"UDAH, Phi. Mungkin emang bukan dia yang terbaik buat lo," Mitha berusaha menenangkan Sophia.
Istirahat pertama ini Sophia cs gunakan untuk bersembunyi di halaman belakang. Tepat di dalam gudang yang berisikan kursi-kursi rusak. Sophia cs duduk di kursi yang sekiranya masih layak di duduki.
"Di... didepan gue, Mit... gue... gue sakit hati banget," Sophia menangis tersedu-sedu.
"Phi, masih ada kita kok. Kita nggak bakal ninggalin lo," Sinta juga berusaha menenangkan Sophia.
"Gue... hati gue hancur, huaaa" Sophia menunduk, sehingga kepalanya menyentuh pahanya.
Mitha dan Sinta mengelus-elus punggung Sophia pelan. Sakit luar biasa pastinya. Orang yang kau suka menembak orang lain didepan matamu sendiri. Mana orang lainnya itu namanya sama lagi.
"Kenapa bukan gue? Kenapa bukan Sophia? Kenapa mesti Sofia?"
Sinta dan Mitha hanya saling tatap. Mereka melihat Sophia dengan pandangan iba.
"Nangis aja, Phi, daripada disimpen, sakit malahan," Mitha menyarankan.
Sophia menangis lebih keras. Mumpung ini di tempat sepi.
Tanpa di inginkan, bel masuk berbunyi. Membuat Sinta tersentak karena bel benar-benar berbunyi nyaring. Sophia menegakkan tubuhnya lalu mengusap airmatanya.
"Kalian berdua balik ke kelas dulu aja."
"Nggak mungkinlah, Phi, kita ninggalin lo dalam keadaan kayak gini," ucap Sinta membuat Sophia menggeleng.
"Nggak papa, gue mau bolos kelas ini. Kalian masuk aja dulu."
"Yakin?"
Sophia mengangguk. "Lagian, gue mau sendiri dulu," ia memaksakan memberi seulas senyum.
"Kita tinggal, ya, Phi," Sinta berdiri lalu menepuk pundak Sophia pelan.
"Kalo lo butuh bantuan, SMS aja," Mitha menunjuk gadget-nya sambil tersenyum.
"Nggak usah kuatir sama gue. Kuatirin alasana yang lo berdua buat kalo Bu Pur udah dateng."
"Itu sih gampang," Sinta memberikan jempol pada Sophia sambil tersenyum. Mitha juga ikut tersenyum.
Saat Sinta dan Mitha pergi meninggalkan Sophia, Sophia menaikan kedua kakinya diatas kursi lalu melipatnya. Ia memeluk kakinya dan menunuduk diatas lututnya. Ia kembali menangis.
Baru saja satu langkah ia mulai bisa mendekati Haikal, ternyata Haikal sudah menjadi milik orang lain. Seandainya kita bisa mengatur siapa orang yang kita suka, maka Sophia memilih berhenti menyukai Haikal.
Sayangnya, tidak segampang itu untuk berhenti menyukai seseorang.
Sophia mendongak lalu menghapus airmatanya dengan lengannya. Ia melihat kanan dan kiri. Mengapa ia berada ditempat gelap seperti ini sendirian? Ia langsung bangkit dan keluar gudang. Sekarang, ia harus bolos kemana?
Perpustakaan.
Ya, kakinya menuntunnya kesana tanpa ia sadari. Dan kenapa harus kesana? Ia tak tahu.
Sophia masuk ke dalam perpustakaan, untung saja waktu itu penjaga perpustakaan sedang tidak di tempat. Mungkin membeli beberapa makanan. Ia masuk dan segera mencari tempat tersembunyi agar ia bisa menenangkan pikirannya. Ada novel yang sebenarnya tidak menarik perhatiannya, tapi tetap ia ambil. Ia duduk dilantai dan bersandar di salah satu rak buku. Kedua kakinya ia lipat, dan ia kembali menunduk diatas lututnya.
Menyendiri ini terasa lebih tenang.
"Hai."
Sophia menoleh lalu mendenguskan napas pelan. Ia kembali menunduk. Ia benar-benar tidak nafsu meladeni orang seperti Titan sekarang ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
MLS (1) - Phytagoras Love
Roman pour AdolescentsMath Love Series (MLS) 1 - Sophia Afareen (kelas X), bukan cewek populer apalagi The Most Wanted-nya SMA Airlangga. Dia suka sama cowok bernama Haikal Ardhani (Kelas XI), prestasi Haikal membuat Sophia jatuh cinta. Juara 1 olimpiade Kimia tingkat na...
