Author's POV
Sinar matahari menembus jendela kamar yang masih tertutup gorden. Di dalamnya ada seorang manusia yang masih menggelung dibawah selimut putihnya.
Padahal jam sudah menunjukkan pukul 7 lebih.
Tunggu, apakah dia tidak sekolah?
Kringg..kringg..kringg..
Alarm telah berbunyi 12 kali dari jam 5 tadi. Tapi itu masih tidak cukup untuk membangunkan manusia satu ini.
Eh, sepertinya dia terbangun.
"Shit, apaan sih arghh. Ganggu gue tidur aja" sungut orang itu hendak mematikan alarmnya.
Namun matanya terbelalak saat melihat arah jarum jam pada alarmnya.
"Shit, gue telat" ia melompat dari tempat tidur dan bergegas membersihkan diri.
Tidak sampai 5 menit, ia sudah berseragam lengkap, walaupun penampilannya acak-acakan. Tapi apakah itu suatu masalah untuk anak bad boy tampan sepertinya?
Dengan cepat ia menuruni tangga rumahnya, bahkan tiap 1 langkahnya ia menuruni 2 anak tangga.
"Sudah siap kamu nak?" Seorang wanita yang sudah berkepala 4 namun masih terlihat muda menyapa laki-laki itu dengan senyuman hangat.
"Udah ma, mama kok gak bangunin Tristan sih?" Ya, dialah Tristan
"Mama kira kamu udah bangun dari tadi, ini aja barusan mama mau naik, eh kamu udah keluar dulu" jelas mama Tristan.
"Iya deh, Tristan berangkat ya ma" ujar Tristas setelah meminum susu Milo hangatnya. Ia mencium kedua pipi ibunya.
"Iya nak, hati-hati ya sayang"
Tristan segera masuk dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi
'Jam 07.20, sepuluh menit lagi masuk' batinnya setelah melirik jam tangannya.
"Ahh, untung aja gue bisa masuk gerbang" lega Tristan setelah dia berhasil melewati gerbang yang sedang ditutup Pak Joko.
Tristan menyenderkan kepalanya sebentar pada bangku mobil.
Lalu, ia menyambar tas disampingnya dan berjalan keluar menuju kelasnya XI IPS 3.
Namun, dewi fortuna tak berpihak padanya kali ini. Ia lupa jika hari ini ada ulangan harian matematika dari Pak Wiryanto. Dan..
Pak Wiryanto sudah bersinggah di kelasnya.
"Anjirr, gue tetep telat"
Tristan berjalan ke samping pintu, dari luar menghadap pada temannya (paham gak?).
"Hush, lo gak usah ikut pelajaran Pak Wiryanto Tris, nanti lo kena semprot" bisik Michael -sahabatnya- dengan menggerakkan mulutnya secara jelas.
Oke, tak masalah baginya. Dengan malas ia berjalan menuju kantin.
Saat ia menuju ke kantin, tak sengaja ia bertemu dengan seorang gadis berambut pirang yang berjalan menuju toilet, berlawanan arah dengan Tristan.
'Kayaknya gue tau nih cewek' batin Tristan.
'Oh ini bukannya si Vale vale lele itu ya?' Otaknya masih memaksa untuk mengingat siapa gadis itu.
"Eh, lo cewek XI IPA 2 ya?" Cegat Tristan dengan tampang sok kenal nya.
Cewek itu, Rara hanya diam tak menggubrisnya. Rara menatap datar cowok didepannnya sambil menaikkan salah satu alisnya.
"Woy kalo ditanya jawab dong!" Sebal Tristan. Biasanya, setiap cewek yang ia ajak ngobrol selalu bersemangat dan bahkan menggodanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Why Me?
Teen FictionKenapa selalu aku yang tersakiti? Kenapa selalu aku yang menderita? Kenapa aku yang harus tersisihkan? Dan kenapa aku bisa mencintaimu? Valerinsya Fradella Bracley - "Seharusnya aku tak pernah mengenalmu". Tristan Alaric Dixon - "Maafkan aku, tapi a...
