Versi Baru Mahar Terindah: Belum Bisa Memilih

10.4K 576 59
                                        

Typo? Sorry....

Happy reading, enjoy my story....

Don't be silent reader, please....

======================================================================

Hans menghela nafas lelahnya. Ia hanya diam sambil menyandarkan tubuhnya disandaran mobil. Ia merasa lelah secara fisik dan mental. Lelah fisik akibat ia tidak beristirahat dengan cukup tadi malam dan lelah mental karena menghadapi pergolakan dihatinya.

Sejak tadi malam, Hans terus memikirkan apa yang telah terjadi dengan dirinya. Ia merasa kalau apa yang dikatakan Maria tadi malam tidak sepenuhnya benar dan tidak sepenuhnya salah. Mungkin tidak seharusnya ia tertarik dengan sesuatu yang bertentangan dan dapat merusak keimanannya. Namun disisi lain, Hans hanya ingin mengetahui hal yang membuatnya merasa nyaman. Ia bahkan tidak pernah terpikir untuk meninggalkan keyakinannya seperti yang Maria dan Yasmin katakan. Ia ingin belajar tentang Islam karena ia merasa tertarik dengan segala hal tentang Islam dan karena ia merasa nyaman dan tenang.

Hans mengakui sejak mengenal Islam, ia merasakan perubahan yang drastis pada dirinya. Ia tidak lagi terjebak dalam mimpi buruknya. Ia bisa tertidur dengan lelap tanpa bayangan masa lalu yang menghantuinya. Ia merasa kembali hidup dan memiliki alasan baru untuk bangun esok harinya. Sejak mengenal Islam, ia mulai berkomunikasi dengan orang lain yang dulu sangat jarang ia lakukan. Ia bahkan mau menolong orang yang tidak dikenalnya. Wajahnya yang dulu selalu murung, kini tidak jarang wajah tersebut dihiasi senyum tipis.

"Langsung ke kantor'kan, Pak?" tanya Andi sambil melajukan mobilnya karena lampu hijau sudah menyala. Hans baru saja melakukan survey di Tangerang.

"Ke Tanjung Priok." Jawab Hans dengan singkat. Andi yang menyadari kalau atasannya itu dalam keadaan yang tidak baik hanya mengiyakan tanpa bertanya dan mendebat.

Waktu menunjukkan pukul 13.45 saat Andi menengok jamnya. Andi berharap semoga ia masih sempat untuk sholat Dzuhur. Ia tidak berani meminta izin untuk sholat karena ekspresi Hans yang kembali terlihat tidak bersahabat seperti sebelumnya. Ia hanya memacu mobil dengan cukup cepat agar ia masih sempat untuk sholat Dzuhur.

Jalanan yang tidak macet memberikan keuntungan untuk Andi agar bisa sampai lebih cepat. 30 menit kemudian, mereka sampai di Tanjung Priok. Sesampainya di mesjid, Andi memarkirkan mobil dan meminta izin pada Hans untuk sholat. Hans hanya menjawab dengan anggukan kepala sebelum kembali larut dalam pemikirannya.

Sepeninggal Andi, Hans larut dalam dunianya sendiri sambil memandang kearah mesjid. Tampak orang-orang yang keluar masuk mesjid tersebut. Hans melihat ada mobil lain yang diparkir disebelah mobilnya. Ia melihat penumpang mobil tersebut yang merupakan sepasang lelaki dan wanita serta 3 anak yang berjalan menuju tempat berwudhu. Hans juga melihat pengendara sepeda motor yang masuk dan juga melakukan hal yang sama seperti pengendara sebelumnya. Kemudian ia kembali larut dalam pergolakan batinnya. Hans mencoba untuk tidak mengambil pusing, namun akhirnya ia terus memikirkan hal yang membuatnya uring-uringan.

Seketika pula, pergolakan didalam hati Hans mereda saat telinganya mendengar lantunan ayat suci yang tidak ia ketahui dari mana asalnya. Hans mencoba mencari dimana suara tersebut. Hans meneliti disekelilingnya, akhirnya ia menemukan asal suara tersebut dari sebuah handphone yang ada di atas dashboard mobil. Hans menduga handphone tersebut milik Andi yang ia tinggal. Suara lantunan ayat suci tersebut masih mengalun dari handphone Andi, Hans merasa tubuhnya kembali rileks dan tenang. Ia tidak tahu mengapa tubuhnya bereaksi seperti itu hanya karena sebuah suara. Namun Hans tidak mau ambil pusing mengapa ia bisa seperti itu. Ia hanya ingin membiarkan dirinya tenang dengan suara lantunan ayat suci dari handphone Andi.

Mahar Terindah (Remake)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang