46. Menghindar

6 3 0
                                        


°

°

°
Hari baru di sambut oleh mentari pagi yang menyinari bumi, semua orang mulai terbangun dari tidurnya dan menjalankan aktivitasnya seperti biasa.

Begitu juga seorang Celia yang mulai terbangun dari tidurnya dengan mata yang sembab, bukan hanya sembab, tapi juga memerah.

"Sakit..." lirihnya.

Celia memegangi matanya yang amat terasa sakit seperti tidak bisa di buka, tentu penyebabnya karena ia menangis semalaman.

Merasa hancur dan tak terima dengan alur dunianya.

"Celia bangun, sayang. Ayo sarapan pagi dulu," Terdengar begitu lembut suara Mommy Celia, dan tentunya membuat Celia tenang kembali.

"Iya, Mom." Celia membalas dengan lesu.

Ia beranjak dari ranjangnya menuju ke kamar mandi.

Celia memulai ritual mandinya dengan teliti, ia juga berusaha menahan air mata yang mulai mengalir kembali.

Sakit? Tentu sangat-sangat sakit, ingat. Celia hanya seorang gadis yang... Lemah.

Setelah selesai dengan ritual mandinya, Celia langsung bersiap-siap untuk berangkat sekolah. Ia merapikan pakaiannya serta alat-alat yang akan di bawa ke sekolah, tapi hatinya tak di rapikan.

"Sembab, " Celia bergumam sambil duduk di kursi rias, ia menatap matanya yang sembab melalui kaca.

Ia menghembuskan napasnya dengan kasar, dan mulai bangkit dari duduknya.

Ia segera menggendong tasnya, dan langsung menuruni anak tangga untuk sampai ke lantai pertama.

"Morning," Celia menyapa keluarganya yang telah berkumpul di meja makan.

"Morning, sayang."

"Morning too princess nya Papa!"

"Too, princess nya Abang!"

Keluarga Celia membalas dengan hangat, tapi wajah Celia tetap terlihat lesu dan tak bersemangat.

"Celii makan di sekolah aja, Celii berangkat. Assalamu'alaikum," Celia berpamitan pada keluarganya, tak lupa menciumi punggung tangan keluarganya secara bergantian.

Seketika keluarga Celia diam membisu, tak bisa berkata-kata lagi. Sejak kapan Celia si ceria nan periang menjadi murung seperti ini?

Celia tak menghiraukan tatapan keluarganya, ia melangkah keluar mansion.

Saat di luar mansion, seketika Celia menjadi dejavu alias mengingat-ingat momen lama lagi.

Rain yang sedang mengobrol dengan Pak Slamet, Rain yang selalu memberikan kecupan pagi, Rain yang selalu tersenyum ke arah Celia setiap saat, Rain yang rela menunggu Celia di gerbang.

Ahh, Celia mengingat itu semua!

Kini hanya terlihat pohon-pohon serta tanaman hijau yang berliak-liuk kesana kemari karena angin yang menerpa.

Dingin. Itu Celia yang rasakan sekarang.

Tanpa mau berlama-lama merenung lagi, Celia langsung melangkahkan kakinya menuju ke sekolah.

Berjalan kaki? Ya, Celia berjalan kaki menuju sekolah, dan pastinya akan mendapat perhatian para murid-murid, karena tak bersama Rain.

Sesampainya Celia di sekolah, seluruh murid-murid mulai menatap Celia dengan keheranan. Mengapa tak bersama Rain?

"Bagus deh gak sama pacar gue!"

"Bener banget tuh!"

"Kasian banget gilakk!"

Celia & Rain [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang