Chapter 11 : Misunderstanding

286 23 28
                                        

HARI ini terasa cepat sekali berlalu. Seakan baru saja tadi pelajaran dimulai, sekarang malah tiba-tiba sudah selesai. Waktu terkadang begitu cepat. Sekarang malah masuk jam pulang sekolah. Alangkah indahnya pulang sekolah.

"Phi, lo nunggu jemputan?" tanya Mitha. Sophia cs kini tengah berada di parkiran. Sophia dan Mitha duduk di motor Mitha sedangkan Sinta bersandar pada mobilnya.

"Ya iyalah. Terus gimana gue pulang?"

"Bisa kali nebeng gue sama Mitha," tawar Sinta sambil memutar-mutar kunci mobilnya.

"Gue mau, tapi rumah kita nggak ada yang sejalan. Apalagi rumah gue jauh dari sini. Rumah Mitha malah deket banget dari sekolah, jadi iri."

"Bilang aja lo iri gara-gara gue tetanggaan sama Haikal. Halah, elo," Mitha menyenggol bahu Sophia. Sophia terkekeh.

"Gue bawa mobil, kok," kata Sinta masih tetap menawarkan. "Sama gue aja."

"Makasih, ya. Kalian semua udah care sama gue. Tapi, ini hukuman gue, gue nggak mau kalian kena imbasnya."

"Santai aja kali."

Sophia tersenyum mendengar ucapan kedua sahabatnya ini. Kepalanya berputar, mencari sosok Haikal. Tapi ternyata, pandangannya bertemu dengan Titan yang sedang memundurkan motornya agar bisa keluar. Titan baru saja menaiki motornya, tiba-tiba seorang cewek datang ke hadapannya.

"Dasar playboy. Sok-sokan bilang gue playgirl. Huh, cowok muna," gumaman Sophia membuat Mitha dan Sinta menoleh. Sophia cs melihat Titan sedang membonceng cewek itu. Apalagi saat diatas motor, mereka terlihat begitu akrab. Wayoloh, pegimana ini? Sampai mereka tidak terlihat, mata Sophia cs masih melihat kearah mereka.

Sophia menepuk helm Mitha yang sedari tadi ia pangku. "Gue mau kedepan. Kali-kali Ridho udah nunggu," nada bicaranya terdengar ketus. Ia bangkit dan segera pergi meninggalkan Sinta dan Mitha.

"Sin," panggil Mitha. "Sini dulu."

"Apa?" wajah Sinta maju sedikit.

"Dia cemburu?"

Sinta menarik kembali wajahnya. Ia mengangkat kedua bahu, kedua alisnya terangkat, bibirnya membentuk seulas senyum.

"Siapa yang tau tingkah orang lagi jatuh cinta?"

Sangat diuntungkan, Sophia tidak mendengar ucapan kedua sahabatnya. Ia sibuk memikirkan agar segera sampai kedepan, bertemu Ridho dan pulang ke rumah. Semua kejadian tadi membuat Sophia tidak bisa berpikir jernih.

"The most wanted playboy. Cocok buat lo," geram Sophia. Ia berjalan cepat ke depan gerbang dan bertemu Ridho. "Oh, the most wanted brengsek juga cocok banget buat lo, Sogan."

Sophia langsung duduk dibelakang Ridho, membuat Ridho meliriknya aneh.

"Helm, nih," Ridho menyundul Sophia memakai helm. Jahat, ya?

"Jalan aja kenapa, sih? Helm kan bisa dipake dijalan," maki Sophia.

Ridho meliriknya sinis, ia mendengus lalu melemparkan helm yang ia gunakan untuk menyundul Sophia tadi.

"Noh, pa-ke di-ja-lan," ucap Ridho penuh penekanan.

Sophia mendengus kesal. Ia turun dari motor lalu mengambil helm yang Ridho lempar. Ia duduk lagi dibelakang Ridho. Tiga detik kemudian, Sophia memukul helm yang Ridho gunakan dengan helm yang baru saja ia ambil.

"Puas lo!?" ucap Sophia setengah teriak. Ia memakai helmnya dengan kesal.

Ridho mengusap-usap helm bagian belakangnya. Tanpa aba-aba, ia menggas motornya membuat Sophia terlonjak kaget.

MLS (1) - Phytagoras LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang