[29] Garis yang Tumpang Tindih

60 5 0
                                        

Sekretariat Himpunan pukul 20.00 WIB.

Hujan deras tengah mengguyur langit Yogyakarta di akhir tahun ini. Awan gelap di luar jendela sepertinya sedang menggambarkan keadaan sosok ketua himpunan yang tengah melamun sendirian dengan layar laptop dibiarkan menyala. Ahmad Kadewa Fahlafi mungkin dikenal seantero fisip karena selain jadi ketua himpunan, ia juga dikenal karena kadar gantengnya yang lumayan itu. Siapa coba yang ngga naksir, bahkan kalau mengintip sosial medianya udah ngga terhitung berapa followers requestnya. Namun, privilege yang dimiliki Kadewa tidak lantas membuat laki-laki tersebut merasa tinggi hati. Nasihat ibunda tercinta selalu menyertai setiap langkah yang Kadewa ambil. Ia ingat betul nasihat yang disampaikan pagi-pagi sebelum Kadewa mencium tangan wanita berumur 40 tahun.

"Kuliah sek bener yo Le, ora usah neko-neko. Dadi wong apik wis cukup Le."

(Kuliah yang betul, ngga usah aneh-aneh. Cukup jadilah orang baik)

Jadi orang baik ya. Kadewa sebenarnya mempertanyakan kenapa harus jadi orang baik sedangkan orang lain bisa bertindak semena-mena. Pikirannya penuh dengan masalah bertubi-tubi yang akhir-akhir ini suka sekali mengikuti Kadewa. Mulai dari anggota kelompok yang suka menghilang untuk tugas kuliah dari dosen killer, proker himpunan yang mendekati ujung periode dengan anggaran dana tidak mencukupi, hingga miskomunikasi yang tidak ia mengerti dengan gadis bernama Zevani Amaris.

Berawal dari niat baik mengantar Zeva pulang ke kos setelah rapat himpunan tidak Kadewa sangka membuat mereka berdua menjadi lebih dekat. Sebagai kakak tingkat yang baik, Kadewa hanya senang membantu Zeva karena perempuan itu tidak malu untuk bertanya dan meminta tolong. Selain itu, gadis tersebut juga pintar mencairkan suasana dengan topik dan jokes randomnya yang selalu membuat Kadewa geleng-geleng kepala. Namun, setiap kali perasaan nyaman yang aneh mulai muncul membuat pikiran Kadewa langsung memberikan alarm peringatan. Semua cuma karena trauma masa lalu yang masih sulit Kadewa hapus dari pikirannya. Menjadi orang baik saja tidak cukup untuk membuat orang lain menghargai arti sebuah ketulusan.

Flashback on

2 tahun yang lalu

Langkah kaki Kadewa tergesa-gesa menuju sebuah cafe yang sering ia kunjungi bersama orang favoritnya untuk sekedar mengerjakan tugas atau belajar bersama persiapan ujian masuk perguruan tinggi. Namun, ada yang berbeda dengan langkahnya hari ini, wajahnya sama sekali tidak menunjukkan senyum manis yang biasa ia tunjukkan ketika ingin berjumpa dengan Arinka, pacarnya sejak awal kehidupan SMA nya dimulai. Sorot matanya menangkap keberadaan Arinka di ujung cafe dengan senyum ceria yang membuat Kadewa jatuh hati kala itu. Arinka adalah cinta dan luka pertamanya.

"Sayang kok lama to, aku nunggu lama. Sekarang belajar PBM yuk sayang, kemarin aku try out..." ucap Arinka penuh semangat yang sangat berbeda dengan Kadewa.

"Udah berapa lama diem-diem ketemu sama Rian lagi?" sela Kadewa dengan tatapan yang selama ini Arinka takutkan. Tatapan kecewa dan tajam menjadi satu.

Perempuan di depan Kadewa terhenti sesaat dari membuka bukunya lalu menunduk sedih.

"Aku..."

"Tiga tahun ngga ada artinya buat kamu to Rin? Dari awal aku selalu tanya kamu bener-bener udah selesai sama Rian dan kamu yakin jawab udah terus. Sampe kemaren liat video yang jelas banget  itu Arinka pacarku lagi jalan berdua sama cowo di Prawirotaman? Mungkin ngga cuma ke situ aja ya? keliling Jogja pelukan di motor ya Rin? Jawab sayang, apa aku yang salah liat?" tidak ada emosi dalam nada bicara Kadewa tapi justru membuat perempuan di depannya sibuk menutup wajahnya sambil terisak lirih.

"Aku minta maaf Dewa, aku tau aku salah ngga jujur sama kamu dari awal kalo Rian hubungin aku lagi. Sayang, aku cuma mencoba baik jadi teman karena Rian lagi liburan di Jogja dan mamanya juga chat aku bisa nemenin ngga. Maaf..."

MODERASICerita yang bikin terobses. Temukan sekarang