TITAN masuk ke dalam UKS bersama Willy. Betapa terkejutnya anak PMR yang sedang piket melihat wajah Titan dan Willy. Bisa dibilang cukup mengenaskan. Terutama wajah Willy.
"Gue pinjem UKS ya," ucap Titan sambil mengusap-usap pelan luka-luka di wajahnya.
Dua orang cewek yang diketahui adik kelasnya Titan itu mengangguk ala-ala malu-malu kucing. Mereka berdua segera mencari kompres untuk Titan dan Willy.
"Thank's cantik," Titan tersenyum simpul. "Tapi, kalian boleh keluar nggak?"
Kedua gadis itu mengangguk dan segera keluar dari ruang UKS sambil sesekali melihat Titan.
Blam.
Pintu tertutup.
"Baru kali ini gue bolos sama lo," ucap Willy sambil mengompres wajahnya yang lebam.
Titan berbaring di ranjang UKS sambil melipat kedua tangannya dibelakang kepala. Ia memejamkan matanya. "Nikmatin aja waktu bolos lo ...."
Titan menarik napas dalam sebelum melanjutkan. "Karena mungkin ini bakal jadi hari bolos terakhir lo di SMA," Titan semakin memejamkan matanya, suaranya agak serak.
"Pertama dan terakhir," Willy kembali mengompres wajahnya saat sadar ia terdiam beberapa saat.
Kini kepala Titan berbaring diatas bantal, tangan kirinya ia taruh di perutnya dan tangan kanannya ia taruh diatas dahinya.
"Tan, gue masih nggak ngerti jalan pikiran lo. Apa yang lo dapet dengan bolos kelas dan terlambat ke sekolah?"
Titan menarik napas dalam-dalam. "Gue mau tidur, Wil. Lo kalo mau balik, balik aja. Gue mungkin bolos sampe pulang sekolah."
"Tan! Lo udah kelas dua belas. Serius dikit napa? Lo nggak mau lulus?"
Titan melempar satu bantal dan itu berhasil mengenai wajah Willy yang masih sakit. Willy pun mengaduh.
"Berisik! Gue mau tidur."
***
Bel istirahat berbunyi. Sophia cs males ke kantin. Antisipasi kalau-kalau mereka bertemu Titan di kantin, atau ditanya-tanya kakak kelas.
"Gue laper," gumam Mitha sambil memegangi perutnya.
"Gue aus," jawab Sinta sambil mengusap-usap lehernya dengan punggung tangannya.
"Kantin aja kalo laper, beli minum sana kalo aus," ucap Sophia sambil tersenyum tipis.
"Elo gimana?" tanya Mitha.
"Iya, Phi, lo gimana?"
"Gimana apanya?"
"Kita kantin nggak papa, ya? Entar Sinta beliin apa kek," ucapan Mitha membuat tatapan Sinta menjadi sinis.
"Nggak usah. Gue kenyang," Sophia masih tersenyum tipis.
"Sinta, dipanggil Kak Maudy tuh. Pramuka, Pramuka gitu katanya," Rian mendekati Sinta dan menunjuk pintu keluar dengan dagunya. Sinta segera mendatangi Maudy di luar kelas.
"Lo kenapa nggak ke kantin, Sop?" tanya Rian dengan cengiran khasnya.
Sophia berdiri dan memukul Rian. "Sekali lagi lo manggil gue 'sop', gue hajar lo," mata Sophia melebar. Bahkan hampir keluar.
"Elah, nyantai kali. Kak Titan biasanya manggil lo 'sop', lo biasa aja," Rian mengusap-usap bahunya yang di pukul Sophia.
"Kalo dia ...," ucapan Sophia terputus sejenak. Ia menarik napas lalu mengembuskannya. "Pokoknya jangan panggil gue 'sop', gue nggak suka."
KAMU SEDANG MEMBACA
MLS (1) - Phytagoras Love
Ficção AdolescenteMath Love Series (MLS) 1 - Sophia Afareen (kelas X), bukan cewek populer apalagi The Most Wanted-nya SMA Airlangga. Dia suka sama cowok bernama Haikal Ardhani (Kelas XI), prestasi Haikal membuat Sophia jatuh cinta. Juara 1 olimpiade Kimia tingkat na...
