Maaf ya kakak kalau update nya terlalu lama. . .
Belakangan ini saya sibuk banget kakak, setelah ini akan saya coba update tiap hari...Buat yang udah nunggu...
Selamat membaca... ^^-----------------------------------------------------------
"Apa yang kalian lakukan? Kalian tahu ini jam berapa?!" Suara Ayah mulai terdengar menggema. Viny berdiri tenang dengan wajah datar biasanya, sedangkan Veranda.. ia terlihat gusar gelisah dalam kecemasan disertai setengah menundukan kepalanya.
"Kenapa tidak ada yang menjawab! Kamu.. ini pasti semua ulah kamu kan? kamu ajak kemana Kakak kamu?" Tanpa Ayah sebutkan nama Viny, beliau bersuara tinggi seolah dan nyata terlihat kalau beliau sedang menjadikan Viny tersangka utama tunggal.
"Ayah tidak suka kalau kamu.. mempengaruhi Kakak kamu untuk menjadi seperti kamu yang tidak bisa diatur, yang suka seenaknya tapi tidak bisa apa-apa!!" Bentaknya kasar.
"Ini bukan salahnya Viny Yah! A..Aaku yang ngajak dia keluar!" Veranda yang sempat terlihat cemas, jadi merasa punya kekuatan untuk membela Viny yang mulai terdengar dipojokan Ayah.
"Aku minta Viny temenin aku buat.. buat nyari bahan untuk tugas di kampus Yah." Meski dengan suara agak gemetar, Veranda mencoba memberikan alasan.
"Kamu tidak pandai berbohong Veranda. Jangan menutupi kesalahan yang sudah dibuat oleh adik kamu ini! Dia memang selalu paling bisa membuat Ayah harus mengeluarkan suara keras. Bisa-bisa Ayah kena serangan jantung karena ulahnya!.." Emosi Ayah tetap menyalahkan Viny.
"Kamu itu harusnya malu dengan apa yang Kakak kamu lakukan. Dia mau-maunya belain kamu yang sebenarnya tidak pantas untuk dibela. Dia mau pasang badan hanya demi kamu dihadapan Ayah! Veranda tidak pantas melakukan itu hanya untuk kamu yang.. arghh kenapa Ayah harus mengalami ini semua!!" Ayah nyata meledakan emosi jika dihadapkan pada Viny.
Viny yang merasa pusing dengan suara kerasnya Ayah, bersiap mengambil langkah untuk mengamankan emosi jiwa yang sebenarnya ingin dia ledakan juga kala mendengar suara keras Ayah yang selalu memporak-porandakan hatinya. Tapi kali ini.. hindaran Viny tidak Ayah diamkan. Ayah menghentikan langkah Viny lewat kuncian tangannya yang ia letakkan tepat dipergelangan tangan Viny yang baru saja mendapat pengobatan. Seketika! Genggaman Ayah yang cukup kuat membuat Viny merasakan sakit lagi. Veranda yang melihat hal itu refleks menggunting genggaman Ayah di pergelangan Viny. Dan hal itu kontan saja membuat Ayah yang tengah emosi pada Viny jadi lebih emosi karena Veranda yang selama ini bisa beliau atur tiba-tiba bertingkah kasar seolah menentangnya.
"Maaf Yah. Tapi tangannya Viny,-" Ucapan Veranda tidak bisa dia selesaikan karena Viny yang sudah lepas dari genggaman Ayah berlari kecil meninggalkan Ayah, Ibu yang terlihat sedih dan juga Veranda yang coba jadi pelindungnya.
"Seperti ini..,- seharusnya kamu tidak pergi sama anak itu. Lihat kamu sekarang Ve? Berani kamu mencoba menentang Ayah?! Dia memang cuma bawa pengaruh buruk untuk keluarga ini! Dia itu seharusnya,.... .... ...." Suara Ayah sudah tidak lagi terdengar oleh kedua telinganya Viny. Karena dia sudah sampai dikamarnya.
"Sekali lagi Ayah lihat kamu dengan anak itu keluar sampai larut seperti ini.. Ayah akan simpan dia di panti asuhan! Agar kamu tidak terpengaruh dengan kelakuan jeleknya itu!!" Ujarnya mengingat sebentar lagi Veranda akan mengikuti kompetisi biola dan ditambah dengan pendidikannya yang hanya tinggal satu tahun lagi menuju toga sarjana. Kalau Veranda dekat Viny bisa-bisa dia tidak fokus pada pendidikan dan bidang lainnya yang bisa menghasilkan prestasi membanggakan untuk bisa Ayah elukan.
"Tapi Yah ini semua bukan salahnya Vi,-" Veranda masih tetap membuat pembelaan.
"Cukup Veranda! Sekarang kamu masuk ke kamar dan renungkan apa yang sudah kamu lakukan!" Ayah memotong pembelaan Veranda dengan tegasnya.
