Chapter 21 : Phytagoras

317 17 68
                                        

"GUE suka sama lo."

Sophia membelalakan kedua matanya. Jantungnya berdegup lebih keras.

"Apa?" tanya Sophia berusaha memastikan.

"Gue suka sama lo," ulang Haikal.

Sophia menelan air liurnya. Ia lalu tersenyum. "Aku ... aku juga suka ... aku juga suka sama Kak Haikal," ucap Sophia jujur.

"Jadi, lo mau jadi pacar gue?"

Sophia memejamkan matanya sejenak sebelum menjawab. "Kak, kasih aku waktu boleh?"

Haikal langsung mengembuskan napas perlahan. "Iya. Nggak papa."

"Makasih, Kak."

"Gue tunggu jawaban lo," Haikal tersenyum lalu beranjak pergi meninggalkan Sophia.

Sophia seperti tidak ada niat untuk melanjutkan kegiatannya mengikat tali sepatunya. Hanya ada satu dipikirannya.

Kenapa ia bisa ragu-ragu terhadap perasaannya?

Dan lagi, ia ragu-ragu tehadap apa?

***

Sophia menghela napas sebelum melihat reaksi Sinta yang sampai-sampai menggigit sarung guling yang ia peluk.

"Terus?" mata Sinta melotot.

"Yaaa ...," Sophia melirik kanan dan kiri. "Gue minta waktu."

Sinta melempar gulingnya agar menjauh darinya.

"Kenapa nggak langsung diterima?" suara Mitha terdengar dari dalam laptop Sinta.

Saat 'insiden' itu terjadi, Sophia langsung melesat ke rumah Sinta. Kalau ia ke rumah Mitha, gawat! Haikal kan tetanggaan sama Mitha, karena itu Sophia berinisiatif ke rumah Sinta. Saat sudah berada di rumah Sinta, Sophia langsung meminjam laptop cewek itu dan langsung menghubungi Mitha via skype.

"Nggak tau. Pikiran gue nggak jernih saat itu," jawab Sophia dengan nada bersalah.

Sinta memberikan Sophia sebotol air mineral. "Minum dulu, nih. Lo nggak fokus."

Sophia langsung meminumnya.

"Apa jangan-jangan, orang yang lo suka bukan Haikal lagi?" pertanyaan Mitha langsung membuat Sophia melotot maksimal.

"Jangan keras-keras ngomongnya, Mit! Kalo Kak Haikal denger gimana?" tanya Sophia.

"Aelah, antara rumah gue sama dia itu banyak temboknya. Nggak bakal kedengeran, gue jamin. Lagian, kamar gue itu deket rumahnya Wulan, tetangga sebelah kiri gue, Haikal kan tetangga sebelah kanan. Pokoknya nggak bakal kedengeranlah sama Haikal."

Sophia tertawa garing.

"Iya, Phi. Apa jangan-jangan, lo suka sama Kak Titan?"

Sophia tersentak. Ia terdiam sejenak bahkan seakan-akan tidak ada niat untuk menyangkal ucapan sahabatnya itu. Sophia mengeratkan pegangan tangannya pada botol yang diberikan Sinta tadi.

"Apa bisa langsung ditarik kesimpulan kalo lo suka sama Kak Titan?"

"Gue yakin. Kak Titan kan alasan lo ragu-ragu?"

Sophia mengusap-usap dahinya. "Gue nggak tau! Gue nggak bisa mikir!" Sophia menyembunyikan wajahnya di antara kedua telapak tangannya.

"Mendingan, lo mikir tentang perasaan lo yang sebenarnya buat siapa, Phi. Soalnya, kalo lo buru-buru ambil keputusan, lo bisa nyesel. Ya kan, Mit?"

Layar laptop Sinta tidak menunjukkan keberadaan Mitha sama sekali. Baru saja tiga detik yang lalu panggilan itu berakhir. Sinta menaikkan kedua alisnya bingung. Apa masalah jaringan?

MLS (1) - Phytagoras LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang