"KALO masih dingin, masuk ke pelukan gue aja," ucap Titan. Titan memperhatikan Sophia. "Lo cantik banget hari ini, Sophia."
Titan mendekati Sophia. Ia memegang kedua bahu Sophia. Ia memajukan wajahnya. Saat ia ingin mencium Sophia, tiba-tiba ia langsung menjauhkan wajahnya.
"Sori, so-so-sori. Gu-gu ...," ucap Titan terbata-bata.
Sophia menunduk dalam-dalam.
"Gu-ge-gu-e dul-duluan," Titan langsung berlari meninggalkan Sophia.
Sophia langsung mencengkram pagar di sampingnya. Tangan satunya memegang jantungnya.
Dan Haikal yang melihatnya dari kejauhan mengepalkan tangannya. Rahang Haikal mengeras. Ia langsung berjalan mendekati Sophia dan duduk di samping cewek itu dengan salah satu lututnya menyentuh tanah.
"Sophia?"
Sophia menoleh dan menatap Haikal dengan mata terbelalak. "Kak ... udah lama?"
Haikal menggenggam tangan Sophia lembut. "Baru aja," Haikal tersenyum.
Sophia hanya bisa menunduk.
Haikal perlahan memeluk Sophia dari samping. Ia menundukkan kepala Sophia di dadanya. "Mau pulang?"
Sophia mengangguk.
"Tapi pamit dulu sama Ain, ya?"
Sophia lagi-lagi mengangguk.
Haikal menarik napas dalam-dalam. Ia merasa sangat panas sekarang. Apalagi saat tahu bahwa Sophia sedang memakai jas hitam yang Haikal yakin itu milik Titan. Sekali lagi, Haikal menggertakkan giginya.
***
"Kak Titan, bukan?" Sinta menunjuk Titan yang sedang berlari dengan gelas di tangannya.
Alfa menoleh dan melihat siapa yang Sinta tunjuk. "Terus?"
"Kenapa dia buru-buru?"
Alfa meminum minuman di gelasnya. "Emang kenapa kalo dia buru-buru?"
Sinta menggeleng. "Nggak papa, sih."
"Oh," Alfa mengingat sesuatu. "Gue beberapa hari yang lalu ketemu Sophia juga, dia kayak mau nemuin Titan tapi bingung sendiri gitu."
"Lo ketemu Sophia?" Sinta sedikit terkejut. "Di Cafe Blue?"
Alfa mengangguk. "Dia minta pertanggungjawaban gue karena elo yang ngebuat dia janjian sama Titan."
Sinta tertawa. Membuat Alfa menatapnya sinis.
"Sin, elo emang ngerepotin mulu, ya," Alfa meletakkan gelasnya di atas meja. "Sumpah, ya, gue baru aja sampe parkiran dan elo dengan santainya nelepon gue dan nyuruh gue jemput elo di rumah Sophia."
Sinta tertawa lagi. "Tadi ada Kak Haikal, nggak enak gue."
"Nggak enak kenapa?"
"Nggak papa aja, sih."
Alfa manggut-manggut.
"Al, lo lebih suka Sophia sama Kak Titan atau Sophia sama Kak Haikal?"
"Sophia sama jodohnya," ucap Alfa ngasal.
Sinta memukul bahu Alfa. "Serius, Tong!"
Alfa mengusap-usap tengkuknya sebelum tertawa gaje. "Sophia sama Titan, deh. Gue nggak terlalu kenal sama Haikal."
Sinta mendesah panjang. "Alasan lo nggak masuk akal."
Alfa melipat kedua tangannya di depan dada. "Kalo lo? Lebih suka Sophia sama siapa?"
KAMU SEDANG MEMBACA
MLS (1) - Phytagoras Love
Teen FictionMath Love Series (MLS) 1 - Sophia Afareen (kelas X), bukan cewek populer apalagi The Most Wanted-nya SMA Airlangga. Dia suka sama cowok bernama Haikal Ardhani (Kelas XI), prestasi Haikal membuat Sophia jatuh cinta. Juara 1 olimpiade Kimia tingkat na...
