Malam itu Tasya ditidurkan Veranda di kamar hotel, setelah itu dia menemui Kinal yang sedang berdiri unuk menikmati angin malam diluar balkon. Veranda memeluk Kinal dari belakang, menciumi punggung sang kaptain tercinta.
"Kamu lagi mikirin apa, sayang?" tanya Veranda.
"Ibu dan mama kamu, ternyata mereka berdua saling mencintai dulu. Hingga aku terlahir ke dunia ini, tapi mereka berdua pada akhirnya membuangku," jawab Kinal.
Malam itu Kinal menceritakan semua ke Veranda tentang hubungan ibu dan mama Veranda. Veranda syok mendengar cerita Kinal, dia sampai meneteskan air mata. Mungkin Veranda orang yang paling bodoh disini, dia tidak tahu tentang masa lalu mamanya, karena memang mamanya tak pernah bercerita pada Veranda.
"Ternyata jadi orang dewasa itu rumit. Papa selingkuh dibelakang mama lalu punya anak Shania. Sampai mama pun di cerita masa lalunya tidak kalah buruk dengan kelakuan papa. Dia benar-benar tega membiarkan ibu berjuang sendiri saat kamu dalam kandungannya, dan pada akhirnya kamu dibuang ke panti..."
"...Sayang," panggil Veranda. Lalu dia membalikan tubuh Kinal untuk menghadap ke arahnya, "Apa kita saudara?"
Kinal hanya menggelengkan kepala atas pertanyaan Veranda.
"Yang jelas kita harus menyelesaikan semua masalah ini, Ve. Masalah kita dengan Shania, mama kamu dan juga ibuku."
Veranda kemudian tersenyum, setelah itu dia memeluk Kinal erat, tidak ingin pelukan hangat itu lari jauh darinya lagi.
"Tasya udah tidur?"
Veranda menganggukan kepala dalam pelukan Kinal.
"Gimana kalau malam ini kita main sayang-sayangan? Mumpung Tasyanya tidur. Itu kesempatan buat kita berdua," kata Kinal dengan suara genit.
"Gak. Cukup sekali aku memberikan itu ke kamu, saat kita di Singapore. Aku mau melakukan itu lagi kalau kita berdua udah sah."
hahaha... Kinal tertawa terbahak-bahak mendengarnya.
"Jadi kamu gak mau nih?" lagi-lagi Veranda menggelengkan kepala dengan cepat dalam pelukan Kinal, "ok kalau gitu. Aku minta ke Shania aja."
Kemudian Kinal melepas pelukannya pada Veranda, lalu melangkahkan kaki untuk pergi meninggalkannya, baru dua langkah Kinal melangkah, Veranda mencubit perut Kinal dengan kencang.
"Auw!" rintih sang kaptain.
"Jadi gitu! Gak aku kasih mintanya ke Shania... BAGUS!" Veranda menatap mata Kinal dengan tajam. "Sering kamu ngelakuin itu sama Shania?"
Kinal sedikit tersenyum dalam kesakitannya, dia sudah berhasil membuat Veranda cemburu.
"Dulu iya, tapi ketika aku tau dia adikmu, enggak lagi," jawab Kinal jujur.
"Jadi kalau Shania bukan adikku. Kamu masih mau gituan sama dia?" Veranda kesal, dia terus mencubiti perut Kinal dengan kedua tangan.
"Auw... Enggak Ve sayang... Auw, sakit, Ve!... Aku tobat... Auw... Aku cuma mau sama kamu aja kok! Hanya Veranda Yang Kinal Mau," Kinal menekankan kata dibagian akhir dengan manis.
"Bo'ong, aku gak percaya!" Veranda tak berhenti menyiksa Kinal dengan cara mencubit perutnya terus menerus.
"Auw sakit iih..."
"Biarin, abis kamu ngeselin dan nakal lagi."
Lalu Kinal memegang kedua tangan Veranda, menatap mata princessnya dalam-dalam.

KAMU SEDANG MEMBACA
Disini Untukmu
FanfictionSelamat Menikmati Fanfiction Kedua Saya Publish NOV'15