Chapter 22 : "Niel's Reason"

224 16 2
                                        

Rain melihat ke bulan yang terang benderang dan mengingat kejadian sebelum mereka memutuskan untuk pergi dari kota Jugnës tadi sore.

"Kita mau langsung pergi? Tidak menginap dahulu?" tanya Rain, memecah keheningan.

Haafu hanya mengangkat bahu. Sera mengusap tengkuknya. Niel dan Reus saling bertatapan lalu menatap Rain.

"Sepertinya, sih, tidak. Kita menginapnya di hutan di dekat sini saja. Tidak ada yang keberatan 'kan?" kata Reus dengan ekor mata yang melirik Sera dan Haafu.

Sera, yang mengerti akan arti dari tatapan Reus, mengangguk. "Iya, tidak apa."

Haafu hanya mengangkat bahu, tapi ia juga tidak keberatan. Alhasil, mereka hanya membeli makanan dan mulai pergi meninggalkan Kota Jugnës.

Rain menarik napas lalu membuangnya dengan perlahan. Perjalanan menuju hutan di dekat Kota Jugnës ternyata memakan waktu sampai malam hari.

Ya, mereka semua kini berada di dalam Hutan Fliks, hutan pembatas antara Kota Jugnës dengan Kota Dcërlnes.

Saat ini, Niel, Haafu, dan Reus sedang mencari kayu bakar untuk dijadikan api unggun. Sedangkan Rain dan Sera menunggu

Sera duduk di sebelah Rain. "Akhirnya, kita akan sampai, ya," gumam Sera yang didengar Rain.

"Aku kira kau ingin mengeluh capek," ujar Rain.

Sera menatap Rain tidak percaya. Dia melipatkan tangan di depan dada lalu menggembungkan pipi. "Jahatnya."

Rain tertawa kecil. Dia diam saat mendengar suara gemersik dari semak belukar. Lalu muncul lah Niel yang membawa beberapa kayu. Diikuti Reus dan Haafu di belakangnya.

Tanpa basa basi, Niel serta Reus menyusun kayu-kayu itu dan Rain mengeluarkan kekuatan apinya. Api unggun pun terbentuk.

Sera menggosok-gosokkan kedua tangannya lalu mendekatkannya ke api unggun yang menyala. Haafu merapatkan pakaiannya. Reus mengambil satu batang kayu lalu melemparnya ke dalam api unggun. Rain menunduk, tapi sesekali melirik ke Niel yang sedang termenung.

Canggung.

Sera memajukan bibir. "Ah! Kalian ini! Kenapa jadi pada diam, sih?! Aku tidak tahan, tahu!" teriaknya.

Sontak, semua mata meliriknya.

"Aku juga sama sepertimu, Sera," sahut Rain.

Tidak disangka, Niel menghela napas. Dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Maaf. Karena aku kita jadi begini," katanya lalu tersenyum kecut.

"Tidak apa, Niel. Kami mengerti kalau kau belum siap untuk menceritakan ini semua pada kami. Yang pasti, kami akan menunggumu hingga kau siap," ucap Rain lembut disertai senyuman.

Reus menepuk bahu Niel, membuat Niel menoleh dan mendapati Reus yang sedang tersenyum mengerti. Sama dengan Sera dan Haafu. Mereka semua mengerti. Mereka akan menunggu, karena mereka tahu, memaksakan kehendak seseorang itu tidak enak.

MarcloirsaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang