Pagi ini udara di puncak begitu dingin, membuat seluruh manusia enggan beranjak dari tempat tidur mereka masing-masing, dan mereka akan memilih menarik selimut kembali untuk menutupi tubuhnya sambil bersembunyi dibalik sana.
Ya, itu terjadi pada Kinal dan Veranda. Mereka berdua enggan bangun dari peraduan tidur nyenyak dengan udara dingin puncak yang begitu menyayat tubuh, kemudian masuk hingga ke tulang.
Posisi ternyaman Kinal yang dipeluk Veranda, dan sebaliknya membuat mereka ingin terus terlelap dalam tidur. Sampai pada kicauan burung yang bernyanyi di pagi hari membangunkan sang bidadari dari tidur lelapnya.
Veranda tersenyum melihat Kinal yang masih tidur pulas dengan mulutnya yang menganga. Berkali-kali dia membangunkan Kinal dengan suaranya yang lembut.
"Sweetheart bangun, udah pagi."
Tapi Kinal tidak mau bangun, Veranda terus mencoba dengan sedikit guncangan pada bahu Kinal begitu kencang, dan tetap saja dia tak bangun-bangun.
Haahhh...helaan nafas Veranda terdengar jelas.
Cup!
Satu kecupan Veranda berikan ke pipi Kinal.Kinal masih tidur tanpa ada tanda-tanda bahwa dia akan bangun. Kinal tetap diam dan tidak menunjukan kalau ia akan membuka mata.
Cup!
Kecupan ke dua Veranda berikan kembali.Tapi keadaan Kinal masih tetap sama.
Cup!
Cup!
Cup!
Cup!
Cup!Veranda terus membrondong kecupan di pipi Kinal, mungkin karena geli akhirnya Kinal membuka mata, kemudian menutup pipi yang sedaritadi dicium Veranda dengan telapak tangan.
"Cukup Ve, aku geli."
"Lagian susah banget dibanguninnya."
Hmmm...deheman Kinal terdengar jelas di telinga Veranda.
Bukannya bangun, Kinal malah membalikan tubuhnya untuk memunggungi Veranda. Veranda cemberut melihat Kinal seperti itu.
"Bangun dong, Nal."
Veranda langsung membalikan tubuh Kinal, dan dia mengambil posisi diatas tubuh Kinal.
"Hey, buka mata sweetheart."
Veranda dengan kedua tangannya membuka mata Kinal yang masih terpejam. Hingga terlihatlah dengan jelas bola mata Kinal yang hitam.
"Ve, biarkan aku tidur. Aku capek."
"Gak bisa. Aku mau kamu ajak jalan-jalan aku. Menikmati udara puncak sebelum nanti sore kita kembali ke jakarta, Nal." Kinal langsung membuka mata, dia melihat Veranda sedang tersenyum diatas tubuhnya, dengan jarak sedekat itu mungkin Kinal masih bisa melihat Veranda tanpa harus memakai kacamata tebal miliknya. Kejadian semalam dengan Veranda membuat Kinal berani menatap mata Veranda tanpa harus malu-malu lagi sekarang, sepertinya ia mendapat power lebih untuk memandang princess dia yang cantik jelita.
Kemudian tangan Kinal bergerak ke punggung Veranda, membuat usapan lembut di sana.
"Kalau gitu berikan aku morning kiss, baru aku bangun."
Em, em...Veranda sambil menggelengkan kepala.
"One kiss."
"No."
Veranda tetap menolak.
"My sweetheart."
"Iya."

KAMU SEDANG MEMBACA
Disini Untukmu
FanfictionSelamat Menikmati Fanfiction Kedua Saya Publish NOV'15