Chapter 18 : Realize

258 16 0
                                        

MOTOR Mitha berhenti tepat di depan pagar rumahnya. Ia membuka pagar secara perlahan lalu memasukkan motornya ke dalam garasi rumahnya. Ia keluar lagi untuk menutup pagar rumahnya.

"Oi!"

Mitha menoleh ke sumber suara. Mata Mitha menyipit malas saat melihat ternyata Haikal yang memanggilnya.

"Paan?" tanya Mitha malas.

"Elah, biasa aja kali," Haikal membenarkan letak kacamatanya. Ia mendekati pagar pembatas antara rumahnya dengan rumah Mitha.

Mitha kembali fokus dengan pagar rumahnya.

"Habis dari mana lo?"

Mitha melirik Haikal sambil mendengus. "Lo kenapa jadi kepo gini?"

"Gue cuma nanya kali."

"Habis dari tempat Sophia."

"Dia ada di rumah?"

"Lo kalo kepo samperin aja sana," Mitha mendengus lalu masuk ke dalam rumahnya.

Haikal mengusap-usap tengkuknya. "Tu anak kenapa coba?" gumamnya.

Baru saja Haikal ingin masuk ke dalam rumahnya, tapi tiba-tiba Mitha muncul di balik pagar pembatas.

"Kalo lo mau keluar, beliin gue martabak dong, Kal."

"Siapa elo nyuruh-nyuruh?"

Mata Mitha melotot. "Utang lo belum lo bayar, Kal."

"Utang apaan?"

"Kemaren ban motor lo bocor, gue yang bayar. Artinya, lo utang sama gue."

"Di ikhlasin aja kali, Mit. Ya ampun perhitungan banget sama gue."

"Iya, gue ikhlasin kalo lo beliin gue martabak," Mitha terkekeh.

"Entar, kalo gue ketemu sama Sophia baru gue beliin."

"Terserah lah."

Haikal mendecakkan lidahnya sebelum masuk ke dalam rumahnya.

Dia pake inget segala lagi.

***

Sophia sudah berdiri di depan pintu Kafe ini sekitar sejam yang lalu. Ia melirik ke dalam, dan disana Titan sedang duduk menunggunya. Berkali-kali kaki Sophia dihentakkan ke lantai Kafe. Ia bimbang. Bagaimana kalau ia masuk tapi hanya akan ada momen canggung? Atau bahkan, tidak ada pembicaraan di antara mereka.

Atau lebih parahnya, Titan langsung pulang saat melihat wajah Sophia.

Sophia memegang kepala. Ah, gue stres parah.

Kalo dipikir-pikir, gue ngapain kesini? Kenapa gue nggak SMS dia aja kalo gue salah sambung? Eh, bentar. Gue punya nomor dia dari mana? Sophia kalut dalam pikirannya. Pasti kerjaan dua orang kurang kerjaan itu. Sinta, Mitha! Gue telen lo entar, nggak pake kunyah-kunyahan!

"Sophia? Lo ngapain berdiri di depan sini?"

Sophia mendongak dan menatap seorang cowok yang baru saja melepas maskernya berdiri tepat di depannya.

"Lo minta sumbangan?"

Sophia memukul tangan cowok yang ingin memberinya uang lima ribuan itu. "Sembarangan lo, Al!"

"Lagian lo ngapain disini?"

"Pengin aja," Sophia melihat teman sekelasnya ini dari ujung rambut sampai ujung kaki. "Emang nggak boleh gue berdiri disini?"

"Boleh, sih. Terserah lo, deh."

"Alfa," Sophia sedikit berbisik. "Lo mau masuk?"

"Emang gelagat gue kayak mau nemenin lo disini, ya? Ya jelas mau masuk lah," Alfa tertawa kecil. Tapi untuk sekarang, tertawa bukan waktu yang pas untuk Sophia.

MLS (1) - Phytagoras LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang