Disini Untukmu 27

5.7K 363 61
                                    

   Mobil Kinal menuyusuri gelapnya malam dengan kecepatan tinggi dan hujan deras yang turun menemani perjalanannya, membuat jarak pandang ke depan hanya terlihat beberapa meter saja. Kinal sangat marah, emosinya labil, jadi mobil Kinal melaju sekencang itu pun dia tak peduli.

   Saat di perempatan jalan yang sepi, mobil Kinal menyerempet pengendara motor yang sedang melintas.

   Brak!

   Pengandara motor tersebut jatuh terpental jauh dari motor yang di naikinya.

   "Gila gue nabrak siapa tuh!"

   Kinal panik, lalu dia injak rem dengan cepat dan mobil pun langsung berhenti dengan suara rem yang kencang dan memekakan telinga.

   Kemudian Kinal mencari payung yang ada dalam mobil untuk melindungi dia dari derasnya hujan, Kinal penasaran dengan apa yang dirinya tabrak. Setelah dapat payungnya, Kinal keluar dari mobil dan melihat pengendara motor tersebut pingsan tak sadarkan diri, Kinal mendekat dan melihat, untuk memastikan lagi ia berjongkok, kemudian melihat lalu segera menolongnya, dia membuka helm pengendara motor tersebut secara pelan.

   "Beby," Kinal terkejut setelah membuka helm pengendara motor itu adalah orang yang ia kenal. Dia Beby, sahabat Veranda.

   Kinal mengangkat tubuh Beby yang tidak sadarkan diri ke dalam mobil. Lalu setelah itu tancap gas mobil kembali dengan kecepatan tinggi.

   Kinal tidak membawa Beby ke rumah sakit, melainkan ke rumah Veranda dan Shania.

   Tin... Tin... Tin...

   Saat didepan rumah Veranda dan Shania, Kinal terus menekan klakson. Membuat suara gaduh ditengah malam sepi yang sedang turun hujan deras. Karena mendengar keributan yang Kinal buat, Shania akhirnya keluar. Kinal melihat Shania keluar, dia langsung turun dari mobil dan mengangkat Beby untuk dia bawa masuk ke dalam rumah.

   "Dia siapa, dan kenapa?" tanya Shania saat melihat Kinal menggendong Beby ke dalam rumah. Kinal mengacuhkan pertanyaan Shania, dia meletakan Beby di sofa panjang dalam rumah. "Sayang, dia siapa?"

   "Beby, temanku... Aku gak sengaja nabrak dia di perempatan jalan tadi," jawab Kinal sambil melihat Shania.

   "Mati?"

   "Cuma pingsan."

   "Loh! Kenapa malah kamu bawa ke sini!? Bukan ke rumah sakit?"

   "Kalau aku bawa ke rumah sakit urusannya panjang, bisa sampai ke polisi segala... Jadi dia aku bawa ke sini."

   "Tapi sayang, kalau dia kenapa-napa gimana?" Shania panik.

   "Semoga dia gak kenapa-napa. Kamu tenang aja deh!"

   Lalu Kinal menyuruh Shania untuk mengambil obat di kotak P3K, sedangkan Kinal membuka jaket Beby agar dia bisa menghirup udara sebanyak-banyaknya. Kinal memperhatikan setiap tubuh Beby dengan teliti, apakah ada luka atau tidak.

   Dan Kinal melihat lengan Beby yang berdarah, lalu dia mengobati lengan itu dengan obat yang ada didalam kotak P3K.

   "Aku minta tolong ke kamu, tolong gantiin baju Beby, karena baju dia basah semua, aku takut kalau dia jatuh sakit," suruh Kinal pada Shania setelah dia sudah mengobati luka Beby.

   "Kok aku?" Shania menolak, tapi Kinal menatap Shania dengan matanya dan memohon. "Ok, demi kamu."

   Kinal mengangkat tubuh Beby untuk dia bawa ke dalam kamar Shania, karena di kamar Shanialah baju Beby akan diganti. Setelah meletakan Beby diatas tempat tidur Shania, Kinal keluar kamar, lalu dia duduk di sofa sambil memijat dahi.

Disini UntukmuTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang