19

11.9K 897 6
                                        

Alena menatap laki-laki dihadapannya dengan tatapan menggoda. Dasar kunyuk gila! Umpatnya dalam hati. Gara-gara Bara, ia harus memasang muka manis di hadapan laki-laki pengecut ini.

"Jadi? Bagaimana Nona manis? Apa kamu setuju dengan penawaranku?"

"Saya sih berminat dengan tawaran Bapak. Tapi sebaiknya semua ini dibicarakan dengan manager saya saya, Pak Bryan. Terus terang saya tidak suka hal-hal yang ribet. Jadi saya sudah menyerahkan semua urusan kontrak dengan manager saya," ujar Alena mengerling menatap mata Bryan.

"Itu gampang! Saya akan bayar anda sangat tinggi! Apakah anda bisa memanggil manager anda agar kita bisa segera negosiasi harganya?" Bryan tersenyum culas.

Alena tersenyum manis dan mengetikkan sesuatu di ponselnya, menghubungi seseorang.

"John? Bisa kamu ke Franco's sekarang juga?" ujar Alena sambil melirik pada Bryan yang menatapnya lekat.

"....."

"Yeah. Penting John!"

"....."

"Apa? Red Horizon? Kamu yakin? Bukannya perusahaan itu diambang pailit ya?"

"......"

"Oh... benarkah? Tapi sepertinya aku menemukan penawaran yang lebih menarik, John," Alena mengedipkan sebelah matanya pada Bryan dengan genit.

"......"

"Oke, aku tunggu, John," Alena menutup pembicaraan per telpon nya, lalu memperbaiki posisi duduknya menghadap Bryan.

"Jadi?" tanya Bryan menaikkan alisnya, ingin tau dengan isi pembicaraan Alena yang membawa-bawa Red Horizon.

"Manager saya sudah menandatangani kontrak dengan perusahaan lain, Pak Bryan," sahut Alena dengan memasang wajah menyesal.

"Saya punya dua puluh lima persen saham di Red Horizon, Nona Alena. Dan saya akan membayar anda lima kali lipat dari Red Horizon, asal anda membatalkan kontrak anda dengan Red Horizon!" ada nada geram dalam suara Bryan.

"Well... we'll see, Mr. Bryan. Saya tidak dapat memutuskannya sendiri. Anda harus membicarakannya dengan manager saya," ujar Alena tersenyum menantang Bryan.

Bryan menggeram marah. Untuk saat ini, ia memang memiliki dua puluh lima persen saham Red Horizon. Tapi itu belum cukup untuk menguasai perusahaan tersebut. Masih ada tujuh puluh lima persen saham yang sampai sekarang sangat sulit ia ambil alih jika ia ingin sepenuhnya menguasai Red Horizon.

Apalagi dengan tersebarnya berita bahwa putri tunggal Steven Maurice tengah menjalin hubungan khusus dengan pewaris tunggal Davista, membuat harga saham Red Horizon dengan perlahan mulai merambat naik. Ia sudah menginstruksikan orangnya di bursa saham agar menekan laju harga saham Red Horizon pun tidak membawa hasil yang bagus. Malahan orang kepercayaannya di bursa saham menjadi sangat sulit dihubungi dan berkesan menghindar.

Sekarang jalan satu-satunya agar Red Horizon menjadi tidak semakin baik adalah dengan menyabotase bintang iklannya.

Pintu ruang kerja Bryan diketuk, lalu seorang berkaca mata modis dengan dandanan trendy muncul dan segera duduk di samping Alena.

"Penawaran apa yang lebih menarik dari penawaran Red Horizon, Alena?" tanya laki-laki itu begitu duduk.

"Kenalkan dulu John, ini Bapak Bryan. Pemilik Franco's company," Alena memperkenalkan.

"Oh, ini manager kamu, Alena?" tanya Bryan tersenyum menjabat tangan John erat, seolah menunjukkan kuasanya.

"Ya. Dan saya rasa kami tidak dapat menerima tawaran anda, Mr Bryan. Kami sudah menerima dan menandatangani kontrak dengan Red Horizon selama tiga tahun kedepan," kata John serius.

Reach YouTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang