chan pergi. Tanpa menoleh. Tanpa jeda.
Pintu studio menutup pelan. Tapi gema langkah Chan yang menjauh masih memantul di dada Jihoon.
Ia berdiri di depan pintu beberapa detik, berharap waktu bisa ditarik mundur, satu menit saja ... sudah cukup untuk mencegah semuanya runtuh.
Di belakangnya, Mingyu masih duduk di sofa, dari tadi ia menatap kosong ke arah meja. Ia tidak bicara, tidak bergerak. Hanya napasnya yang terdengar berat.
"Ji..." panggil Mingyu akhirnya. Pelan. Suaranya terdengar penuh ragu.
Jihoon tidak menoleh.
"Gue..."
Mingyu menghela napas, lalu bangkit berdiri, melangkah pelan ke arah Jihoon.
"Maaf, ya."
Jihoon masih diam.
"Kalau aja gue gak datang tadi... mungkin Chan gak bakal salah paham."
Mingyu menatap punggung Jihoon. "Atau ... mungkin hubungan kalian gak akan makin hancur."
Jihoon akhirnya menoleh. Pandangannya kosong, tapi tidak ada kemarahan. Justru sebaliknya, ia terlihat lelah.
"Gak apa kok Gyu."
Suara Jihoon terdengar parau, "bukan salah lo. Dari awal juga hubungan gue sama Chan udah ... Kacau. Kayak ada bom waktu yang kapan aja bisa meledak, dan mungkin waktunya hari ini."
Mingyu menunduk, "Gue gak enak banget. Maksud gue ... gue ke sini cuma mau bilang makasih. Waktu nyokap gue di rumah sakit, lo yang bantu ngurus, ngehubungin dokter, nungguin. Gue gak mungkin ngabaiin kebaikan lo itu, Ji."
Jihoon mengangguk pelan, "gak perlu mikir gitu Gyu. Lo dateng karena hal baik, niat baik. Gue yang harusnya bisa lebih jujur sama Chan. Tapi gue gak bisa, karena ... karena gue takut dia pergi."
"Tapi nyatanya sekarang Chan pergi."
Jihoon tertawa pelan, hambar.
"Hmmm, iya ... sekarang Chan pergi."
Mingyu berjalan ke arah pintu. Tapi sebelum ia keluar, ia menoleh sebentar.
"Harusnya gue gak datang ke sini, ya Ji?"
Jihoon memandangnya. Lama.
"Enggak, Gyu. Gue bilang, ini bukan salah lo. Yang salah, mungkin ... kita semua terlalu sibuk jagain luka lama, sampai gak sadar lagi nyakitin orang baru."
Mingyu terdiam. Matanya mulai berkaca-kaca, tapi ia mengangguk.
"Semoga setelah ini, lo punya kesempatan buat jelasin ke Chan," katanya sebelum menutup pintu.
Dan kini, Jihoon benar-benar sendiri. Duduk di sofa yang masih hangat. Dengan dua cangkir kopi yang belum habis. Salah satunya, masih ada jejak lipbalm tipis milik Chan dari kunjungan sebelumnya.
🍭🍭🍭
Udah segitu dulu yaaaa🙆🏻♀️
Kata-katanya buat part kali ini dong🤭
Wdyt guys🤔☺️
Aku akan segera kembali~
Janji, ga nyampe setahun lebih lagi☝🏻
KAMU SEDANG MEMBACA
Fortuity || Hoonchan/Chanhoon
FanfictionPerbedaan kebetulan sama takdir tuh apa sih? Kalau gue kebetulan ketemu lo sama gue ditakdirkan ketemu lo, isn't this the same thing? Warn!👀 ✨Hanya fiksi belaka yaaa ✨BxB ✨No baku vers. mungkin kadang-kadang bakal baku, gatau juga sesuai mood edith...
