[28] Kontradiksi Rasa dan Logika

54 2 0
                                        

"Halowww epribadi! Berjumpa lagi dengan Kadamtara Bintang di program spesial Department Tour bersama satgas keren kita, Mas Alfi. Monggo Mas, say hi dulu."

"Apa ini, Tang?" tanya Mas Alfi bingung, pasalnya dosen muda yang sekarang juga merangkap menjadi satgas HMAP ini tiba-tiba disodorkan kamera oleh Bintang.

"Udah, Mas. Si Bintang mah nggak usah diwaro, emang lagi stres aja tuh anak."

"Tang Bintang balikin HP aku ihhh! Liat tuh batrenya sisa 15% dan aku masih harus pesen ojol!!" Ucap Caca sembari tangannya mencoba untuk meraih HP yang sedang Bintang genggam itu.

"Halah, Caa! Nggak usah pesen ojol, minta anter ae sama cowok teknikmu itu."

"Ngaco!! Nggak ada ya cowok teknik cowok teknik apalah itu!"

"Mas, ini lohh, Bintang usil banget," imbuh Caca kembali sambil mencoba minta pertolongan ke Mas Alfi. Mas Alfi hanya tertawa dan mengambil HP Caca untuk dikembalikan ke pemiliknya.

Mereka berdua memang baru saja menemui Mas Alfi untuk bertanya terkait salah satu kuis yang mereka lewatkan karena tidak hadir saat kelas kemarin. Tak begitu lama, datanglah Janu dan Yena (PIC Padfest tahun ini), dan juga Kadewa yang secara bersamaan memasuki ruang jurusan itu.

"Assalamualaikum...," ucap salah satu di antaranya.

"Lohh... Apa ini? Kok tiba-tiba saya dikeroyok mahasiswa begini to?" Tanya Mas Alfi.

Kebetulan, ruang jurusan sekarang memang hanya berisi mereka saja. Entahlah apa yang membuat dosen dan staf lain tidak berada di ruangan. Mungkin karena ini masih pagi, dan sepertinya banyak dosen yang mempunyai jadwal kelas.

"Hehehe anu Mas, ini mau konsul terkait Padfest sama katanya Mas Kadewa mau mengobrol sama Mas Alfi," ujar Janu membuka suara.

"Loh aku to, Nu? Katanya tadi kamu aja yang mau bilang ke Mas Alfi," goda Kadewa.

"Waduh Mas, nggak nyampe nanti kalo aku yang bilang ke Mas Alfi."

"Kenapa-kenapa, Nu. Ayo sini tak dengerin sambatanmu terkait Padfest. Udah sampai mana? Perlu bantuan?" ucap Mas Alfi yang membuat Janu menggaruk tengkuknya, merasa segan. Mohon dimaklumi karena Janu sendiri belum pernah bertemu dengan Mas Alfi di kelas yang memang sudah sangat terkenal dengan dosen muda yang baik hati, soft spoken, dan sangat easy going dengan para mahasiswanya itu.

"Sejauh ini nggak ada sih, Mas. Cuma mau kasih progress mawon. Jadi, buat Padfest alhamdulillah aman terkendali. Cuma ini saya dan teman-teman panitia bingung Mas. Kalau di tahun-tahun sebelumnya kan kami memberikan undangan untuk DPO nggih, Mas. Nah, untuk tahun ini sesuai arahan dari Mas Alfi waktu saya chat personal, DPO yang sudah alumni alangkah lebih baiknya tidak diundang, tapi kalau mau menonton nggih hanya sebagai penonton pada umumnya dan wajib membeli tiket dengan harga normal. Tapi, sejujurnya dari kami bingung Mas untuk memberikan informasi terkait hal tersebut ke Mas dan Mbak DPO-nya," ungkap Janu dengan gelagat canggung seperti biasanya.

"DPO yang biasa datang di event HIMA memang banyak, ya?"tanya Mas Alfi, "Maksud saya yang sudah alumni," sambungnya kembali lebih detail.

"Tahun lalu sih ada kali 15 orang, iya nggak, Tang?" ujar Kadewa dengan meminta validasi Bintang. Bintang hanya menganggukkan kepala sambil sedikit mengawang, sepertinya sedang mengingat kembali kejadian satu tahun ke belakang itu.

"Wah lumayan itu, kalau mereka tiketnya beli seperti penonton pada umumnya bisa kekumpul satu juta lebih, loh. Ya... bukan maksud gimana-gimana, soalnya mereka-mereka ini sebenarnya juga tidak ada kontribusi sama sekali dengan event kalian, bukan begitu? Kalau misalkan memang sebelumnya memberi dana, katakanlah dan alumni, boleh lah, cuma kan Mas dan Mbak DPO ini cuma mau enaknya saja, betul?" ungkap Mas Alfi.

MODERASICerita yang bikin terobses. Temukan sekarang