Sebenarnya kerjaan saya masih banyak, tetapi saya lagi nggak mood buat ngurusin kerjaan. Jadi saya lebih memilih menulis lanjutan cerita ini dan membiarkan pekerjaan saya menumpuk menjelang deadline. *Jangan ditiru, ya...
Typo? Sorry...
Happy reading, enjoy my story....
don't be silent reader, please...
========================================================================
***
Deseember 1999
Rumah keluarga Routh sedang ramai karena beberapa pekerja sedang menyiapkan pohon natal untuk perayaan hari natal 3 hari lagi. Diruang tengah berdiri sebuah pohon cemara setinggi 2 meter yang memang dipesan khusus. Masing-masing pekerja memasangkan hiasan pada pohon tersebut, ada yang memasangkan bel, lampu hias, gantungan berbagai bentuk dan pita. Serta hiasan akhir yang berada dibagian atas, bentuk bintang yang diletakkan dipuncak pohon natal tersebut.
Lova menatap kagum pada pohon natal yang baru saja dirias tersebut. Sejak dibawa oleh Felix satu minggu yang lalu, Lova selalu ikut jika ia tahu Felix akan kerumah keluarga Routh. Felix pun tidak merasa berat membawa Lova, karena Lova selalu menuruti nasehatnya untuk tidak membuat keributan atau kekacauan dirumah tuannya tersebut. Jika Felix harus ikut Christian, Lova akan setia menanti bersama Maisya, kepala pelayan dirumah keluarga Routh.
Kaki kecil kakinya membawa Lova mendekat kearah pohon tersebut. Beberapa pekerja tampak sedang menyusun kado-kado yang telah terbungkus rapi. Melihat tumpukan kado yang banyak tersebut, membuat Lova menginginkan salah satu kado tersebut. Tangan mungilnya memegang sebuah kado yang berlapiskan kertas bergambar boneka beruang yang berukuran 35 x 30 cm. Tangannya mengangkat dengan pelan kado tersebut. Lova tidak bisa menahan keinginannya untuk mengambil dan membuka kado tersebut. Tetapi, tangan mungilnya terhenti saat ia mendengar suara yang cukup keras melarangnya untuk membuka kado tersebut.
"Letakkan kado itu anak kecil! Kau akan mendapat masalah nanti." Dengan gemetar, Lova kembali meletakkan kado tersebut. Ia hampir menangis mendengar suara yang cukup keras tersebut.
"Ma'af, Paman." Lova menundukkan kepalanya, ia membalikkan badannya dan bergegas pergi menuju dapur tempat Maisya berada.
Lova terisak menuju dapur, tangan kecilnya menghapus air matanya yang mengalir. Sesampainya didapur ia memanggil Maisya. Namun, Maisya tidak menjawab panggilannya.
"Bibi, Bibi Maisya dimana?" suara Lova terdengar bergetar. Ia mengelilingi dapur yang berukuran 7 x 7 meter tersebut sambil menyebutkan nama Maisya. Langkah kaki Lova terhenti saat ia melihat tuan muda Routh sedang menatapnya sambil menuangkan air dari pitcher.
"Tu-tuan Hans..." Suara Lova bergetar saat menyebutkan nama Hans. Ia menundukkan kepalanya, tangannya saling menggenggam dan meremas satu sama lain.
"Ma'af Tuan Muda, ini makanan pesanan anda." Tiba-tiba saja Maisya datang dari pintu belakang membawa bungkusan makanan. Hans meminta Maisya membelikannya bakso yang ada didepan kompleks perumahan mewah keluarga Routh.
"Lova? Ada apa?" Maisya beralih pada Lova setelah menyiapkan bakso untuk Hans. Hans duduk di pantry dan menikmati baksonya. Maisya mengelus kepala Lova, Lova langsung memeluk Maisya dan menangis dalam dekapan Maisya.
"Ada apa gadis kecil? Apa ada yang mengganggumu?" Maisya mengelus pipi Lova, ia duduk dikursi yang ada di pantry dan memangku Lova.
"Tadi Paman yang ada didepan memarahi Lova," adu Lova. ia mengusap air matanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mahar Terindah (Remake)
Fiksi UmumHans Revillo Routh, adalah seorang pria berusia 26 tahun yang masih dibayang-bayangi masa lalunya. Ditinggalkan oleh kedua wanita yang dicintainya membuat Hans seperti mayat hidup. Lalu, sebuah titik balik datang dihidupnya. Semuanya bermula saat i...
