47. Sendiri

5 3 0
                                        

Siapkan mental kalian!

°

°

°
Bel pulang sekolah berbunyi, dan seperti biasa. Murid-murid akan ricuh dan ribut keluar kelas masing-masing untuk pulang.

Celia berjalan keluar dari sekolah, ia berdiri di depan gerbang sekolah dan berharap ada sebuah Taxi lewat.

Lama kelamaan area sekolah semakin sepi, murid-murid yang tadinya riuh piuh sudah pada pulang ke mansion nya masing-masing.

Celia menunggu sampai satu jam pun tak ada Taxi yang lewat, tiba-tiba sebuah motor sport berwarna hitam berhenti di samping tubuh Celia.

Pria itu memakai helm full face, jadi wajahnya tak terlihat jelas!

"Ayo naik, " Pria itu berbicara. Celia menoleh, seperti tak asing dengan suaranya.

Celia mengerutkan keningnya. "Kak Epan?"

Revan mengangguk. Benar, pria itu adalah Revandra Raindraga.

"Ayo naik, sebelum gue berubah pikiran. " Revan.

Celia sedikit takut, dan ia sedikit tak yakin bahwa itu adalah Revan. "Kak Epan gak macem-macem kan?"

Revan terkekeh, "sejak kapan gue mau macem-macem sama lo? Emang gue cowok apaan? Buruan naik aja kali, gue tau kok alamat mansion lo. "

Celia tersentak kaget. "Darimana Kak Epan tau alamat mansion aku?"

"Gak perlu tau, buruan naik atau gue pergi sekarang juga?" Revan menatap kearah wajah Celia yang menggemaskan.

"G৷l4 lo, Van! Oke, jangan sampe lo bentak-bentak pacarnya si kutub es ini!" Revan membatin dengan perasaan was-was.

Celia mengangguk pasrah, ia mulai menaikki motor sport Revan.

"Udah?"

"Udah, Kak!"

Dengan segera Revan langsung melajukan motornya, ia akan mengantarkan Celia sekarang.

Sesampainya di mansion keluarga Celia, dan tepatnya sudah pukul 17:00.

"Makasih, Kak Epan!"

"Hmm, sama-sama."

Celia tersenyum manis.

"Yaudah, gue pergi dulu. " Revan berpamitan seraya menghidupkan mesin motornya.

Celia mengangguk.

Revan mulai melajukan motornya kembali meninggalkan area mansion keluarga Celia.

Celia berbalik badan lalu mulai melangkahkan kakinya menuju ke dalam mansion.

Pak Slamet membukakan gerbang dengan senyuman yang tak pudar-pudar.

Celia bingung, biasanya mansion ini terasa begitu ramai seperti pasar, televisi yang menyala, candaan serta tawaan yang selalu terdengar. Semua jadi tak terdengar sekarang.

Sepi.

Sunyi.

Celia bertanya kepada Pak Slamet. "Pak, yang lain pada kemana ya? Kok sepi gini?"

Pak Slamet tetap menampilkan senyumnya, "tadi yang lain sudah pergi, Non. Katanya mereka ada urusan, "

Celia menampilkan wajah kesalnya, mengapa ia tak di ajak sekarang?

Selalu saja di tinggal, padahal jika keluarga Celia pergi selalu berpamitan dulu pada Celia.

Celia memasuki mansion dengan wajah kesalnya, ia pergi ke kamar dan segera membersihkan dirinya sendiri.

Celia & Rain [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang