12

10.3K 821 4
                                        

Huaaaa. .....kemarin aku baca ulang part 11...ternyata banyak banget typo.... sampe aneh rasanya pas baca.... pengen di hapus aja... masa kata-kata nya jadi berubah arti gitu.... duh....harus makin hati-hati nih nulisnya.... masalahnya setiap ngetik kata baru, dan kata itu gak terdaftar di daftar kosa kata, langsung deh otomatis berubah....duuuuh. ...gimana ya???...

Ya udah deh... itu urusan author aja... okay readers.... keep reading....

________________________________________________________________



Siang itu, Sisi duduk bersama Digo dan Pak Yanuar, membicarakan pengembangan resort kedua orang tua mereka.

Sisi menyetujui semua gagasan Digo karena pada dasarnya memang apa yang dipaparkan Digo sangat brilliant dan tidak ada alasan untuk menolaknya. Lagipula Sisi ingin segera kembali menggeluti pekerjaan lamanya.

Bukannya ia tidak senang berada di Bali dengan sejuta pesona yang dimiliki oleh pulau dewata itu. Tapi terus menerus bertemu dan berdekatan dengan Digo sangat tidak menyehatkan jantungnya.

Setelah menyelesaikan urusannya dengan Pak Yanuar, Sisi bergegas menemui Randy yang sudah menunggunya di teras depan.

"Mau kemana kita?" tanya Sisi setelah mendekat dan Randy merangkul bahunya dengan sayang.
Sepertinya Sisi sudah bisa menerima alasan Randy menerima bakal perjodohan mereka di usia Sisi yang ke dua puluh tiga nanti.

"Kita ke Tanjung Benoa aja. Aku pengen main parasailing dan jetsky. Dan kamu harus coba flying fish, Si. Pasti seru!" Sisi menonjok bahu Randy pelan. Wajahnya cemberut.

"Kamu kan tau kalau aku phobia ketinggian," gerutu Sisi kesal. Randy memang paling jago kalau menggodanya. Sejak mereka kecil, Sisi memang paling dekat dengan Randy dibandingkan sepupunya yang lain. Dan Sisi sudah hafal tingkah menyebalkan Randy.

Randy tertawa lepas, mengacak rambut Sisi hingga gadis itu berteriak-teriak kesal. Ia lalu kembali merangkul bahu Sisi dan mendorongnya masuk ke mobil, dan berlalu dari halaman resort.

Semua adegan itu diamati Digo dengan mata menyipit. Ia yakin, hubungan Randy dan Sisi hanya sebatas hubungan saudara. Melihat cara Randy memperlakukan gadis itu, Digo melihat yang ada hanya perlakuan sayang sebagai saudara, bukan seperti seperti yang Digo lakukan terhadap Sisi. Tapi, Digo tetap tidak suka melihat Randy dekat-dekat dengan Sisi nya.
Sisi hanya untuknya. Dan Digo tidak suka miliknya disentuh orang lain.

Digo mengambil ponselnya, menghubungi seseorang, kemudian bergegas turun mengambil Maybach Landaulet dark silvernya di garasi yang kemarin baru saja diantar Pak Tono, driver kantornya.

Ia harus mengalihkan pikirannya. Kalau tidak, bisa gila ia terus menerus membayangkan Sisi yang sedang berdua dengan Randy.

Dipacunya Maybach nya dengan kecepatan tinggi sepanjang jalan menuju kota. Resort nya yang memang terletak agak terpencil memudahkan Digo menyentak mobilnya dengan kecepatan angin tanpa takut terjadi sesuatu. Lagipula, itu kawasan Davista. Papi nya sudah membayar dengan mahal untuk memiliki kawasan itu.

Digo sampai ke sebuah bukit terjal. Diparkirnya Maybach nya di pinggir jalan. Ia berjalan turun. Tidak peduli sengatan matahari yang saat itu sedang terik-teriknya.

Sebenarnya, ia tidak ingin menggunakan cara kotor, tapi jika Sisi begitu sulit menerimanya, ia akan menggunakan kekuasaannya untuk menjerat gadis itu.

Digo menuruni bukit itu menuju pantai. Disipitkannya mata tajamnya melihat beberapa orang tampak sibuk di daerah sekitar pantai itu. Terlihat beberapa peralatan make up dan kamera bertebaran. Seorang lelaki bertopi dengan tubuh tegapnya tampak sedang mengarahkan beberapa gadis. Rupanya sedang ada pemotretan disana.

Reach YouTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang