Akhirnya, Rain dan Niel keluar dari Hutan Musim. Walaupun lumayan memakan banyak waktu. Tapi semua itu sudah terbayarkan karena itu juga yang membuat Rain dan Niel kembali seperti semula. Tidak diam-diaman lagi.
Keduanya menatap kota yang berada di depan mereka. Kagum dan takjub. Itulah perasaan yang cocok untuk mengekspresikan perasaan mereka.
Kota Vanity. Sebuah kota yang membuat banyak orang tertarik. Daya tariknya bukan hanya karena pemandangannya, tapi juga fasilitasnya yang lumayan mewah. Ekonomi di kota ini juga tergolong sangat makmur. Tidak ada seorang pengemis pun yang terlihat di sini. Kota Vanity ini sedikit luas. Tapi jika tidak berhati-hati, kau bisa tersesat.
"Wow..." Rain berdecak kagum sedangkan Niel hanya bersiul. "Sepertinya aku akan betah tinggal di sini." Kata Niel lalu menatap Rain. Gadis di sebelahnya mendengus. "Apa?" Tanyanya garang.
Niel menaikan alisnya. "Kukira kau akan mencegatku."
Rain memutar bola matanya. "Untuk apa aku mencegatmu kalau ternyata ucapanmu itu hanyalah tipuan belaka?" Rain pun berjalan, meninggalkan Niel yang tersenyum miring. Rain sudah kembali menjadi Rain yang biasa, pikir Niel.
Mereka pun mengelilingi Kota Vanity untuk mencari penginapan yang dapat mereka tempati sementara. Tak lama kemudian, Rain dan Niel mendapatkan penginapan yang murah, nyaman, dan bagus. Sayangnya, hanya ada 1 kamar tersisa dan jadilah mereka tidur satu kamar.
Rain menatap nomor yang menggantung dikunci kamar yang sedang ia pegang. "Kamar 143. Udah ketemu belum?" Mata Rain beralih ke Niel yang sedang membaca nomor tiap kamar.
"Ini kamar 139, berarti..." Niel menunjuk kamar yang berada di pojokan sana, "...kamar kita di situ." Ujarnya. Rain sedikit bergidik ngeri ketika Niel mangatakan 'kamar kita'.
Rain bergegas mendekati kamar itu dan membuka pintu yang masih terkunci. Tentu, sebelumnya, dia mengecek dulu apa kamar ini benar-benar kamar 143, dan benar.
Pintu pun terbuka dan memperlihatkan ruangan yang sangat luas. Rain sampai cengo karena dia tidak bisa mengenali bahwa ruangan luas itu adalah sebuah kamar. Kenapa? Karena di sana terdapat ruang tamu kecil. Perasaan Rain semakin lega dan senang begitu tahu bahwa kamar tersebut bukanlah onebed tapi twobed.
"Senang kan? Yah, kalaupun ternyata onebed, aku pasti langsung tidur di karpet." Ujar Niel, membuat Rain nyengir. Niel berjalan masuk lalu duduk di sofa yang tersedia-dengan gaya sok pemilik rumah.
"Ngomong-ngomong, ini kelas berapa? Gak mungkin kelas 3, kan?"Tanya Rain. Dia melepaskan tas ranselnya lalu ikut duduk, berhadapan dengan Niel. "Kelas 2." Jawab Niel singkat.
Rain seketika melotot, bola matanya seperti ingin meloncat keluar. "Serius? Dapet banyak uang darimana? Mencuri? Berjudi?" Rain memang wajar untuk menanyai hal itu karena harga kamar kelas 2 itu lumayan mahal.
Niel mendengus kesal. "Sembarangan. Ini tabunganku, tahu." Cibir Niel. Dia memalingkan wajah dengan kesal. Rain hanya terkikih geli.
Rain bangkit, lalu beranjak ke tempat tidur. "Sudah mau tidur? Gak mandi?" Tanya Niel begitu mengetahui Rain sudah tiduran ranjang. "Males. Duluan, ya." Kata Rain kemudian langsung menutup wajahnya dengan selimut. Pergi tidur.
"Huh, langsung tidur. Aku bisa melakukan sesuatu padamu, lho." Bisik Niel.
"Jika kau menyentuhku, kau akan tahu akibatnya."
Niel tidak dapat melakukan apapun lagi selain tertawa.
●○●
Pagi sudah menjelang siang. Berbeda dengan tadi pagi, kini banyak orang yang berlalu lalang ataupun melakukan aktivitas mereka masing-masing. Ada yang berjualan, membeli sesuatu, atau sekadar berjalan-jalan seperti Rain dan Niel lakukan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Marcloirsa
FantasiGerbang Clair. Menurut legenda, jika kau memasuki gerbang ini, maka kau akan berada di suatu tempat legendaris yang menyimpan sesuatu yang dapat mengabulkan permohonanmu. Tapi sesuatu yang tidak terduga terkuak. Gerbang Clair adalah gerbang palsu. M...
