BAB 18

2K 85 1
                                        

Author's POV

"Ya udah aku pulang ya, mama udah nungguin aku dari tadi" pamit Tristan.

"Iya gak apa-apa" balas Rara sambil tersenyum.

"Gak mau bareng nih?"

"Nggak deh, aku ada urusan sama Dion"

"Ya udah, nanti kalau ada apa-apa telfon ya"

"Iya udah sana hush, kasian mama kamu kelamaan nunggu" suruh Rara sambil mendorong Tristan keluar dari rumah Dion.

"YON GUE BALIK!" teriak Tristan sebelum melewati pintu rumah Dion.

"Hmm" jawab Dion seadanya.

"Dadahh" Tristan melambaikan tangannya pada Rara

"Dadahh, hati-hati"

Rara menutup pintu rumah Dion, lalu beranjak mendekati Dion yang sedang asyik dengan dunianya sendiri.

"Yon"

Tak ada jawaban.

Rara mengecek iphonenya sambil menunggu jawaban dari Dion.

"Yon Dion"

Masih tak ada jawaban.

"DIONN!" teriaknya kesal. Sengaja Rara stay di rumah Dion sementara saat yang lain sudah pulang, ia berniat menceritakan semua yang di dengarnya dan berharap sahabatnya ini percaya. "Jangan ngacangin gue ih" sungutnya ketika Dion tidak menggurbrisnya sama sekali melainkan asyik dengan film barunya.

"Ish, lo sih ganggu aja. Orang gue kan udah bilang lo pulang aja bareng Tristan, gue mau nonton sepuasnya SENDIRI" sebal Dion sengaja menekankan kata 'sendiri'.

"Iya iya cuma bentar aja, tar gue pulang naik taxi deh. Ribet amat" jawab Rara menyepelekan.

Mau tak mau akhirnya Dion menge-pause filmnya itu. "So, what?" tanyanya jutek.

"Judes amat lo. Jadi gini kemarin pagi pas kita mau pulang dari villa, jam 2 pagi gue denger Ina telfonan sama orang gitu, dan kayaknya dia bahas lo Yon, dia kek bilang sukses lah, naikin popularitas lah. Gue dari awal punya feeling gak enak sama itu bocah, lo putusin aja deh daripada gimana-gimana" jelas Rara menggebu-gebu sambil mengingat apa saja yang dikatakan Ina dalam obrolannya kemarin.

Dion yang mendengar sontak tertawa "Woi, jam 2 pagi? Itu yang ada lo ngigo Va, NGIGO" kata Dion disela-sela tawanya.

"Enggak Dion, gue yakin gue gak ngigo. Itu gue denger beneran gak bohong" ucap Rara berusaha meyakinkan sobat karibnya ini.

"Lo kurang belaian ya dari Tristan? HAHAHAHA" guyon Dion. Ia tak menganggap pembicaraan ini serius, sama sekali tidak. Mungkin Rara hanya mengajaknya bercanda, setidaknya itu yang ada dalam pikiran Dion.

"DION! Nyebelin banget sih, gue serius tahu. Gue canda lo anggep serius, giliran gue serius lo anggep canda"

Dion memegang kedua pundak Rara seraya tersenyum, "Va, lo cuma parno sama gue dan gue hargain itu. Lo tahu kan kalo gue baru pertama kali serius sama seseorang. Lo cuma takut gue dikhianati atau gimana kan? Itu ekspetasi lo aja Va, realitanya gue baik-baik kok sampai kapan pun gue akan baik-baik aja. So, don't worry it's gonna be alright" jelas Dion meyakinkan.

"Gue tahu, tapi Yon ini tuh-"

"Elah, udah lo pulang aja. Ti ati" sanggah Dion memutus perkataan Rara. 'Ngeyel banget ini bocah' ucapnya dalam hati.

"Lo nyebelin ihh, dah gue pulang. Serah lo percaya apa gak" Rara memilih mengalah pada akhirnya, ia tidak mau persahabatannya dengan Dion meretak. Tapi bukan berarti dirinya menyerah untuk meyakinkan Dion. Bukankah sahabat yang baik itu yang menarik sahabatnya dari kegelapan dan membawanya dalam terang? Bukan malah membiarkannya jatuh dalam lubang yang menjerumuskannya.

Why Me? Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang