rumit

129 13 1
                                        

Hai, aku kembali
Cepat kan😙

Tanpa banyak cuap cuap
Enjoy this part😜

🍭🍭🍭

Sudah tiga hari sejak Chan meninggalkan studio hari itu. Sejak ia menutup pintu tanpa menoleh, sejak Jihoon tak dapat berkata apa-apa lagi pada Chan.

Dan selama tiga hari itu pula, Jihoon datang ke kontrakan Chan setiap sore. Duduk di ruang tamu. Kadang hanya berdiri di balkon. Kadang membawa makanan yang tak disentuh Chan. Kadang hanya diam menatap pintu kamar Chan yang tak pernah terbuka untuknya.

Hari ini sama. Langit mendung lagi. Alam terlalu mendramatisir, pikir Jihoon. Dan Jihoon berdiri lagi di balkon, tangannya membawa bungkusan plastik dari convenience store. Isinya tahu goreng kesukaan Chan.

Tanpa Jihoon ketahui, dari kamar Jun, Chan mengintip dari balik tirai jendela.

Lagi.

"Bang uji," panggil Seokmin yang baru saja datang, entahlah dari mana, "Nungguin si Chan lagi?"

Jihoon mengangguk.

"Cuman mau kasih ini doang. Terus gue pulang."

"Chaaaaan! Pacar lu buseeet dibiarin doang!" teriak Seokmin.

Tapi Chan tak juga kunjung keluar.

Seokmin menghela napasnya dengan keras sembari menatap Jihoon yang juga membalas tatapan matanya, tatapan lelah tapi pantang menyerah dari Jihoon.

Sementara itu, dalam kamar Jun, Chan duduk di pojok tempat tidur Chan, tangan memeluk lutut. Earphone terpasang di telinganya, tapi tak ada musik yang benar-benar ia dengarkan.

"Eh Chan, lu gak mau ketemu Uji lagi?" tanya Jun yang tiba-tiba muncul di ambang pintu.

Chan menggeleng pelan.

"Buset dah Chan, dia dateng tiap hari, Chan ... Kasian, tahu gak? Kalau ada masalah tuh diselesein bukan kabur gini."

Chan mendesah.

"Lagian gue juga gak nyuruh Kak Ji buat dateng tiap hari."

"Ya tapi dia pacar lo..."

"Pacar gue?" Chan menoleh. Matanya sayu, bukan marah. Tapi ... Itu tatapan bingung. Kosong.

"Jujur, gue gak ngerti Kak Ji. Gue juga gak ngerti diri gue sendiri."

Jun mendekat, duduk di ujung tempat tidur, "Lo bisa aja gak ngerti, tapi jangan pura-pura gak ngerasain apapun. Lo diem, tapi lo liatin si Uji terus dari jendela kamar gue setiap kali dia datang."

Chan tidak menjawab.

Beberapa detik kemudian, suara pintu pagar ditutup pelan terdengar dari luar. Jihoon sudah pergi.

Lagi.

Chan mendesah berat.

"Gue capek banget, sumpah. Gue bahkan gak tau perasaan gue sendiri itu apa."

Jun menatap Chan dengan tatapan miris, ia menepuk pundak Chan.

"Yaudah, istirahat aja. Jangan maksa ngerti sekarang. Tapi juga jangan biarin diri lo beku gitu terus Chan. Takutnya ntar Lo nyesel."

Chan memejamkan mata. Di luar, hujan mulai turun perlahan. Lagi-lagi alam mendramatisir keadaannya.

Sama seperti hari itu, tiga hari lalu, saat ia berdiri di depan studio dan tahu bahwa sesuatu dalam dirinya akhirnya ... patah.

🍭🍭🍭

Malam itu, Chan tidak bisa tidur.

Ia berdiri di balkon kontrakannya, mengenakan hoodie tipis dan celana training. Udara dingin menusuk kulit, tapi justru itu yang membuat Chan merasa ... hidup.

Chan menoleh ke kursi di sampingnya. Tempat Jihoon biasa duduk menunggunya. Sekarang sepi.

Chan mendesah, menunduk, mengusap wajahnya sendiri.

Hingga suara motor berhenti pelan di depan rumah. Suara helm dilepas. Suara langkah mendekat. Chan menoleh.

Soonyoung.

Ia berdiri di luar pagar. Jaket tebal, tangan masuk saku, rambut acak-acakan karena helm.

Chan terpaku.

"Lu doang Chan yang bisa bikin gue nyetir malem-malem gini," kata Soonyoung.

Chan diam. Matanya berkaca-kaca, tapi bukan karena sedih. Melainkan terlalu banyak yang mau ia keluarkan, tapi tidak tahu harus mulai dari mana.

"Duduk sini, gue beliin odeng," kata Soonyoung sembari mengangkat kantong plastik kecil di tangan kirinya.

Mereka duduk di kursi yang biasanya diduduki Jihoon. Sunyi. Tapi entah kenapa, kali ini sunyinya membuat Chan tenang.

"Gue tau semuanya kok Chan," ucap Soonyoung pelan.

Chan menatapnya.

"Tentang awal mula hubungan lu sama Uji. Tentang gimana pada akhirnya lu sama Uji pacaran. Tentang Uji sama Mingyu."

Soonyoung menoleh, "dan tentang lu yang pura-pura kuat padahal gue tau, lu udah pengen kabur dari semua ini."

Chan tersenyum kecil. "Pura-pura kuatnya gue berhasil gak?"

Soonyoung mengangkat bahu,"sorry, gatot ... gagal total."

Chan tertawa kecil. Untuk pertama kalinya hari itu, tawa yang jujur, walau cuma sebentar.

"Gue ke sini bukan buat nasehatin lu kok Chan. Gue cuma ... gak pengen lu ngelewatin semua ini sendirian."

"Sejujurnya, juga gak tau apa yang gue rasain sekarang Bang."

Chan menghela napasnya dengan kasar, "perasaan gue sama Kak Ji atau pun perasaan gue sama lo juga ... gue bingung."

"Lo gak harus ngerti sekarang Chan. Gue tungguin."

Chan menatap Soonyoung. "Tungguin apa bang?"

Soonyoung menghela napas pelan dan tersenyum, "Tungguin sampe lu beneran bisa nyari diri lu sendiri, sampe lu ga bingung-bingung lagi."

"Hmmmm."

"Ham hem aje lu."

🍭🍭🍭

Kata-katanya buat hari part kali ini dong🤭

Aku akan segera kembali~

Fortuity || Hoonchan/ChanhoonCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang