bab 23

4.4K 238 1
                                        

Hari ini aku berangkat kerja dengan angkutan kantor bersama nina, danny sedang ada urusan dengan kantor di singapura. Hp ku berdering menampilkan nama rizki, anak om arief.

"Halo, assalamualaikum bang, ucapku, ada apa pagi pagi telfon naya." tanyaku lagi.

"Papa sakit nay, papa minta kamu pulang, lagi pula 3 hari lagi ara akan datang dengan calon suaminya," ucap bang rizki.

"Kak ara sudah ngabarin ke aku bang, aku belum bisa pulang , mungkin nanti aku pulang waktu nikah nya bang," tambahku.

"Gak bisa nay, papa semalam jatuh di kamar mandi, dokter bilang stroke ringan, jadi papa minta lo pulang," ucapnya.

"nanti aku kabarin bisa atau tidak bang." ucapku

"Aku ga mau denger penolakan kamu nay, ga ada terimakasihnya kamu." ucap bang rizki.

"Siapa nay." tanya nina.

"Anaknya omku nin, om sakit, aku di suruh balik nin, om pengen ketemu sama aku. Ucapku, kayanya aku terpaksa ambil sisa cutiku, " tambahku.

"Yaudah lo pulang aja, 3 harian gue rasa cukuplah," ucap nina.

"Iya, nanti aku tanya ke mba sarah deh." Ucapku.

Cutiku di setujui, dua hari kemudian aku pulang, aku mengabarkan danny lewat pesan, ia masih berada di singapura.

Kak ara sudah lebih dahulu berada di rumah, kak ara menyuruhku pulang ke rumah saja, karena siang ini om akan pulang dari rumah sakit.
Saat aku datang keluarga lengkap sudah di ruumah, ada tante, om kak ara dan bang rizki. Acara lamaran kak ara tidak bisa di undur karena keluarga dari pihak laki-laki sudah mempersiapkannya dari beberapa bulan lalu, acara berlangsung dengan sederhana, saat itu kulihat tante maya juga datang.

Aku membantu om arief mendorong kursi rodanya, kembali ke kamar, tante mira sedang sibuk membereskan bekas acara.

"Naya, om belum bisa tenang jika kamu belum menikah," ujar om arief.

"Nanti naya juga akan menikah om, yang terpenting sekarang om fokus untuk sembuh dulu, banyak istirahat dan jangan makan makanan yang dipantang dokter." ucapku.

"kamu udah punya calon nay," tanya om arief lagi.

"Ada om, tapi naya belum bisa memperkenalkannya pada om dan tante, dia butuh waktu." ucapku.

"Sejak kecil kamu sudah ikut dengan om nay, kamu sudah seperti putri om sendiri, ibumu dan nenek menyerahkanmu pada om, om sebenarnya ingin kamu menikah dengan anak tante maya, om kenal dengan keluarganya, anaknya juga baik, sangat patuh pada ibunya. Om ingin sebelum om pergi om sudah menyerahkan tanggung jawab menjaga mu pada orang yang tepat. Om tidak mau kamu diperlakukan tidak baik hanya karena tidak memiliki orang tua lagi." Ucap om arief.

"Tapi om naya ,,

"Pikirkanlah nay, jika kamu sudah yakin dengan pilihanmu suruh orang itu datang menemui om, ucap om arief. Om mau istirahat dulu."

Saat aku keluar kamar tante maya sudah ada di depan pintu.

"sudahlah nay terima saja, dimana kamu bisa dapat lelaki sebaik vano, jelas bibit dan bobotnya, yang terpenting mau menerima kamu apa adanya." Ucap tante mira.

Aku masuk ke kamar, kak ara sedang ganti baju.

"Om bilang apa nay," tanya kak ara.

"Kenapa om dan tante kepengen banget sih kak aku nikah sama vano," tanyaku.

"Kamu ga suka sama dia nay," tanya kak

"Gak kak, aku sudah yakin pada danmy,ucapku, dan om minta bertemu dengannya."

" jadi danny namanya. Yasudah suruh dia datang kesini bertemu om, yang penting om kenal dulu dengannya, kalau menikah kan ga buru-buru juga nay, om cuma pengen kenal aja mungkin." Ucap kak ara.

"Iyalah kak, nanti aku coba, kalau dia ada waktu." Jawabku.

"Kalau bisa ya minggu minggu inilah may, biar pas kamu di sini juga." Ucap kak ara.

Akumenghubungi danny menceritakan keadaan omku dan meminta danny datang ke sini, nanti kami bisa sama sama pulang ke batam.danny setuju dan dia akan langsung ke sini dari singapura. Aku berjanji akan menjemputnya besok di jakarta.

Keesokan harinya aku , bang rizki dan kak ara berangkat dari rumah untuk menjemput daniel, om bilang nanti daniel bisa tidur di rumah dengan bang rizki, tapi aku tau daniel tidak kan mau, nanti aku bisa minta supir mencarikan hotel dekat sini.
Daniel mengabarkan kalau dia sudah menunggu kami di sebuah kafe di luar bandara.

"Hey, naya disini," panggil suara yang sangat kukenal.

aku tersenyum lebar melihat daniel, aku sangat merindukannya, aku ingin memeluknya tapi ada kak ara dan bang rizki, aku segera menghampiri mejanya, dengan reflek daniel memelukku dan mencium puncak kepalaku. Aku segera melepaskan pelukannya.

Kulihat kak ara dan bang rizki hanya terpaku melihat kami, aku pun mengenalkan daniel, kak ara hanya senyum senyum ga jelas, sedangkan bang rizki menunjukkan wajah tidak sukanya.

Daniel menawari kami minum, kami pun setuju lumayan jauh perjalanan jakatra - bogor.
Bang rizki menanyakan asal usul daniel yang dijawab sopan oleh daniel, kami memutuskan berangkat kembali takut kemalaman untung saja ini siang jadi tidak begitu macet.
Kak rizki membawa mobil dan danny di sampingnya, aku dan kak ara di belakang, suasana di mobil sedikit canggung, beberapa kali daniel mencoba mengajak bang rizki ngobrol tapi hanya di jawab singkat bang rizki.

Kak ara memberikan hp nya padaku, sambil senyum senyum, aku bingung, kak ara hanya melotot, ternyata kak ara menuliskan pesan di hpnya.

Cowok kamu ganteng banget nay. Kenapa ga bilang dari dulu tau gitu aku minta cariin satu,

aku pun cubit lengan kak ara, dia hanya meringis sambil terus memperhatikan daniel.
Sesampainya di rumah sudah lepas maghrib, tante mira keluar untuk menyambut kami, aku memperkenalkan danil kepada tante mira, tante terlihat sedikit shock. Gimana tanggapan om arief nanti ya, pikirku.

Om arief keluar dan berkenalan dengan daniel, kami makan malam, setelah makan om minta bicara berdua dengan daniel. Ya ampun om ga bisa tunggu besok apa, kasihan daniel pasti capek banget. Om bicara dengan daniel di ruang kerjanya. Aku sangat cemas. Akupun masuk kamar.membaringkan diriku dan menutup wajahku dengan bantal, untuk menghilangkan pikiran-pikiran burukku, om arief pasti suka sama daniel, lirihku

Pintu kamar terbuka dan kak ara masuk.

"Nay, udah selesai ngomong tu. Om nyuruh kamu sama bang rizki nyariin hotel buat daniel," ucap kak ara.

"lho tadi katanya boleh nginep disini." ucapku,
kak ara tidak berkomentar dan keluar dari kamar. Aku mengikutinya dan melihat danny sudah duduk di ruang depan, wajahnya terlihat murung, mungkin ia kelelahan. Aku dan bang rizki mengantarkan daniel ke hotel yang direkomendasikan tante mira. sedari tadi kami hanya diam. Bang rizki menyuruhku menunggu di mobil dia yang mengantarkan daniel check in di hotel.

Until I Find YouTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang