TWENTY NINE

39 1 0
                                        

Carlton

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Carlton

Pagi itu aku datang ke Praire lebih dini dari biasanya dan hanya ditemani Ben, dimana hari itu aku akan menjadi pemain Royal Charity Polo yang membawa tim King Royal untuk pertandingan amal. Boleh dikata Miranda tidak pergi, terutama karena gaun yang menurut rencana akan dikenakannya ternyata belum siap. Dia yang sebenarnya bisa berpakaian baik dengan membeli satu toko penuh pakaian baru, malah memilih menyerahkan kepada modiste tiga gaun untuk dirombak. Ketiga gaun itu harus dirombak sedemikian rupa supaya tak dikenali lagi, dan ketiganya harus sudah siap tiga hari yang lalu. Ternyata dua gaun sama sekali belum siap, sedangkan satu lagi dirombak tidak seperti yang diminta.

Ketika dia masih bersolek di dalam kamarnya, dengan jengkel aku bergegas pergi tanpa mengatakan apapun. Sehingga sekarang aku masuk ke lounge dengan langkah tergesa-gesa, disana aku bisa melihat area khusus untuk menikmati acara sosial sebelum pertandingan dimulai. Disana aku mengangguk kepada kalangan bangsawan yang sudah hadir, menyapa kakaknya, Rosemary serta suaminya, Alberto Wettelsbach dan kemudian bergabung bersama sepupunya, Wavery dan Eleanor sebelum pertandingan utamanya dimulai.

"Bravo! Louiss!", teriak Eleanor sambil melompat sampai mejanya berderak. "Marquess yang datang! Wavery, kopi buat dia dari teko yang baru. Untuk pengantin baru!"

"Jangan dibahas! Aku harap kamu puas dengan hiasan kabinetmu", kataku sambil menunjuk kopinya.

"Lebih daripada itu", kata Eleanor sambil tersenyum riang. "Bagaimana tidak sobat."

"Kamu tak pernah bisa mengatakan hal-hal manis macam itu", kataku kepada Eleanor.

"Kamu pilih apa yang mau kita makan", kata Wavery sambil menyerahkan daftar menu itu dan menatapnya.

"Aku tidak ingin makan."

"Ah, ya!", katanya dan mulai menanyakan soal kuda. Dengan senang hati aku mendengarkan repetan Wavery, sesekali mengatakan ya, memberi nasihat yang setengahnya kelakar.

Pukul tujuh, Wilhelm Magnus Enrique yang merupakan putra pertama dari Pangeran Felipe calon penurus tahta kerajaan, berwajah kemerahan, berambut pirang, datang bersama kekasihnya Isabelle Cavendish dan memenuhi ruangan dengan wibawanya.

"Akhirnya kamu datang", aku berkata sambil menjabat tangan dingin Wilhelm.

"Isabelle, taruhan!", terdengar suara Rose kakaknya ditujukan kepada kekasih Wilhelm. "Kamu pegang King Power atau Lion?"

"Aku pegang Wilhelm", jawab Isabelle malu-malu.

"Jelas."

"Bagus sekali, betul tidak?"

"Baru pulang dari Lake Como?", tanya Wilhelm.

"Itu sudah beberapa minggu yang lalu. Wilhelm, kau mau kopi?", aku berkata kepada Wilhelm tanpa disebutnya duke menurut gelar kebangsawanan Wilhelm yang menandakan keakrabannya.

THE SECRETCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang