bab 28

5.5K 298 11
                                        

Mama sudah memesankan tiketku ke sydney, tadinya mama akan menemaniku, tapi mama takut tidak bisa menjagaku malah merepotkanku di perjalanan, akhirnya mama meminta kak ara menemaniku, sekalian jalan-jalan kata mama, aku dan kak ara memang belum pernah keluar negri sebelumnya. Ini perjalanan pertama kami. Aku dan kak ara sangat excited dengan perjalanan ini. Aku tidak memikirkan bagaimana reaksi mas vano nanti mendengar kehamilanku.

Mama memberikan alamat tempat mas vano tinggal, mama bilang sudah menghubungi untuk memastikan kalau mas vano stay di apartement bukan sedang di offshore, tapi tidak memberitahu kedatanganku.

Perjalanan dari jakarta ke sydney kurang lebih 7 jam, mamamemberikan kami tiket kelas satu, biar kami nyaman kata mama.
Sesampainya di sydney dengan bekal alamat yang di berikan mama, aku dan kak ara naik taksi ke apartemen mas vano. gedung partementnya sangat besar, petugas di lantai bawah tidak mengizinkan kami masuk karena merasa kami orang asing, petugas itu pun menghubungi mas vano, dan mengatakan pada kami bahwa mas vano akan segera turun.

" segitunya banget ya nay, penjagaan disini, padahal mau ketemu suami sendiri" ucap kak ara.

" kita kan sama sekali gak pernah ke sini kak, wajarlah dia curiga, mana bawa koper gede gitu" ucapku.

Tak lama kulihat sesosok pria seperti mas vano turun dengan menggendong seorang anak laki-laki dan menggandeng seorang wanita cantik berhijab yang juga sedang hamil. Aku tidak salah pihat itu memang mas vano. Aku terpaku melihat mereka.

" naya," ucapnya terkejut dan melihat ke arahku dam turun ke perutku.

"siapa mas" tanya wanita itu

" kamu yang siapa" tanya kak ara, " mas vano mereka siapa" tanya kak ara.

"Sebaiknya kita ngomong di dalam" ucap mas vano pada kami.

"Aku mau bicara di sini mas, jelaskan" ucapku.

"Aku bisa jelaskan naya, kita bicara baik baik di rumah" ucap mas vano, menurunkan anak laki-laki tersebut, dan membawa koper kami.

Aku dan kak ara mengikutinya, sementara kulihat wanita dan anak itu tetap diam.

" apakah kamu hamil anakku nay" tanya kak vano.

" maksud kamu bicara begitu apa mas" tanya kak ara sengit, aku hanya diam.

"maksudku, apa kejadian malam itu nay" tanya mas vano. Mas vano duduk di sofa sambil meremas remas rambutnya.

"Aku minta maaf naya, aku menikahimu karena keinginan ibu" ucapnya, "ibu tidak ingin aku melanjutkan hubunganku dengan ayesha," ucapnya.

Seketika tangisku pecah, kenapa tidak ada yang menginginkanku.

" apa maksudmu, teriak kak ara, "kau laki-laki berengsek, kau menikahi adikku dan menghamilinya, disini kau tinggal dengan perempuan jalang" teriak kak ara.

" dia istriku, aku lebih dulu menikah dengannya, ibuku tidak menyetujui hubunganku dengannya, karena ia janda, jadi aku menyebunyikan pernikahan kami, aku tidak bisa menolak ibuku saat itu nay, saat aku ke batam aku ingin mengatakannya padamu, tapi aku tidak bisa, aku takut kau akan mengatakannya pada om arief dan om akan memberi tau ibu, kesehatan ibuku tidak baik. tapi saat om arief juga menjadikan operasinya sebagai alat untuk menikahkan kita, aku juga bingung, aku tidak ada pilihan nay" ucap mas vano

" aku tidak butuh penjelasanmu, kamu membohongiku mas" ucapku

Kak ara malah menangis histeris sambil duduk di sampingku.

" aku tidak tau, kalau kamu akan hamil nay, aku sangat minta maaf, aku tidak berniat membuat semuanya jadi begini, aku hany mencintai ayesha" ujar kak vano.

" tolong pesankan tiket kami pulang mas, tidak ada gunanya aku disini" ucapku,

" jangan beritau apapun dulu pada ibu nay, aku yang akan memberitaunya, aku juga akan bertanggung jawab pada anakmu nay," ucap mas vano lagi

" saya siap berbagi mba" ucap wanita itu, yang entah kapan datang. " ini semua juga salah saya," tambahnya sambil menangis.

" kamu tidak pernah bilang kalau kamu juga tidur dengannya mas" tanya wanita itu ke vano, dan laki laki itu hanya diam.

" tapi saya tidak bisa, rasanya sudah cukup semuanya" ucapku.

Mas vano dengan berat hati mengantarkanku dan kak ara ke bandara, aku memaksa pulang hari ini juga. kak ara hanya menangis dari tadi, aku tidak bisa menangis, aku merasa hampa, rasanya semua tubuhku matirasa, aku tidak memiliki apapun lagi.
Kami naik pesawat kembali ke indonesia, aku bahkan lupa kalau aku sedang hamil, sejak tadi aku tidak makan dan minum. Perjalan pulang pergi indonesia - sydney seperti bogor- jakarta saja.

Aku tidak merasakan perutku lagi, perutku sejak entah kapan terasa keras, tidak terasa apapun lagi di sana. Pukul 4 pagi kami sudah tiba kembali di jakarta, aku tidak merasa capek sama sekali, dipesawatpun aku tidak tidur, entahlah aku bingung, aku tidak tau ada apa denganku.

" kak ara, kita mau kemana kak" tanyaku saat kami turun dari pesawat." Kita ga punya tempat pulang lagi"

" kamu mau kemana nay," tanya kak ara.

"Aku mau ketemu ibu boleh kak," tanyaku, aku rindu sekali dengan ibuku,

" jangan ngomong gitu nay,"ujar kak ara sambil menangis, membawaku duduk, dan memelukku.

" kamu harus kuat nay, kakak ga punya siapa-siapa lagi selain kamu," ujar kak ara. pikirkan anakmu juga nay, kamu jangan khawatir ya,kita berdua nanti yang ngerawat dia, kita tinggal di tempat kakak aja. ucap kak ara.

"Dia juga udah ninggalin aku kak, ucapku

" naya, jangan gitu" teriak kak ara.

" beneran kak, aku denger tadi dia ngomong ke aku waktu di pesawat, ucapku, kemudian aku tidak sadarkan diri, semua terasa kosong, hanya ada aku sendiri, di kejauhan aku melihat ibu melambai kepadaku, akupun berlari mendekati ibu, tapi ibu malah semakin jauh. Aku menangis meraung raung seperti anak usia 5 tahun yang tidak dipenuhi keinginannya. Tapi ibu tetap pergi.

saat aku membuka mata, aku tidak tau ada dimana semua terasa asing. Yang kulihat kak ara seperti bicara padaku, tapi aku tidak mengerti kakak bicara apa, kak ara memelukku, aku memeluknya kembali dengan erat.aku gak mau kakak pergi. Om arief, tante mira, bang rizki, kira, tante maya, datang melihatku. Tapi aku malas bicara, aku kesal dengan mereka semua.

setiap hari kak ara menemaniku, menceritakan hal hal yang tidak aku mengerti, tapi aku senang, senang karena kakak selalu menemaniku, kakak sering memelukku, kakak menyisir rambutku, aku sayang kak ara.

Sampe sini aja kali ya ....
Makasih buat yang baca n vote cerita ini pratiwidita,, makasih banyak yaa, vote n comentnya

Until I Find YouTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang