Saling Lepas🍂

190 14 3
                                        

Edith back
Cihuuuy🧚🏻‍♀️

Enjoy this part

🍭🍭🍭

Sudah seminggu sejak Chan pergi dari studio.

Tujuh hari sejak langkahnya yang terburu-buru meninggalkan ruangan itu. Tujuh malam sejak pintu tertutup tanpa pamit dari Chan. Sejak tatapan Chan yang berubah dingin, kosong, dan asing, mengiris hati Jihoon lebih dalam.

Seolah, di detik terakhir mereka, Chan bukan lagi orang yang pernah menertawakan kekonyolannya, bukan lagi yang pernah duduk bersamanya berjam-jam hanya untuk saling diam tapi nyaman.

Seolah Jihoon tak pernah benar-benar dikenal Chan.

Tapi Jihoon masih belum berhenti.

Ia masih keukeuh datang ke kontrakan Chan setiap sore, seolah berharap waktu bisa diputar mundur hanya dengan berdiri di tempat yang sama.
Masih menitipkan pertanyaan pada Jun, Seokmin ataupun Hansol yang kadang menjawab, kadang hanya menarik napas panjang dan mengangkat bahu mereka.

Jihoon masih mengisi ruang chat yang kosong dengan kalimat panjang yang akhirnya dihapus, atau voice note yang ia rekam pela lalu ragu sendiri dan ia hapus juga.

Hari ini, Jihoon berdiri lagi di balkon kontrakan Chan. Sore kali ini terasa lebih dingin dari biasanya. Mungkin karena Jihoon belum tidur semalaman atau mungkin karena tubuhnya lelah menunggu sesuatu yang bahkan tak tahu harus ditunggu sampai kapan.

Tangannya membawa kantong kecil yang ujungnya sudah keriput karena terlalu sering diremas dalam kegugupan. Isinya cuma dua hal, teh botol favorit Chan, dan sebuah surat yang ditulis Jihoon semalam, lalu ditulis ulang pagi harinya. Entah kenapa ... ia terus merasa versinya belum cukup tepat.

Jun keluar setelah beberapa saat, Jihoon sempat ragu. Tapi ia paksa bibirnya tersenyum.

"Jun ... bisa kasih ini ke Chan, gak?" katanya pelan, hampir tak terdengar.

Jun diam sesaat, menatap Jihoon seperti sedang menimbang-nimbang apakah pantas untuk menerima titipan itu. Tapi akhirnya Jun mengangguk juga, meski tanpa satu pun kata keluar dari bibirnya. Entah karena kasihan, atau justru muak melihat Jihoon terus datang dan datang, sementara Chan terus menghindarinya.

Dan dari balik tirai jendela kamar Jun, Chan menyaksikan semuanya. Sejak Jihoon tiba, sejak kantong kecil itu diserahkan pada Jun dan hingga punggung Jihoon yang menghilang di balik tikungan.

Chan hanya diam. Menghela napas panjang, lalu berbalik meninggalkan jendela. Kantong itu diletakkan di meja tamu oleh Jun, dibiarkan begitu saja. Chan melirik, tapi tak menyentuhnya.

Ia tidak membuka surat itu hari itu. Bahkan tidak keesokan harinya.

Bukan karena marah. Bukan karena membenci. Tapi karena letaknya sudah jauh, jiwanya sudah tidak ada di tempat yang bisa menunggu atau berharap. Karena sebagian dari dirinya yang dulu percaya pada kemungkinan, telah ia kubur hari itu, di studio itu.

Sementara di tempat lain, ruang sunyi yang dulu hangat oleh suara Chan, Jihoon duduk di depan laptopnya yang menyala tapi tak disentuh.

Proyek musiknya terbuka, beatnya terputar, tapi telinganya kosong. Musik yang biasanya jadi pelarian, malam ini justru terdengar seperti sisa-sisa kenangan.

Fortuity || Hoonchan/ChanhoonCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang