Chapter 3 : "This is Just The Beginning"

384 43 3
                                        


Rain menghela nafas. Begitu juga Niel. Mereka berdua seperti itu semenjak kejadian kemarin yang mengenaskan.

"Jadi kita harus pergi ke Kota Raschombery, ya?" Tanya Niel, membuka pembicaraan. Rain menganggguk. "Ya." Jawabnya pelan. Rain menghentikan langkahnya. Dia tampak sedang berpikir. Tanpa disadari, Niel sudah berjalan jauh meninggalkannya.

Niel pun menoleh, menyadari bahwa gadis di sebelahnya sudah menghilang. Segera, dia mengepalkan tangannya. "Gadis itu!"

Di lain tempat, Rain tampak bingung karena Niel tidak ada. Dia menggerutu dalam hati. "Akh! Bodoh, bodoh, bodoh! Kenapa dirimu menjadi seperti ini, Rain?!" Rain bergumam. Lagi, Rain menghela nafas.

Ya, hari ini dia tidak seperti dirinya. Semua itu karena kejadian kemarin. Tidak, Rain sudah biasa melihat darah dan pembunuhan selama ini, terlalu biasa. Dia menjadi terguncang seperti ini karena melihat lukisan batu dan tulisan di bawahnya. Ada perasaan aneh dalam diri Rain ketika ia melihatnya. Dan juga, sebuah firasat buruk.

Kakinya pun melangkah menuju suatu tempat. Tak lama, kakinya berhenti di depan suatu toko. Rain mengangkat sebelah alisnya, heran. Kenapa dia bisa sampai ke sini?

"Yah, sudahlah." Ucap Rain lalu dia pun masuk ke dalam.

"Ravan-chan? Itu kau?" Suara Karo yang berat lagi-lagi mengagetkannya. Rain mengelus dadanya. "Keluarlah, kakek." Kata Rain pelan. Karo muncul di hadapannya dengan sebuah buku di tangan kanannya.

"Tumben kau ke sini sendiri. Mana Niel-chan?" Tanya Karo seraya tersenyum. Senyuman kakek tua itu tampak sangat hangat, membuat Rain ingin memeluknya. Tapi itu tak bisa dia lakukan, karena sekarang, dia sudah cukup besar dan rasanya memalukan.

Rain menggelengkan kepalanya. "Entahlah." Jawabnya singkat. Karo menyadari sesuatu yang janggal. Dia pun mempersilahkan Rain untuk duduk.

Karo menjentikan jarinya dan sepiring kue kering tersedia di meja bundar tersebut. "Kudengar, Gerbang Clair itu gerbang yang palsu ya?" Sahut Karo. Rain terkejut sebentar, lalu mengangguk pelan.

"Kakek, apa kau tahu rute jalan ke Gerbang Marcloirsa?" Tanya Rain. Dia mengambil satu keping kue kering lalu memakannya. Karo menatap Rain dengan tatapan menerawang.

"Ya, harus melewati Kota Raschombery. Itu hanya satu-satunya rute." Jawab Karo. Rain menghela nafas, "Sudah kuduga." Gumamnya pelan.

"Ada apa, Ravan? Tidak biasanya kau seperti ini. Apa jangan-jangan...kau begini karena ingat Ayahmu? Atau karena kejadian itu?"

Rain menatap Karo tajam. "Jangan teruskan, Kakek."

Kini, Karo yang menghela nafas. "Sebaiknya kau melupakan masalahmu dengannya, Rain. Kau juga harus memberanikan diri. Jika kau ingin pergi ke Gerbang Marcloirsa, maka otomatis kau juga akan melewati Kota Raschombery. Rain, ini semua baru awal. Hanya awal. Ingat itu." Ucap Karo serius.

Rain menatap kakeknya. Lalu dia tersenyum. "Terima kasih."

Rain memang berkata seperti itu tapi nyatanya, dalam hati, dia masih resah. Rain memiliki masa lalu suram dengan Ayahnya. Pikirannya dengan Ayahnya sangat bertolak belakang sehingga sangat wajar jika mereka berdua sering bertengkar. Walaupun begitu, tak bisa dipungkiri bahwa mereka sangat dekat dulu.

Di tengah keheningan tersebut, terdengar suara pintu yang terbuka dengan paksa. Rain sampai terlonjat kaget. Sedangkan Karo, dia hanya menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.

"Di sini kau rupanya, Rain!" Suara Niel yang disertai amarah membuat Rain merinding. Perlahan, Rain membalikan kepalanya. Hawa dingin sudah dirasakan Rain. Membuatnya semakin takut.

MarcloirsaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang