Yang cuman malam mingguan di Watty, angkat tangannya.... *angkat tangan paling tinggi...
Typo? Sorry
Happy reading, enjoy my story....
Don't be silent reader, please.....
======================================================================
"Apa yang kau lakukan disini?"
Hans terdiam saat matanya bertatapan dengan mata seorang wanita yang kira-kira usianya mencapai empat puluhan. Namun, wanita tersebut masih tampak anggun dalam balutan baju gamis berwarna hijau muda dengan kerudung bewarna putih. Lama terdiam, Hans mengerjapkan matanya dengan cepat mencoba menyadarkan dirinya sendiri.
"Apa yang kau lakukan disini, Nak?" tanya wanita itu dengan nada yang lebih lembut. Suara lembut wanita tersebut membuat Hans bingung menjawab apa.
"Saya sedang memperhatikan mereka." Wanita tersebut melihat kedalam mesjid, lalu ia mengalihkan pandangannya pada Hans. Wanita tersebut tersenyum lembut pada Hans.
"Semoga Allah memberikan rahmat dan hidayah-Nya padamu, Nak. Semoga engkau memang telah ditakdirkan mendapat tuntunan untuk lebih dekat dengan-Nya." Wanita tersebut tersenyum sebelum berjalan menjauhi Hans. Tubuh Hans masih diam, kepalanya mencoba mengartikan ucapan wanita tersebut. Namun, Hans merasa buntu oleh ucapan wanita tersebut. kepalanya tidak bisa mengartikan kalimat yang telah diucapkan oleh wanita tersebut.
Hans kembali ke mobil saat ia melihat beberapa lelaki keluar dari mesjid. Ia kembali mengamati tempat tersebut dari dalam mobilnya. Sepuluh menit kemudin, Hans melihat Andi berjalan menuju mobil bersama seorang lelaki yang tidak dikenalnya. Andi dan lelaki tersebut berpisah saat Andi sampai dimobil dan bergegas masuk kedalam mobil. Andi menyimpan peci tipis berwarna putihnya kedalam kantong kemejanya.
"Ma'af Pak, agak lama." Kata Andi sambil menyalakan mesin mobil.
"Ya, tidak apa-apa." Mobil Mercedes milik Hans kembali masuk ke jalan raya ikut berjalan bersama mobil-mobil lainnya.
Sepanjang perjalanan Hans terus memikirkan kata-kata wanita yang ia temui di mesjid tersebut. Kata-kata dari wanita tersebut membuat kepala Hans berpikir keras tentang maknanya. Hans kembali memikirkan tentang wanita yang tiba-tiba datang dan mengagetannya hingga akhirnya wanita tersebut mengucapkan kalimat yang tidak ia fahami sama sekali.
Andi sesekali melirik Hans lewat kaca yang ada dibagian tengah mobil. Andi mengernyitkan dahinya melihat ekspresi gelisah yang tampak dari Hans. Ia melihat kalau atasannya itu seperti sedang memikirkan yang berat. Andi memang cukup dekat dengan Hans sekarang. Sejak beberpa munggu yang lalu, Hans selalu mengajak Andi berbicara ketika sedang dalam perjalanan seperti ini. Hal itu berbeda sekali dengan Hans sebelumnya yang bahkan tidak pernah meliriknya sama sekali. Yang cukup mencengangkan bagi Andi adalah topik pembicaraan mereka, setelah puas dengan perkembangan berita terbaru, Hans selalu menyempatkan bertanya tentang Islam. Ada-ada saja yang ditanyakan oleh Hans yang membuat Andi kelimpungan. Namun, ia tetap berkata jujur pada Hans bahwa ia bukanlah penganut ta'at, jadi tidak semua pertanyaan Hans dapat ia jawab karena ia takut jika jawabannya salah.
Andi masih melirik Hans yang sedang bertopang dagu dengan arah pandangan keluar jendela. Mereka sedang berhenti dilampu merah. Andi ragu untuk bertanya, namun ia juga tidak bisa menahan rasa penasarannya tentang apa yang telah membuat atasannya tersebut gelisah.
Kata demi kata yang diucapkan wanita tersebut kembali berputar dikepala Hans. ia sudah beberapa kali mengulang kata-kata tersebut, namun ia masih belum juga mengerti apa maknanya. Entah ada apa dengan kepalanya, Hans begitu sangat ingin tahu makna kata tersebut. Kata-kata tersebut seperti menunjukkan sebuah jalan untuknya. Namun Hans tidak tahu kemana arah jalan tersebut.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mahar Terindah (Remake)
General FictionHans Revillo Routh, adalah seorang pria berusia 26 tahun yang masih dibayang-bayangi masa lalunya. Ditinggalkan oleh kedua wanita yang dicintainya membuat Hans seperti mayat hidup. Lalu, sebuah titik balik datang dihidupnya. Semuanya bermula saat i...
