Setelah break Magrib untuk isoma, kini tibalah saatnya penampilan dari guest star kedua, Ardhito Pramono. Lapangan Kenari saat itu sudah makin ramai penonton, bahkan sudah hampir memenuhi hingga bagian pojok belakang. Di balik megahnya panggung Padfest malam itu, di tengah suara riuh penonton yang tengah menunggu penyanyi favoritnya tampil ke atas panggung, situasi di backstage justru—okay, bisa dikatakan sedikit chaos, atau malah sangat chaos.
"Gitar ke kiri dikit, Van! Mic vokalis jangan terlalu dekat monitor."
"Oke, Mas."
"Kabel jack mana lagi satu? Tolong lakbanin jalur tengah, buruan!"
"Eh jangan nutupin clarinetnya!"
"LO Ardhito, Ning, monitor Ningtyas. Tolong pastiin sekali lagi, artis udah di urutan tangga naik belum?"
"Kasih aba-aba MC siap-siap closing obrolan. Perkap, Van, kasih clue ke panggung kalau instrumen udah siap ya!"
"Monitor FOH, Bintang, atau Mas Reno, kemungkinan mundur eum—berapa menit Mas Rijal?" pertanyaan Gigi itu mendapat jawaban lima jari dari Rijal. "Lima menit," lanjut Gigi dengan HT-nya itu.
"Aman Gi," ucap Bintang di FOH sana. Untung saja dengan sigap, baik dari panitia maupun vendor, saling bekerja sama hingga problems itu bisa segera diatasi.
"So... Padfest 2026, please welcome ARDHITO PRAMONO!"
Begitu nama itu diteriakkan oleh kedua MC, gemuruh teriakan penonton langsung pecah membelah langit malam. Lampu panggung mendadak mati total, yang tak berapa lama kemudian, sorot lampu mengikuti Ardhito yang berjalan perlahan mendekati keyboardnya, hingga akhirnya lighting menyala secara keseluruhan.
"Selamat malam, Jogja! Let's have some fun tonight!" sapa Ardhito, yang langsung disambut sapa riuh dari penonton.
Lagu "Bitterlove" menjadi lagu pertama yang dia bawakan. Ardhito, keyboard, dan kemeja oversized mengkilap serta kacamata hitam khasnya, sukses membuat penggemar terpana. Suara berat dan jazzy miliknya seakan menyihir barisan penonton yang ikut larut dalam alunan musik.
Bukan hanya penonton yang tenggelam dalam musik Ardhito, di salah satu tenant merchandise Padfest, tengah dijaga oleh Caca, Naren, dan dua panitia angkatan 23 yang tidak begitu mereka kenal, juga ikut menikmati keseruan penampilan Ardhito malam hari itu.
So here we go again
I'll fall in love again
Please don't tell that we're gonna be friend
Saat itu, Naren yang tengah bertopang dagu, pandangannya tidak berpindah sama sekali. Ia menatap Larissa—atau yang kerap ia panggil dengan nama Caca itu, tengah sibuk menghitung sisa kaos merchandise yang mereka jual. Maklum, mereka berdua memang masuk di sie sponsor dan kebetulan mendapatkan tanggung jawab yang sama, yaitu menjaga tenant merchandise milik mereka (kalau kata Naren sih, jodoh memang nggak ke mana).
Your love as sweet as honey in a spring
Romantic places
This time, love, you'll always be in my dream
Sungguh, Naren nggak akan memalingkan pandangannya sama sekali, dia benar-benar secara terang-terangan mengunci pandangannya kepada Caca. Bahkan jika ada yang melihat pun, sepertinya akan langsung paham sirat pandangan Naren ke Caca sekarang. Tapi sepertinya, Caca mulai sadar dan merasa risih. Ia sedikit mencuri pandang dan berdecak singkat.
"Kedip kali, Ren. Nanti naksir, kan repot."
"Kan udah naksir." Sontak kedua adik tingkat langsung melirik satu sama lain dalam diam. Caca hanya memukul gemas lengan Naren seakan menyiratkan kalau sekarang tidak hanya mereka berdua yang sedang berada di sana. Tapi ya apalah daya, Naren nggak terlalu peduli sebenarnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
MODERASI
RomanceAll about himpunan yang katanya 'asik' nyatanya 'bisa survive' aja udah syukur.
