Sebuah pesan singkat berisikan lokasi yang dikirim oleh Askal membuat Vali bingung. Untuk apa dia mengirimkan lokasi kepadanya? Bukankah dirinya akan ke rumah utama? Tapi karena penasaran akhirnya Vali membuka lokasi tersebut. Vali menyerngit heran lokasi tersebut bukan menuju rumah Askal. Kemana dia pergi sebenarnya. Dengan perasaan yang sedikit gundah Vali menelpon orangtua Askal memastikan apakah Askal sudah sampai atau belum.
"Bibi, apakah Askal sudah sampai?" Orang yang berada di sambungan telepon tersebut berbalik bertanya padanya.
"Bukankah kamu bersamanya?"
"Tidak bibi, aku berangkat nanti karena masih ada urusan. Jadi Askal belum sampai?"
"Belum"
"Oh baiklah bibi, Sampai nanti"
"Ada ap-" Belum selesai berbicara namun sambungan telepon tersebut sudah dimatikan sepihak oleh Vali.
"Kemana bocah itu pergi." Vali memastikan kembali lokasi tersebut.
"Tunggu.... Lokasi ini bukankah konstruksi terbengkalai itu?" Dengan cepat Vali menelepon Ega untuk meminta bantuannya.
"Ega ku kirimkan kau sebuah lokasi datanglah dengan membawa beberapa polisi."
"Untuk?"
"Bodoh, kekasih mungilmu diculik!! Aku tidak bisa menangani ini sendiri karena dia pasti membawa banyak orang." Ega terheran-heran siapa yang Vali maksud? dirinya saja tidak memiliki kekasih jadi siapa yang dia maksud?
"Tunggu!! Siapa yang kau maksud?"
"CK, AYOLAH JANGAN BANYAK BERTANYA LAKUKAN SAJA APA PERINTAHKU!!" Vali langsung menutup sambungan telepon. Sedangkan Ega yang berada diseberang sana masih mencerna ucapan Vali. "Siall, Apa yang sebenarnya terjadi? Bukankah sudah ku peringatkan bocah itu untuk tidak gegabah!" Vali dengan bergegas mengendarai mobilnya dengan kecepatan yang agak tinggi menuju lokasi tersebut.
***
Sesampainya dilokasi Vali menyusuri semua lokasi namun tidak menemukan suatu petunjuk apapun.
"Sebenarnya dimana mereka? Aku bahkan tidak bis- Tunggu bukankah itu gadis yang pernah aku jumpai kala itu." Vali melihat Rosa berjalan menuju arah seorang preman dengan perlahan dirinya mengikuti dari belakang.
"Apakah pria itu aman?" Tanya Rosa pada salah satu preman tersebut.
"Tentu nona, kami tidak berani membunuhnya." Rosa mengangguk dan memasuki ruangan tersebut.
Askal menatap gadis yang ada di depannya ini dengan tatapan tak acuh sedangkan gadis tersebut menatap dirinya dengan rasa kesal yang memuncak. Gadis itu berjongkok dengan mencengkram pipi Askal sembari berkata.
"Kau tau apa yang paling aku benci darimu!"
"Karena aku mendapatkan apa yang tidak kau dapatkan!" PLAKK sebuah tamparan mendarat di pipi Askal. Askal sedikit mendesis dan menatap tajam ke arah gadis tersebut.
"Sial, gadis ini tamparannya cukup menyakitkan, andai saja aku tidak terikat sudah ku habisi dia."
"Ohh, kenapa? Kau tidak terima? tatapan mu sungguh menakutiku" ucap gadis tersebut dengan nada remeh.
"Ega bukan gay. Tapi semenjak kau bersamanya dia menjadi seperti ini!" Rosa bangkit kemudian berjalan menuju kursi yang tak jauh dari Askal.
"Kurasa kau yang tidak mengenal Ega." Rosa menyerngit
"Apa maksudmu? Ega memang gay?"
"Aku juga tidak tau, tapi kurasa dia tidak gay namun dia juga tidak tertarik dengan perempuan."
KAMU SEDANG MEMBACA
What Is This
Narrativa generale"aku tidak menyangka akan menjalani hariku seperti ini bersama dengannya untuk selamanya mungkin?"
