Malam ini Beby menginap di rumah Shania. Seperti janji dia ke Kinal dan Veranda, kalau dirinya akan menjaga Shania sampai sehat dan pulih. Shania awalnya menolak, tapi di sini Veranda berperan penting sebagai kaka dan sahabat Beby yang terus memaksa. Jadinya Shania menyetujui ide sang kaka untuk membiarkan Beby menginap sekaligus menjaganya dikala ia sakit.
Beby tidur di kamar bekas Veranda dulu. Shania sudah pasti tidur di kamarnya sendiri.
"Pagi, Shan. Gimana keadaan lo hari ini? Udah baikan atau masih sama kayak kemarin?" Beby menanyakan keadaan Shania pagi ini. Karena Shania bangun pagi-pagi sekali, padahal dirinya untuk 2 hari ke depan tidak ada jadwal terbang, alias free.
"Udah lumayan sih hari ini. Thanks ya," ucap Shania. Lalu ia duduk di kursi meja makan dan mengambil segelas susu coklat yang Beby buat untuknya.
"Makasih buat apa? Gue gak ngelakuin apa-apa ke lo kok?"
"Hmm. Thanks aja, buat perhatian lo selama gue sakit kemarin."
"Oh. Santai aja kali."
Mereka berdua akhirnya sarapan pagi dengan keheningan. Karena Beby atau pun Shania asyik menyantap roti selai sambil bermain ponsel. Terkadang Shania tersenyum dan tertawa kecil kala melihat layar ponsel, karena ada yang lucu pada postingan temannya di sosial media.
Sedangkan Beby memegang ponsel karena dirinya sibuk membalas email yang masuk di inbox.
"Shan,"
"Hmm..."
"Gue mau ngajak lo jalan hari ini. Kan tadi lo bilang udah baikan, gimana?"
"Gue males, Beb! Lain kali aja ya." Shania entah kenapa menolak ajakan Beby. Mungkin ia memang benar-benar lagi males.
"Kenapa? Lagi dateng bulan? Terus jadi males gitu?" tanya Beby.
"Bukan. Gue emang lagi males aja, pingin di rumah."
"Apa karena Kinal? Karena dia lo jadi males keluar sama gue hari ini?" Shania langsung menatap Beby yang duduk didepannya.
"Kok lo jadi bawa-bawa dia?"
"Bisa ajakan rasa males lo berhubungan sama Kinal, mantan lo yang sampai sekarang belum bisa hilang dari hati dan pikiran lo itu. Semalem lo liat dia nyium Ve? Makanya mood lo langsung jelek?!"
"Sok tau lo!" Shania beranjak dari kursinya untuk meninggalkan meja makan. Kemudian Beby juga beranjak dari kursi dengan cepat untuk menahan Shania yang ingin masuk ke dalam kamar, "LEPAS!"
"Shan, lo jangan kayak anak kecil! Lupain Kinal, semakin lo gak rela liat Kinal sama Ve. Hati lo semakin sakit."
"Lo jangan asal ngomong. Siapa bilang gue gak rela dia sama kak Ve?"
"Sikap lo yang bilang gitu."
"Lo jadi orang jangan sok tau makanya," Shania menarik paksa tangannya yang Beby pegang. Lalu mendorong bahu Beby, hingga dia mundur beberapa langkah ke belakang. Setelah itu Shania masuk ke dalam kamar dan mengunci pintunya dari dalam.
"Shan! Mau sampai kapan lo kayak gini? Sedangkan Kinal udah jauh menatap ke depan bersama Ve dan Tasya," teriak Beby kencang.
Dibalik pintu kamar yang Beby tatap dengan nanar, di sana ada Shania sedang duduk di lantai sambil menangis. Ia benar-benar merasakan sakit yang dalam karena sampai saat ini dirinya masih mengharapkan Kinal. Sedangkan Kinal sudah perlahan dan sedikit demi sedikit menghapus perasaannya ke Shania.
Tangis Shania makin jadi saja didalam kamar, ia sampai berteriak histeris. Dan diluar kamar, Beby menyandarkan tubuhnya pada pintu kamar Shania, ia merasakan betapa sedihnya jika harus berada diposisi Shania.
Beby juga merasa sakit atas apa yang terjadi, dan dia mengutuk dirinya sendiri karena telat dipertemukan oleh Shania.
"Shan, gue sayang banget sama lo. Buka hati lo buat gue! Gue janji gak akan nyakitin lo sekecil apa pun masalahnya," Beby ikut menangis, dia sudah tak tahan lagi membendung air matanya.
Beby berusaha meyakinkan Shania kalau dirinya begitu mencintai dia. Dan Beby ingin Shania tersenyum. Merasakan indahnya dunia tanpa harus terpuruk terlalu lama seperti itu.
"Lo nangis, Beb?" Beby terkejut dengan kedatangan Kinal di rumah Shania.
Perlahan tangis Shania mereda. Dan kini Shania sudah tak menangis histeris lagi seperti tadi. Dia menghapus sisa-sisa air mata yang membasahi pipinya dengan tangan.
Dan Shania merasa heran. Karena keadaan diluar kamar mendadak hening.
'Kemana Beby? Kenapa suaranya tak terdengar lagi. Apa dia sudah pergi meninggalkanku di rumah sendirian?! Dasar si tukang ingkar janji, kalau emang gak bisa nepatin, jangan janji. Ini pake janji segala ke kak Ve buat jagain aku, tapi buktinya nol besar,' ucap Shania dalam hati.
"Brengsek lo, Nal!"
bug!!!
"Aarghh...Beb, lo tenang dulu. Bisa gak sih lo gak main tangan kayak gini?"
"Nggak. Gue muak liat muka lo, Nal. Gue gak terima lo nyakitin Shania."
bug!!!
"Auww. Sakit Beb, rese lo!"
"Itu hukuman karena lo udah nyakitin Shania. Gue gak terima, Nal. Gue sayang dia, dan gue gak bisa liat Shania sedih."
"Beby! Kinal!" Shania panik karena mendengar keduanya ribut diluar.
"Gue minta maaf. Gue ngaku salah, Beb."
"Telat. Maaf lo udah gak guna, Nal! Shania udah terlanjur sakit hati dan terpuruk karena lo!"
bug!!!
"Auww..Lo kira cuma lo doang yang bisa mukul. Gue juga bisa, Beb. Jangan pikir gue diem gue takut sama lo. Maju lo sini!"
"Demi Shania, gue rela mati ditangan lo, Nal."
bug!!!
bug!!!
bug!!!
Shania mendengar kegaduhan di luar kamarnya. Ia ragu serta takut buat keluar kamar. Dirinya mondar-mandir didalam kamar dan penasaran apa yang sebenarnya terjadi diluar antara Kinal juga Beby.
"Cuma segini kemampuan lo, Beb? Gimana lo mau jagain Shania dari orang-orang yang mau ganggu dia diluaran? Kalau cuma lawan gue aja lo udah gak sanggup dan nyerah kek gini."
"Mungkin gue gak bisa ngelindungi dia seperti yang Ve harapkan. Tapi lo inget, Nal. Gue akan berusaha menjaga hatinya biar gak tersakiti seperti lo nyakitin dia!"
"Alah, ngoceh aja lo bisanya! Nih terima tinju gue, biar tuh mulut bisa diem gak ngebacot lagi."
"Hentikan!" bentak Shania yang tiba-tiba keluar dari kamarnya. Ia bingung dan kaget, karena Shania melihat Kinal dan juga Beby sedang duduk berdampingan di sofa sambil tersenyum. "Kalian, aaargh..."
Belum sempat Shania masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya. Beby lebih cepat dan sigap menghalangi Shania dengan berdiri didepan pintu. Hingga Shania tak dapat masuk ke dalam kamar.
"Minggir! Aku mau masuk," Shania kesal dan marah melihat Beby berdiri didepannya.
"Maaf. Cuma dengan drama kayak gini lo mau keluar dari kamar."
"Gak lucu tau gak!"
"Shan, gue cinta sama lo! Buka hati lo buat gue, Shan. Dan lupakan si brengsek Kinal yang ada di sana itu," Beby menunjuk ke arah Kinal. Sedangkan Kinal hanya membulatkan matanya mendengar ucapan Beby. "Maukan lo buka hati buat gue? Biarkan gue masuk, Shan. Gue janji, gue bakal jadi orang yang mengerti tentang lo dan semua hal yang lo suka atau pun nggak," tambah Beby.
"Gak usah janji. Yang pada akhirnya lo bakal ingkarin itu semua," ucap Shania.
"Gue sayang dan cinta sama lo, Shan!" Beby kemudian meraih kedua tangan Shania untuk ia genggam erat. Lalu menatap mata orang yang paling dia cintai.
KAMU SEDANG MEMBACA
Disini Untukmu
Fiksi PenggemarSelamat Menikmati Fanfiction Kedua Saya Publish NOV'15
