Chapter 28 : Love

272 16 14
                                        

TITAN sudah lebih dari lima belas detik tidak berkedip. Detik ke-tujuh belas, matanya berhasil berkedip karena Sophia mengayunkan sendoknya di depan Titan. Titan yang memang dari tadi sudah tersenyum, kini melebarkan senyumnya.

"Udah lah, elo pesen makanan. Terus duduk di mejanya cs-cs lo. Jangan gangguin gue disini," ucap Sophia sambil memakan gado-gadonya.

"Tapi kalo gue duduk disana," Titan menunjuk kerumunan Yudistira dan teman-teman dengan dagunya. "Elo nggak ada yang nemenin."

"Gimana mau ada yang nemenin? Temen-temen gue elo usir semua," ucap Sophia sewot.

"Pembuat nafsu makan bertambah," Titan tertawa kecil. Ia berdiri lalu mengusap-usap puncak kepala Sophia. "Elo emang Sop Ayam-gue ya, Sop."

"Pemborosan kata, tau!"

Titan lagi-lagi tertawa. "Gue pesen makanan dulu. Ada yang mau lo pesen? Siapa tau bisa jadi mahar waktu gue ngelamar lo."

Sophia mendengus sebelum melambaikan tangannya bermaksud menyuruh Titan pergi.

Tak berapa lama setelah Titan pergi memesan sesuatu, seseorang langsung duduk di depan Sophia—tempat duduk Titan tadi.

"Sophia," ucap orang itu. "Lo udah taken sama Kak Titan?"

Sophia mendongak. "Nggak. Gue nggak taken. Emang kenapa, Ta?"

Atasha menggeleng. Ia membuka novel yang sedari tadi dibawanya. "Lo nggak ngerasa diliatin cewek-cewek di sekitar sini gitu?"

Sophia mengedarkan pandangannya ke sekeliling kantin. Dan benar saja, banyak cewek yang menatapnya garang. Sophia baru sadar.

"Kok bisa gitu sih?" tanya Sophia. Ia merinding sendiri melihat tatapan mereka.

"Kalo menurut novel-novel yang gue baca, mereka cemburu sama lo."

"Gara-gara Titan gitu?"

Atasha mengangkat kedua bahunya. "Bisa jadi."

"Terus gimana?"

Atasha berpikir sejenak sambil melihat Sophia. "Yang gue aneh, elo kok nggak sadar ya kalo diliatin?"

"Ya mana gue tau. Kan setiap gue di kantin, gue digangguin mulu sama Titan."

Atasha manggut-manggut. "Kayaknya Kak Titan bener-bener ngalihin dunia lo, ya."

"Ta, Ta! Lo mau kemana? Jelasin dulu maksud lo!" seru Sophia saat melihat Atasha berdiri.

"Gini ya, menurut gue dan novel ditangan gue," Atasha memberi jeda. Ia mengangkat novelnya agar Sophia bisa melihatnya. "Mendingan lo tanya sama mantan-mantannya—eh, satu mantannya—gimana nasib mereka waktu deket sama Kak Titan."

Sophia tampak berpikir. Tanpa sadar, Atasha sudah lenyap dari hadapannya. Kenapa Sophia merasa, Atasha seperti malaikat penolong yang memberikan konsultasi padanya yang tiba-tiba ada dan tiba-tiba menghilang.

Sophia mendesah pelan. Kayaknya dia lagi baper gara-gara kebanyakan baca novel roman, batin Sophia. Ia buru-buru menghabiskan gado-gadonya karena merasa tidak nyaman dengan tatapan-tatapan itu.

***

Sesuai saran Atasha, Sophia bertanya pada Maudy. Dengan sedikit gugup dan bingung, Sophia bertanya saja pada Maudy saat mereka kebetulan papasan di koridor utama.

"Lo diliatin?" tanya Maudy berusaha menahan tawanya.

"Iya, Kak. Itu kenapa, ya?" tanya Sophia polos.

Maudy semakin memeluk erat buku yang dibawanya. "Dulu gue juga gitu. Tapi, waktu jadian sama Titan ... lama-lama mereka nggak bakal ngeliatin lagi, kok."

MLS (1) - Phytagoras LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang