Number Nine s-2?

391 49 28
                                        

Dinasti Goryeo

Di sebuah desa yang dikelilingi pegunungan berkabut. Hari itu langit tampak kelabu, seakan menjadi pertanda buruk yang belum dipahami siapa pun.

Di sebuah rumah besar milik keluarga pendekar pedang, suara dentingan pedang beradu memenuhi udara. Gema logam melawan logam, disertai napas berat para prajurit yang sedang berlatih. Keluarga ini bukan keluarga biasa. Sang ayah, Dimas, adalah pemimpin pasukan pendekar pedang yang disegani. Sang ibu, Nabila, seorang wanita yang anggun namun menyimpan rahasia besar tentang garis keturunannya.

Dan ketiga putri mereka—Gracia, Gita, dan Christy—adalah saksi kecil dari kehidupan yang penuh darah dan perjuangan. Sejak kecil, mata mereka terbiasa melihat luka dan kematian, telinga mereka terbiasa mendengar jeritan prajurit, dan hati mereka ditempa untuk bertahan.

Namun, tidak ada yang menduga bahwa malam itu akan mengubah segalanya.

---

"Gracia..."  suara lembut Nabila memanggil putri sulungnya. Wajah wanita itu tampak serius, sorot matanya menyiratkan beban yang tak bisa ditunda. "Kamu adalah putri tertua di keluarga ini. Ada hal yang sudah harus kamu ketahui mulai saat ini."

Gracia mengerutkan kening, bingung. "Hal apa, Ibu?" tanyanya.

Sang Ibu tak lantas menjawab, namun begitu, ia mengisyaratkan pada sang putri untuk mengikuti langkahnya menuju gudang senjata di bagian belakang rumah.

Gudang itu gelap dan berdebu, dipenuhi rak-rak kayu yang menopang pedang-pedang terasah. Aroma besi bercampur minyak pelumas memenuhi udara. Nabila berjalan mantap, lalu berhenti di depan sebuah peti kayu besar yang disegel dengan rantai tua. Ia membuka segel itu, memperlihatkan sesuatu yang tak pernah dilihat Gracia sebelumnya—sebuah pedang bercahaya samar, berbeda dengan pedang mana pun.

"Ini..."  bisik Gracia, matanya membesar.

"Pedang ini berasal dari masa depan,"  jawab Nabila perlahan. Tangannya yang halus mengangkat senjata itu, lalu meletakkannya di hadapan Gracia. "Pedang ini istimewa. Ia hanya akan patuh pada darah yang terpilih. Dan darah itu... ada padamu."

Gracia terdiam, jantungnya berdegup kencang.

"Kamu sudah sepuluh tahun, Gracia. Keistimewaanmu seharusnya baru muncul pada usia lima belas. Namun, jika kamu cukup kuat... kamu bisa membangkitkannya lebih awal."

"Aku tidak mengerti, Ibu," gumam Gracia, suaranya bergetar.

Nabila tersenyum tipis, lalu menatap putrinya dengan tatapan yang penuh kasih sekaligus tegas. "Kamu akan menjadi penjelajah waktu, sama seperti ibu,"

Kata-kata itu menghantam Gracia layaknya petir. Penjelajah waktu? Ia ingin bertanya lebih jauh, namun sebelum sempat berbicara, sang Ibu mengarahkan pandangannya ke arah lain. "Gita..." pantau Nabila dengan suara lembut. "Kemarilah."

Gita muncul dari belakang sebuah lemari besar tempat penyimpanan senjata. Gadis kecil itu menunduk, wajahnya pucat, kedua tangannya saling meremas karena ketakutan.

"Maaf, Ibu... aku tidak sengaja mendengar percakapan Ibu dan Kak Gracia." suaranya kecil.

Nabila tersenyum, mendekati Gita dan meraih pundaknya. "Kamu gak bersalah, Nak. Rasa ingin tahumu besar, sama seperti kakekmu dari masa depan."

Gita terbelalak. " Kakek... dari masa depan?"

Nabila mengangguk. "Benar. Kalian berdua bukan hanya putri seorang pendekar pedang, tetapi juga pewaris darah penjelajah waktu."

Nabila berdiri tegak, menatap kedua putrinya bergantian. "Ibu tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Tapi, hari ini sudah waktunya bagi kalian untuk kembali pada takdir kalian yang sebenarnya."

Number NineTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang