SOPHIA menopang dagu dengan kedua tangannya yang berdiri tegak di atas meja. Ia melihat ke bawah, lalu ke kiri. Sesekali memejamkan matanya, lalu merebahkan kepalanya di atas meja. Beberapa menit kemudian, ia menegakkan tubuhnya lalu menopang dagunya lagi. Siklus itu sudah terulang empat kali.
Sinta menopang dagunya dengan tangan kiri, sedari tadi ia melihat kelakuan aneh Sophia. Tanpa sadar, ia geleng-geleng sendiri.
"Sin," bisik Mitha.
Sinta menoleh dan melihat Mitha menunjuk Sophia yang ada di depannya dengan pulpen yang sedari tadi ia gunakan untuk mencatat.
"Galau, kali," jawab Sinta pelan.
"Sin!"
Sinta menoleh ke orang yang duduk di sampingnya selain Mitha.
"Apa, Al?"
Alfa menunjuk Sophia dengan dagunya. "Panggilin Sophia, dong."
Sinta baru saja ingin memanggil Sophia, tapi Alfa menahan tindakannya.
"Wait, tu orang kenapa?" Alfa sedikit terkejut melihat Sophia beberapa kali menjedotkan keningnya ke meja.
"Phi, Phi, Phi!" tegur Sinta.
Sophia menoleh. Ia lalu tersenyum horor. Detik berikutnya, ia mengangkat tangan tinggi-tinggi. Lalu meminta izin untuk pergi ke toilet.
Bu Nur yang sedang menjelaskan tentang zaman pra aksara pun memberikan izin untuk Sophia.
Sophia pergi dan segera menuju toilet.
"Al, misalnya lo ditolak, lo galaunya bakalan kayak gitu juga nggak?" tanya Sinta.
Alfa berdehem. "Emang ada yang bisa nolak gue?"
Sinta mendengus.
"Lupa, kan!" Alfa mengembuskan napas pelan. "Gue mau minjem earphone sama Sophia."
"Buat?"
"Pengiring tidur," Alfa tersenyum. "Bosen tau, dari tadi Bu Nur cuma gitu-gitu aja."
Sinta mendengus lalu menoleh ke Mitha.
"Mit," panggil Sinta.
Mitha menoleh.
"Sophia kenapa, sih?"
Mitha mengangkat kedua bahu. "Dia yang nolak kok dia yang galau, ya?"
"Menurut lo gimana?"
"Gue nggak tau kalo udah kayak gini. Cuma Sophia yang tau dia bakal ngapain."
"Kalo gue jadi dia sih, gue bakal bingung banget."
"Sama," Mitha tersenyum tipis. "Tapi kalo gue jadi dia, mungkin gue bakal milih Haikal."
"Lho? Kenapa?" tanya Sinta. "Bukannya lo lebih pro ke Kak Titan, ya?"
Mitha tersenyum. "Tapi gue lebih kenal Haikal. Dan gue udah tau perasaan dia."
Sinta terdiam beberapa saat. "Kok lo bisa tau?"
"Jadi ...."
***
"Kal, gimana kalo kita nonton Ano Hana-nya barengan? Gue juga lagi mau nangis, nih."
Haikal melirik Mitha sebelum menjawab. "Kenapa lo mau nangis?"
"Nggak papa, sih."
Haikal mengacak rambut Mitha lalu mengambil kursi dan meletakkannya di samping Mitha.
KAMU SEDANG MEMBACA
MLS (1) - Phytagoras Love
Fiksi RemajaMath Love Series (MLS) 1 - Sophia Afareen (kelas X), bukan cewek populer apalagi The Most Wanted-nya SMA Airlangga. Dia suka sama cowok bernama Haikal Ardhani (Kelas XI), prestasi Haikal membuat Sophia jatuh cinta. Juara 1 olimpiade Kimia tingkat na...
