Chapter 7 : Introduce

328 32 8
                                        

YUDISTIRA bingung memikirkan bagaimana caranya supaya ia bisa berbicara face to face dengan Sophia. Dia kan tidak mengenal Sophia, bagaimana mengajaknya berbicara? Hanya ada sesuatu yang harus ia beritahukan pada Sophia.

Sangking khusyuk-nya melamun, Yudistira langsung melompat terkejut saat Titan dan David memukul punggungnya.

"Astagfirullahaladzim," ucap Yudistira.

"Nah, kalo kaget kayak gitu. Bagus yang keluar dari mulut."

"Lo ngapain sih, Vid? Lo juga, Tan!"

"Nggak asik kalo nggak jahil pagi-pagi, ya, nggak, Tan?" kata David sambil mengambil keripik singkong cemilan paginya Willy.

"Yo'i," sahut Titan. "Lo kenapa, Lek?"

"Lek, Lek," jawab Yudistira kesal. "Sejak kapan gue nikah sama Bulek lo?"

"Yahaaa... Paklek lagi PMS, makanya sensi," David makin menjadi-jadi membuat Yudistira jadi bulan-bulanan.

"Sinting lo pada," Yudistira geleng-geleng kepala.

Willy hanya tersenyum melihat tingkah teman-temannya pagi ini, sampai ia mendapatkan SMS dari wali kelas mereka. "Gue mau ke kantor dulu, Pak Hardi manggil."

"Gue ikut, Wil."

"Rajin amat lu, Vid? Ngapain lo ke kantor? Nyari Bu Melati?"

David menyeringai. "Lo kayak nggak tau aja."

"Ya udah, siapa lagi mau pedekate sama Bu Mel?"

"Nggak, deh. Gue makasih," jawab Titan.

"Gue cabut dulu," pamit Willy disusul David.

"Sip."

Sekarang, tinggal Titan dan Yudistira. Hanya mereka berdua.

"Tumben lo dateng pagi."

"Tuh curut dua dateng kerumah gue. Mungkin mereka sempet sholat tahajud dirumah gue."

Yudistira terkekeh. Baru saja ia ingin berbicara lagi, tapi Maudy tiba-tiba datang dan langsung menarik tangan Titan.

"Aku mau ngomong sama kamu."

"Dimana?"

"Di tempat dimana kita cuma bisa berdua aja."

"Bisa, sih. Emang kalo disini nggak bisa, ya, Sayang?"

"Nggak. Aku nggak enak sama temen kamu. Lagian, bentar aja, kok."

"Ya udah. Kemana?"

"Kamu ikutin aku," Maudy membawa Titan sedikit menjauh dari Yudistira.

Maudy menarik napas dalam. "Aku mau putus sama kamu."

Titan berpikir sejenak lalu mengangguk. "Yaaa... apa boleh buat? Kalo emang itu keputusan kamu, aku hargain, kok."

"Makasih, Tan."

"Gue yang harusnya bilang makasih sama lo. Maudy, makasih. Dan, maaf juga. Lo pasti kesiksa pacaran sama gue."

"Banget," Maudy tersenyum lalu tertawa pendek. "Mudah-mudahan kita dapet yang lebih baik dari ini."

"Iya. Amiin."

"Ya udah, Tan. Gue duluan, ya," Maudy berjalan meninggalkan Titan.

"Maudy!" Titan berlari mendekati Maudy. "Lo cewek pertama yang minta putus sama gue, manis banget."

Maudy sedikit terkejut. "Masa, sih? Emang biasanya gimana?"

"Ya... lo tau lah," Titan memegang pipinya. "Kalo lo mau, nggak papa kok."

MLS (1) - Phytagoras LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang