Hari kedua MOS. Kinal telat lagi seperti kemarin, dan pak guru memberi hukuman ke Kinal setelah pulang nanti.
Sama seperti hari pertama, hari ini di MOS juga hanya memberikan materi tentang pengenalan sekolah ke siswa/i baru.
Setelah MOS berakhir, Kinal dan yang lainnya diberi pengumuman tentang pembagian kelas oleh pak guru. Dia mendapat kelas X-1, satu kelas dengan Angga dan Olivia, untuk dua puluh dua orang lagi diambil dari kelas MOS lain. Karena satu kelas nantinya akan terisi dua puluh lima orang siswa/i saja.
MOS selesai, dan Kinal sudah mendapatkan kelasnya besok, ditambah dengan hukuman yang pak guru berikan akibat ia terlambat masuk kelas tadi pagi. Sudah cukup rasanya penderitaan Kinal setengah hari ini.
Kinal mendapat hukuman menulis aku tidak akan telat lagi satu lembar full, sebanyak seratus halaman dan harus dikumpulkan besok pagi.
Sepulang sekolah Kinal mengerjakan hukuman itu, dia mengerjakannya di ruang tamu depan kamar, karena didepan kamar kosnya ada sofa plus meja untuk bersantai.
Tempat itu sengaja dipergunakan untuk nerima tamu jika penghuni kos tidak mau mengajak tamunya masuk ke dalam kamar. Ruang tamu sederhana dan sofa yang empuk, cukup nyaman buat mengerjakan hukuman yang pak guru berikan ke Kinal.
Sambil menulis Kinal ditemani musik yang di play via smartphone dan sebuah minuman kaleng serta snack kentang di meja.
"Anak pinter, baru juga masuk udah dikasih tugas aja," ujar seorang gadis yang tiba-tiba datang dan duduk di sofa depan Kinal. Kinal melihat ke arah gadis itu kemudian tersenyum. "Kenalin gue Yupi, nama lu siapa?" tanya Yupi sambil mengulurkan tangannya didepan Kinal.
Kinal meraih tangan Yupi untuk bersalaman, sedangkan tangan kiri Kinal ia gunakan untuk membetulkan kacamatanya yang turun, lalu ia menyebutkan nama.
"Kinal," kemudian mereka menarik tangan masing-masing untuk menyudahi perkenalan.
"Lu nulis apa?" Yupi berdiri untuk melihat apa yang ditulis Kinal, tapi dengan cepat Kinal membalikan bukunya, hingga Yupi tak bisa melihat.
"Kepo aja iih..." jawab Kinal dengan raut wajah tak suka. Yupi begitu kesal, ia langsung duduk kembali di sofa sambil memakan snack kentang milik Kinal. Kinal menatap Yupi dengan matanya yang membulat. "Itukan makanan gue," kata Kinal mengernyitkan dahi melihat snacknya dimakan.
"Bagi, pelit banget sih lu. Udah gue mau liat tugas lu gak dikasih, terus sama makanan pelit juga, eerrgghhh... Mau cepet kaya?" ujar Yupi menyindir Kinal.
Kinal hanya geleng-geleng kepala melihat Yupi, lalu dia melanjutkan hukumannya untuk menulis kembali dan membiarkan Yupi begitu saja karena sudah memakan snack miliknya. Saking penasaran apa yang sedang ditulis Kinal, Yupi melirik tajam ke meja.
"Aku tidak akan telat lagi... Hahaha," kata Yupi kencang lalu tertawa terbahak-bahak.
Kinal yang mendengar Yupi tertawa langsung bangkit dan berdiri, dia mendekati Yupi untuk menutup mulutnya dengan tangan supaya Yupi berhenti mengejek.
"Sssttt... Diam!" ucap Kinal cepat. "Auw, sakit!" Kinal mengaduh kesakitan ketika tangannya digigit Yupi yang telah membekap mulutnya. Sampai Kinal mengibas-ngibaskan tangan yang digigit Yupi lalu meniupnya supaya rasa sakit itu hilang.
"Sukurin, rese sih lu pake bekep mulut gue segala," ujar Yupi kesal.
"Bisa gak sih lu gak ganggu gue?!" Kinal langsung membereskan semua alat tulisnya di meja dan mengambil smartphone miliknya, serta minuman kaleng lalu merampas snack kentang di tangan Yupi kasar.
