Chapter 26 : Simply

258 9 0
                                        

TITAN melebarkan senyumnya. "Kurang jelas ya kalo gue suka sama lo?"

Jantung Sophia terasa berhenti berdetak. Sophia melebarkan tatapannya. Ia bahkan merasa susah bernapas. Bahkan Sophia baru sadar kalau Titan kini mendekatkan wajahnya dan menatap mata Sophia dari dekat.

Sophia perlu udara. Ia ingin mencari oksigen. Tapi kenapa kakinya tidak mau melangkah pergi?

Masih dengan senyumnya, Titan menjauhkan wajahnya lalu mengusap-usap rambut Sophia sambil tertawa kecil. Ia melangkah pergi meniggalkan Sophia. Tapi sebelum itu, Titan membisikkan sesuatu.

"Jangan lama-lama disini. Banyak debu masuk ke hidung."

Sophia menoleh saat Titan sudah pergi menjauhinya. Disaat itulah, Sophia merasa matanya dipenuhi air mata.

"Gue muak tau! Ngeliat senyum lo itu bikin pusing. Bisa nggak sih lo nggak senyum sama gue kalo momennya lagi kayak gini? Mana gue tau lo serius atau nggak! Dasar Ntit Sogan senyum setan sok keren!" Sophia hampir saja berteriak sangking frustrasinya. Untung saja air matanya tidak jatuh.

"Lo berhasil buat gue mecahin rekor nahan napas terlama," Sophia mengembuskan napas kasar.

***

Titan berjalan cepat melewati koridor kelas XII. Entah ada apa dengan cowok satu ini. Di depannya, sekitar satu meter, ada Yudistira yang juga berjalan tak kalah cepat sambil menengok ke belakang—kearahnya.

Yudistira yang sudah berkeringat dingin semakin memperlaju langkahnya saat ia merasa Titan mengikutinya. Saat merasa lelah, Yudistira berhenti. Ia memantapkan hatinya sebelum bersiap-siap menerima eksekusi dari Titan apapun bentuknya.

Yudistira berbalik menghadap Titan. "Tan, gue—" ia terkejut saat melihat Titan malah melewatinya.

Titan berhenti melangkah dan menoleh ke Yudistira dengan pandangan aneh. Yudistira juga menoleh dan menatap Titan bingung.

"Lo ... nggak marah sama gue?"

Titan menaikkan satu alisnya. "Apa alasannya?"

Yudistira menghela napas. Kemungkinan ia akan selamat hari ini sangat besar. "Nggak papa, gue kirain elo ngikutin gue."

Titan melanjutkan langkahnya. Yudistira tidak suka dengan sikap Titan kali ini. Ia langsung menyejajarkan langkahnya dengan Titan.

"Lo kenapa, man?" tanya Yudistira. "Mendingan lo marah sama gue gara-gara gue ngasih tau Sophia kalo gudang itu markas kita. Tapi, sumpah, Sophia sendiri yang nemuin fotonya, bukan gue yang ngasih ke dia. Gue aja nggak tau lo nyimpen foto dia dimana. Gue bahkan nggak tau lo nyimpen foto dia."

Titan tetap berjalan tanpa menghiraukan ucapan Yudistira.

"Lo aneh hari ini."

"Ya, gue aneh," jawab Titan akhirnya. "Setiap hari gue aneh."

Yudistira menatap Titan tidak mengerti.

Titan berhenti berjalan saat mereka kini berada di tempat yang sepi. "Gue mau marah sama lo, tapi gue nggak bisa. Alasan gue nggak masuk akal buat marah sama lo."

Titan menarik napas dalam-dalam lalu mengacak-acak rambutnya. "Gue bukannya nggak marah sama lo, Yud. Gue belum. Inget. Belum!"

Yudistira meneguk liurnya saat mendengar ucapan Titan yang penuh penekanan.

"Sampe gue awkward lagi sama Sophia, gue harap lo siap sedia jadi pelampiasan gue."

Setelah mengatakan itu, Titan meninggalkan Yudistira sendirian disana.

MLS (1) - Phytagoras LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang