Malam semakin larut di sudut Rumi Cafe yang mulai sepi pengunjung ini. Hanya ada alunan musik dari salah satu band lokal asal timur Kalimantan, Murphy Radio, yang bervolume rendah berbaur dengan suara mesin kopi yang sesekali dinyalakan oleh sang barista, menemani kesunyian yang ada di dalamnya. Baik Kadewa, Devan, Naren, maupun Bintang masih sibuk dengan kopi dan rokoknya masing-masing seakan terbawa dengan alunan gitar, drum, dan bass yang samar terdengar di telinga itu.
Entahlah, mereka memang dikenal di antara teman angkatan, kakak tingkat, hingga adik tingkatnya, sebagai satu kesatuan yang tak terpisahkan satu sama lainnya. Tanpa teman-temannya ketahui, takdir pun seakan mengajak mereka untuk menjadi, katakanlah sad boy, secara bersamaan. Sepertinya frasa 'teman senasib seperjuangan' benar-benar melekat di antara keempat lelaki ini.
Lucu sebenarnya gimana keempatnya kini terlihat duduk di meja yang sama, pun dengan rasa gundahnya karena urusan hati masing-masing. Pertanyaan Naren tadi seolah berhasil menguliti kenyataan yang, mau tidak mau, harus mereka jalani dan pilih: hal apa sebenarnya yang ingin mereka tuju di ambang hubungan yang tidak tentu arah dengan masing-masing wanitanya itu?
How can we get through it all?
With long enough time no one can refuse a separation
And what ever will happen now or here after don't close your eyes
Sialan. Band macam apa ini? Kenapa lagu dengan dominasi 70% instrumen dan sisanya berisi lirik, yang cukup, mematikan. Ya, lirik tidak jelas. Karena saking tidak jelasnya, hanya dengan lirik berisi tiga baris itu membuat keempatnya kembali termenung, memikirkan nasib hubungan mereka dengan masing-masing wanitanya. Ya, kurang lebih begitulah isi pikiran mereka jika bisa kita bedah dan baca.
Okay, nggak perlu berlama-lama, mari kita uraikan perkembangan kisah mereka satu per satu.
Bintang, tengah memegang gelas americano yang kini tersisa tidak lebih dari seperempat itu, sedang meratapi ketidakpastian hubungannya. Harusnya segelas americano ini sudah mampu menemaninya menikmati pahit, tanpa ada manis sedikit pun, kehidupan—terutama kisah romansanya.
"Aku juga suka kok sama kamu—"
"Tapi, kamu tau sendiri kan, kita sekarang ada di satu organisasi yang sama, satu divisi juga. Apa kata yang lain kalo misalkan... kalo misalkan kita bareng gitu,"
"Jadi, ya udah. Kita jalanin dulu aja kaya gini."
Omong kosong, pikirnya. Nyatanya, saat mereka sudah benar-benar tidak bersama—okay, ralat, tidak berada di satu organisasi yang sama, hubungannya masih saja stuck tanpa ada kemajuan.
"Aku takut, Bintang. Aku takut ngecewain kamu. Aku nggak tau gimana bilangnya ke kamu, tapi kalau aku minta kita tetap kaya gini gimana? Maksud aku, aku sama kamu. Dan perlu kamu tau, aku sama Junior cuma temen..."
Sial. Bintang teringat bagaimana obrolan terakhirnya bersama Zalva. Saat itu, Bintang hanya ingin memperjelas status hubungannya dengan kakak tingkatnya itu. Tapi yang dia dapat justru penolakan lagi dan lagi. Jadi apa bedanya dirinya dan Junior—yang katanya cuma teman itu?
"Bukan gitu Bintang, kamu emang nggak akan pernah ngerti—"
"Makanya kasih tau, Mbak Va... Biar seenggaknya aku ngerti... Kalau kamu cuma bilang gitu, aku juga nggak paham apa mau kamu, apa alasan kamu ngebiarin kita kaya gini? Aku bahkan nggak tau hal apa yang bikin kamu takut, hubungan terakhirmu kaya gimana, apa emang itu jadi salah satu alasan yang bikin kamu ngebiarin kita begini—karena setelah aku inget-inget, selama ini cuma kamu yang lebih kenal aku. Aku nggak kenal kamu Mbak Va..."
Ya, sampai itu saja, hingga akhirnya hanya ada kata "maaf" dari Zalva, dan kalimat yang nggak pernah Bintang bayangkan akan didengarnya langsung dari gadis itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
MODERASI
RomanceAll about himpunan yang katanya 'asik' nyatanya 'bisa survive' aja udah syukur.
