D-3 Padfest
Suara lengkingan mikrofon sukses membuat Lapangan Kenari pagi itu ngilu berjamaah. Di tengah lapangan yang tertutup grass cover, tampak beberapa manusia sibuk ke sana kemari, mulai dari membantu mengangkat sound system, memasang barricade, hingga membawa kursi-kursi tenant. Dari wajah-wajahnya sih keliatan seperti zombi kurang tidur yang dipaksa melek pakai kopi saset.
"Jangan ditarik dulu kabelnya, Dimas!! Itu kan nyambung sama sound system utama, Gusti paringono sabar," suara Devan melengking dengan sisa-sisa tenaganya yang tinggal seperempat. Maklum, dari semalam Devan ikut berjaga bersama panitia perkap dan beberapa kru eksternal untuk persiapan puncak proker HMAP yang sangat ditunggu-tunggu itu. Kalau dihitung mungkin Devan hanya bisa tertidur sekitar 1 jam.
"Engga narik loh aku Mas," Dimas yang menjadi rekan divisinya itu menoleh ke belakang dan melihat gadis yang seharusnya menjadi biang kerok tengah menyengir lebar sambil mengucapkan kata "Sorry" tanpa suara.
"Athaya itu Mas yang narik!!" seru Dimas tidak terima menjadi pihak yang selalu kena omel, sedangkan Devan hanya melirik ke arah Athaya dan menghela nafas. Laki-laki itu memilih melanjutkan pekerjaannya yang membuat Dimas mengernyit heran.
"Sumpah ya daritadi aku mulu kena semprot, giliran Athaya nggak loh."
"Berisik Dimas!! Cepet beresin terus kita balik mandi sama ganti baju, gek gantian sama panitia lain," seru Devan sekali lagi yang membuat Dimas memilih melanjutkan tugasnya meskipun sambil ngedumel. Sedangkan Athaya tersenyum kecil dengan sorot matanya tidak sengaja bersitatap dengan Devan yang membuat ia segera memalingkan wajah.
D-2 Padfest
Lapangan Kenari pagi itu mulai dipenuhi dengan manusia-manusia berkaos abu-abu dengan tulisan CREW besar di punggung. Janu, staf mikat yang menjadi PIC Padfest tahun ini berdiri di ujung panggung dengan HT (Handy Talky) yang tidak pernah terlepas dari genggamannya. Bagi penonton mungkin sebuah konser adalah sumber kebahagiaan, tetapi bagi Janu dapat dikatakan Padfest ini sudah seperti medan perang. Rasa deg-degan sebagai PIC yang takut acaranya gagal tentu muncul di benak.
"Buat seluruh koor tolong info ke seluruh staf untuk kumpul depan panggung 09.30 ya, kita final briefing dulu sebelum nanti clear gate area," ucap Janu melalui HT nya yang langsung disambut sautan "oke", "noted", hingga "laksanakan" dari rekan koordinator seluruh divisi. Di tengah kesibukannya membaca rundown, bahu Janu ditepuk dari samping yang membuat ia menoleh dan melihat ketua himpunan dengan topi hitamnya tersenyum. Senyuman bangga yang membuat kegelisahan Janu sedikit berkurang.
"Tegang amat Nu, santai napa santai. Aman kan?" tanya Kadewa sambil netranya melihat sekeliling.
"Aman Mas, semalem sempet loading barang telat sih terus Mas Devan ngomelin orangnya haha."
"Paham banget sih Devan emang maju duluan ototnya ketimbang otaknya," ucapan Kadewa membuat Janu di atas panggung tertawa. Kadewa kembali melihat ke arah Janu, "Asik bentar lagi ngga jualan risol lagi Nu, inget Prof. Arya sampe aku tawarin pas kelas karena dipaksa anak danus suruh bantuin. Dikira aku sek jual," ucapan Kadewa sukses membuat Janu tertawa kedua kalinya dan membuat perasaan gelisahnya pelan-pelan mencair.
"Makasi ya Mas, makasi buat semua bantuannya sampe proker ini akhirnya bisa jalan."
"Ini hasil kerja keras kita semua, Nu. Pokoknya hari-h nanti kita full seneng-seneng," ucap Kadewa yang kemudian merangkul pundak Janu.
D-1 Padfest
Jika dalam kamus orang lain D-1 itu waktunya menenangkan pikiran untuk persiapan hari esok, sangat berbeda dalam kamus panitia konser. D-1 adalah sinonim dari simulasi uji nyali mental. Suara lakban yang ditarik hingga lengkingan pengeras suara masih menggema di siang hari yang semakin terik.
KAMU SEDANG MEMBACA
MODERASI
RomansaAll about himpunan yang katanya 'asik' nyatanya 'bisa survive' aja udah syukur.
